Skenario Perang Ekonomi AS Vs Iran dan Strategi 'Double Blokade' Teluk
Darwin Sijabat August 21, 2026 03:48 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM – Konfrontasi geopolitik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi memasuki babak baru yang kian kompleks. 

Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengalihkan strategi militer menjadi perang ekonomi skala besar dinilai para pengamat sebagai langkah balasan atas sikap Teheran yang semakin ofensif di kawasan.

Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana, Efatha Filomeno, mengamati langkah agresif Iran dan proksinya di wilayah strategis, seperti Kurdistan, Uni Emirat Arraya (UEA), Yaman, hingga kawasan Eropa, telah dibaca Washington sebagai ancaman yang sangat serius.

Amerika Serikat yang semula mengandalkan serangan militer cepat kini menggeser fokusnya ke tekanan ekonomi jangka panjang untuk menguras kapasitas tempur Teheran.

"Respon tersebut akhirnya dibaca oleh Amerika sebagai sinyal yang cukup serius," ujar Efatha dalam dialog Kompas Petang, Kamis (20/8/2026).

"Awalnya kan mereka pakai strategi pukul cepat begitu, tapi pukul cepat ini nanti akan dijalankan oleh Israel," tambah Efatha menduga adanya pembagian peran antara Washington dan Tel Aviv.

Selain itu, ancaman militer di Selat Hormuz dan klaim pengembangan teknologi persenjataan Iran tidak dapat dipandang sekadar gertakan psikologis semata.

"Dan kita tahu Iran sedang mengembangkan senjata rudal balistik. Meskipun belum ada, tetapi klaimnya bisa mencapai 15.000 km. Itu bisa mencapai wilayah New York dan juga sampai ke California," jelas Efatha.

"Meskipun ini hanya psikologis tapi senjata-senjata baru sudah mulai keluar. Tekanan ekonomi ini adalah upaya untuk menghentikan agresivitas dari Iran," lanjutnya.

Potensi Balasan Proksi Iran dan Ancaman 'Double Blokade'

Di sisi lain, Guru Besar Keamanan Universitas Internasional dari UKI, Angel Damayanti, mengingatkan sanksi ekonomi serta pembekuan aset rekening di bank internasional sebenarnya telah lama dilakukan oleh AS. 

Namun jika skala tekanan ini ditingkatkan, Iran diyakini akan memberi perlawanan sengit melalui jaringan proksinya.

"Sejauh ini kan sebenarnya Amerika juga memang sudah melakukan tekanan ekonomi ya, dengan sanksi-sanksinya dengan memblokir atau membekukan rekening Iran di sejumlah bank," kata Angel.

Angel menilai keberadaan pangkalan militer AS dan sekutunya di kawasan Teluk berada dalam posisi sangat rawan serangan balik. 

Baca juga: Panglima Iran Peringatkan Negara Teluk: Bantu AS Sama dengan Berperang

Baca juga: Skandal Mahasiswa Jalur Mandiri: Rektor Unsoed dan Politisi Gerindra Terjaring OTT KPK

Jika Amerika Serikat memaksakan dominasinya di Selat Hormuz, Iran diperkirakan akan memperketat pertahanan maritim menggunakan benteng rudal dan penanaman ranjau laut.

"Sehingga ketika dengan keras bertemu, ya sudah itu akan terus terjadilah perangnya," peringat Angel.

Menutup analisisnya, Efatha memproyeksikan bahwa perang ekonomi AS akan menyasar jalur penyelundupan minyak, transaksi tunai, perusahaan penukaran uang, hingga mengetatkan pendaftaran bendera kapal. 

Langkah represif ini dinilai dapat memicu fenomena double blockade yang melumpuhkan lalu lintas pelayaran dunia.

"Double blokade ini memang membuat nyata bahwa kapal pelintasan yang ada hari ini itu memang berkurang cukup drastis," papar Efatha.

"Tampaknya ini merupakan strategi kekacauan dimainkan Amerika nanti agar dunia memberikan fee ya kepada Amerika untuk menjaga keamanan."

"Jadi kita juga enggak boleh lupa ada motif kepentingan Amerika juga di belakang yang sengaja membuat situasi ini jadi jelek dan akhirnya ini yang membuat tampaknya semua itu terjerembap dalam lumpur hisap," pungkas Efatha.

Baca juga: Gubernur Jambi Menyambut Hangat Audiensi BPW BAMAG LKK Indonesia Provinsi Jambi

Baca juga: Sosok Politisi Gerindra yang Terseret OTT Rektor Unsoed: Adhi Wiharto

Baca juga: Safari Subuh di Masjid Al Hidayah, Bupati Anwar Sadat Serahkan Bantuan ZIS Rp10 Juta

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.