Laporan Wartawan TribunJatim.com, Isya Anshori
TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Dugaan keracunan dialami ratusan siswa di Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hasil uji laboratorium akhirnya mengungkap penyebab keracunan.
Baca juga: Penutupan SDN Setono di Ponorogo Hasil dari Kesepakatan Wali Murid & Komite, Muridnya Sisa 6
Sampel makanan berupa tumis buncis dan wortel yang dibagikan dalam program MBG terbukti mengandung kontaminan bakteri.
Temuan tersebut diketahui setelah sampel menjalani pemeriksaan laboratorium.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dr Ahmad Khotib, membenarkan hasil pemeriksaan uji makanan tersebut.
"Alhamdulillah sudah. Hasilnya ada kontaminan bakteri pada sampel makanan, tumis buncis dan wortel," ujar Khotib saat dikonfirmasi, Jumat (21/8/2026) siang, pukul 12.00 WIB.
Bakteri yang ditemukan dalam makanan tersebut merupakan Bacillus cereus.
Bakteri ini diketahui dapat menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan, seperti mual, muntah, diare, hingga sakit perut.
Temuan tersebut sejalan dengan keluhan yang dialami para siswa setelah mengonsumsi menu MBG pada Kamis (23/7/2026) lalu.
Dimana saat itu, sejumlah siswa mulai mengalami mual, pusing, muntah, diare hingga sakit perut.
Meski hasil laboratorium telah menemukan adanya kontaminasi bakteri pada sampel makanan, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri masih melakukan investigasi epidemiologi untuk mengetahui rangkaian kejadian secara lebih menyeluruh.
Investigasi tersebut diperlukan untuk memastikan faktor yang memungkinkan makanan terkontaminasi.
Beberapa kemungkinan yang menjadi perhatian antara lain lamanya makanan berada pada suhu ruang, paparan lingkungan, hingga proses kebersihan saat pengolahan dan penyajian.
"SPPG sudah disuspend, selanjutnya jadi kewenangan BGN," tandas Khatib.
Kasus ini sebelumnya menyebabkan sedikitnya 211 siswa dari sejumlah satuan pendidikan di Kecamatan Kras mengalami gangguan kesehatan.
Mereka berasal dari SMPN 1 Kras, MI Barokah, SDN Purwodadi, TK Kusuma Mulya Krandang, SDN Jambean, serta penerima Program 3B di Desa Krandang dan Desa Purwodadi.
Gangguan kesehatan mulai dilaporkan setelah para siswa menyantap menu MBG yang dibagikan pada 23 Juli 2026.
Keluhan kemudian ditemukan pada siswa dari beberapa sekolah yang menerima makanan dari penyedia yang sama.
Salah seorang siswa sebelumnya mengaku mengalami mual tidak lama setelah menyantap makanan.
Menu yang diterimanya saat itu terdiri dari sayur tumis wortel, tahu goreng, telur rebus, dan empat butir anggur hijau.
Baca juga: Terbangun Gegara Terasa Panas di Kamarnya, Ravi Baru Sadar Rumahn Ibunya Terbakar Akibat Obat Nyamuk
Menyusul kejadian tersebut, Pemerintah Kabupaten Kediri bersama instansi terkait langsung melakukan penelusuran dan mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium.
Pemkab Kediri juga mengambil langkah penghentian sementara atau suspend terhadap operasional SPPG Purwodadi.
Kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada Selasa (28/7/2026), setelah pemerintah daerah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN).
Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, M Solikin, sebelumnya mengatakan, penghentian sementara dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian sembari menunggu hasil pendalaman tim gabungan.
"Kami sudah berkoordinasi dengan BGN untuk dilakukan suspend," kata Solikin.
Kini, setelah hasil pemeriksaan laboratorium menemukan adanya kontaminasi bakteri pada sampel makanan, SPPG Purwodadi masih berstatus suspend.
Sebelum dapat kembali beroperasi, evaluasi terhadap standar pengolahan makanan, kebersihan, serta pemenuhan persyaratan higiene sanitasi menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Sementara itu, dari sisi kondisi siswa, pemerintah daerah sebelumnya menyampaikan sebagian besar siswa yang mengalami gangguan kesehatan telah membaik dan kembali beraktivitas seperti biasa.