TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ketidakpastian geopolitik global serta dinamika pasar minyak dunia menuntut industri hulu minyak dan gas bumi (migas) untuk mengambil keputusan secara cepat dan akurat.
Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan digitalisasi dewasa ini sontak menjadi krusial untuk menjaga efisiensi dan ketahanan energi nasional.
Hal tersebut ditegaskan Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Luky A. Yusgiantoro, saat didapuk jadi keynote speaker dalam Seminar Nasional Industri Hulu Migas 2026 yang digelar di Auditorium Universitas Proklamasi 45 (UP45), Yogyakarta, Jumat (21/8/2026).
Di hadapan ratusan civitas akademika, ia pun menyoroti dinamika dunia yang diwarnai oleh kondisi Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity (VUCA) serta Brittle, Anxious, Non-linear, and Incomprehensible (BANI).
Menurutnya, fluktuasi harga minyak mentah, nilai tukar mata uang, hingga harga material pendukung seperti baja sangat dipengaruhi oleh konflik geopolitik global di berbagai belahan dunia.
"Keputusan yang perlu diambil, khususnya oleh sektor migas, harus cepat. Geopolitik dunia mempengaruhi keputusan kita hari demi hari. Oleh karena itu, pemanfaatan digitalisasi dan AI sangat penting agar industri ini bisa bertahan," ujarnya.
Luky menceritakan pengalamannya saat meninjau fasilitas penyedia teknologi industri hulu migas tahun lalu, di mana integrasi sistem AI terbukti mampu memangkas waktu analisis data yang semula memakan waktu 2 - 3 bulan menjadi hanya beberapa hari.
Peningkatan efisiensi waktu dan akurasi data ini secara langsung meminimalkan risiko operasional, termasuk dalam kegiatan eksplorasi dan pengeboran sumur migas.
Baca juga: Bakal Tempati Lahan SG, Koperasi Merah Putih Giwangan Digadang Punya Gerai Terbesar di DIY
Ia pun berpesan agar para akademisi di lingkungan kampus tidak bersikap resisten terhadap perkembangan teknologi tersebut, dan dapat memanfaatkannya secara positif dalam proses pembelajaran.
"Generasi muda saat ini harus mempelajari AI. Tidak hanya belajar cara mengebor atau membangun fasilitas, tetapi utamanya bagaimana membangun dan memanfaatkan AI. Apalagi, AI ini hambatan masuknya sangat rendah, siapapun bisa menggunakannya untuk mengubah pola pikir dan mempercepat pengambilan keputusan yang akurat," tegasnya.
Sebagai bukti komitmen digitalisasi, SKK Migas sendiri telah mengoperasikan Integrated Operation Center (IOC) yang memantau operasional hulu migas secara real-time.
Dalam kesempatan tersebut, Luky juga membuka pintu bagi para mahasiswa dan akademisi di Yogyakarta yang ingin melihat langsung tata kelola IOC di kantor SKK Migas.
"Tentu kami persilakan. Kalau nanti kalau seandainya mahasiswa-mahasiswi ingin melihat bagaimana IOC itu berjalan atau berkembang, silakan nanti sampaikan saja kepada kami, nanti akan kami perlihatkan," ucapnya.
Selain Sekretaris SKK Migas Luky Agung Yusgiantoro yang memberikan keynote speech, seminar bertajuk "Inovasi dan Digitalisasi Industri Migas: Kunci Efisiensi dan Ketahanan Energi di Era Disrupsi Global" ini juga menghadirkan deretan narasumber praktisi dari industri hulu migas nasional.
Antara lain, Andri Kristianto (Community Investment Manager Prime Natuna EP), hingga Widi Santuso (Vice President Commercial, Supply Chain & Government Relations Prima Energy). (*)