Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Sejumlah pedagang Pasar Jongke Solo, Jawa Tengah, menduga sistem pengklasteran komoditas setelah revitalisasi menjadi salah satu penyebab menurunnya jumlah pembeli.
Penempatan pedagang berdasarkan jenis dagangan dinilai membuat pengunjung harus berjalan lebih jauh sehingga enggan berbelanja ke banyak lokasi.
Pasar Jongke yang telah direvitalisasi dan digabung dengan Pasar Kabangan kini memiliki dua bangunan utama dengan lebih dari 1.300 kios dan los.
Namun, kondisi pasar disebut belum seramai sebelum penataan ulang dilakukan.
Pedagang sayur, Sarini, menilai pengelompokan pedagang berdasarkan jenis barang dagangan berpengaruh terhadap minat pembeli untuk berbelanja.
"Pengaruh, iya mungkin pengaruhnya sepi terlalu jauh juga. Mungkin membuat pembeli males belanja," jelas dia, Jumat (21/8/2026).
Baca juga: 1,5 Tahun Dibangun Pasar Jongke Masih Sepi Pengunjung, Pemkot Solo Berniat Perbanyak Event
Menurut Sarini, pedagang sayur dan pedagang daging kini berada di gedung yang berbeda.
Kondisi tersebut membuat pembeli harus berpindah lokasi cukup jauh untuk memenuhi seluruh kebutuhan belanja mereka.
Ia mengatakan, aktivitas pembeli di area sayur hanya ramai pada jam-jam tertentu, terutama sejak dini hari hingga pagi.
Keluhan serupa disampaikan Markamah, pedagang pakaian yang telah berjualan lebih dari satu dekade di kawasan tersebut.
Ia mengaku jumlah pengunjung yang melintas di depan lapaknya jauh berkurang dibanding sebelum revitalisasi.
"Saya sudah 10 tahun lebih berjualan. Kalau sebelum itu (revitalisasi) tempat dagangan saya dilewati banyak pengunjung dari pedagang maupun pengunjung pasar. Jadi ketika mereka lewat tempat saya biasanya ada yang mampir lihat-lihat terus beli," ungkap Markamah.
Baca juga: di Balik Sepinya Pasar Jongke Solo, Pedagang Ungkap Fakta Pembeli Lebih Banyak Belanja di Luar Pasar
Menurutnya, saat ini hanya pengunjung yang memang berniat membeli pakaian atau menuju musala yang melewati area tempatnya berjualan.
"Kalau sekarang, kalau nggak memang niat beli baju atau mau ke musala ya nggak lewat sini," imbuh dia.
Selain faktor pengklasteran, pedagang juga menilai masih adanya pedagang yang berjualan di luar pasar turut memengaruhi jumlah pembeli yang masuk ke dalam area Pasar Jongke.