Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Albert Aquinaldo
POS-KUPANG.COM, MBAY — Helm yang melekat di kepala Yohanes Brachmans Ngebu Lodo bukan tanda ia sedang berada di lokasi konstruksi. Helm itu menjadi pelindung sederhana ketika ia harus memasuki ruang radiologi RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, di tengah ancaman gempa susulan yang belum berhenti.
Setiap kali melangkah masuk ke ruangan tersebut, Yohanes sadar ada risiko yang harus dihadapi. Namun, di sisi lain, ada pasien yang membutuhkan pelayanan dan kepastian tentang kondisi kesehatan mereka.
Di antara rasa takut dan tanggung jawab, Yohanes memilih tetap bekerja.
" Kami pakai helm ini untuk pertolongan pertama apabila terjadi gempa susulan. Kalau seandainya bangunan rubuh, jadi kami bisa antisipasi," ujar Yohanes di ruang radiologi RSUD Aeramo, Jumat (21/8/2026).
Sejak gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026), suasana di RSUD Aeramo berubah. Sejumlah pelayanan dipindahkan ke tenda darurat karena beberapa ruangan mengalami kerusakan.
Namun, ruang radiologi masih tetap menjadi salah satu tempat pelayanan yang berjalan di dalam gedung. Meski hanya mengalami keretakan ringan, kekhawatiran tetap ada. Setiap getaran kecil membuat para petugas waspada.
Bagi Yohanes, helm tersebut bukan sekadar alat pelindung kepala. Helm itu menjadi pengingat bahwa setiap hari ia bekerja dalam situasi yang tidak biasa.
Pada Kamis (20/8/2026), kekhawatiran itu benar-benar terjadi. Saat sedang menangani seorang pasien, gempa susulan kembali mengguncang. Tanpa menunggu lama, Yohanes bersama pasien yang sedang diperiksa langsung berlari keluar ruangan untuk menyelamatkan diri.
Namun setelah situasi kembali tenang, ia kembali menjalankan tugasnya. Sebab, di balik setiap pemeriksaan radiologi, ada pasien yang menunggu jawaban atas kondisi yang mereka alami.
Rekan Yohanes, Yansen Beato Dou, juga merasakan perjuangan yang sama. Sejak gempa terjadi, ia bersama tim telah menangani sekitar 30 pasien yang membutuhkan pemeriksaan radiologi.
Sebagian besar korban mengalami luka akibat tertimpa material bangunan. Ada yang mengalami patah tulang pada bagian tangan, kaki, dada, hingga kepala.
"Kepala juga ada, akibat tertimpa material bangunan," kata Yansen.
Bagi para radiografer RSUD Aeramo, pekerjaan mereka bukan hanya mengoperasikan alat pemeriksaan. Mereka menjadi bagian dari rantai pertolongan bagi korban yang membutuhkan kepastian dan penanganan medis.
Saat sebagian orang memilih menjauh dari bangunan karena takut gempa, Yohanes dan rekan-rekannya justru harus mendekat demi melayani pasien.
Mereka bekerja dengan perlindungan seadanya, mengenakan helm sambil tetap memastikan pemeriksaan berjalan.
Yohanes berharap ke depan tersedia mobil rontgen dengan peralatan lengkap yang dapat digunakan dalam kondisi darurat. Fasilitas tersebut dinilai penting agar pelayanan pemeriksaan dapat lebih mudah menjangkau korban di lokasi pengungsian.
"Kami sangat membutuhkan itu," ujar Yansen.
Kisah Yohanes menjadi gambaran bahwa perjuangan menghadapi bencana tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berada di lokasi evakuasi.
Di ruang radiologi RSUD Aeramo, seorang petugas kesehatan berdiri dengan helm di kepala dan tanggung jawab besar di pundaknya.
Ia mungkin merasa takut seperti orang lain. Namun, ketika pasien membutuhkan pertolongan, ia memilih tetap berada di sana.
Di tengah bumi yang masih bisa kembali berguncang, para tenaga kesehatan RSUD Aeramo menunjukkan satu hal sederhana: rasa kemanusiaan tetap harus berjalan. (bet)