TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Kementerian Pariwisata melihat perubahan perilaku wisatawan di tengah kondisi geopolitik global.
Masyarakat masih memiliki minat tinggi untuk berwisata, tetapi mulai menggeser preferensi dari perjalanan jarak jauh ke destinasi yang lebih dekat.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan pergeseran tersebut terlihat dari meningkatnya tren micro-tourism, termasuk staycation dan kunjungan ke destinasi yang menawarkan atraksi baru.
"Demand itu tetap tinggi. Jadi orang ingin berwisata itu tetap tinggi. Yang berubah adalah behavior-nya, tabiatnya, atau preferensinya," ujar Ni Made.
Hal itu disampaikan Ni Made dalam ajang ASTINDO Travel Fair (ATF) 2026 di Main Atrium PIK Avenue, Jakarta.
Menurutnya, jika sebelumnya wisatawan cenderung memilih perjalanan jauh ke Amerika Serikat, Eropa, bahkan Kutub, kini sebagian mulai memilih destinasi yang lebih dekat.
"Jadi sekarang yang kami lihat ada shifting, perubahan ke dekat-dekat saja. Jadi bahkan terlihat juga untuk wisatawan nusantara. Jadi yang disebut micro-tourism. Mereka dekat-dekat, ada yang staycation, ada yang mencari atraksi yang baru, yang lain, yang tidak mainstream," katanya.
Ni Made menilai perubahan tersebut perlu menjadi perhatian para pelaku industri pariwisata agar tetap relevan dengan kebutuhan konsumen, khususnya generasi Z dan milenial yang memiliki karakter serta preferensi perjalanan berbeda.
Dia mengatakan kemudahan menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong masyarakat berwisata. Mulai dari akses transportasi, akomodasi, hingga daya tarik wisata perlu dikemas secara menarik.
"Experience adalah kunci sekarang. Bisa saja dia pergi ke satu tempat yang sudah biasa, tetapi experience-nya berbeda," ujarnya.
Di tengah pelemahan perjalanan internasional, Ni Made mengatakan pergerakan wisatawan nusantara justru menunjukkan pertumbuhan.
Berdasarkan data yang disampaikannya, pergerakan wisatawan nusantara pada Januari-Juni 2026 meningkat 2,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Hampir 107,2 juta masyarakat Indonesia tercatat melakukan perjalanan di dalam negeri.
"Untuk wisatawan nusantara ini luar biasa. Memang awal aspek ini pergerakan di nusantara year-on-year-nya meningkat, month-on-month-nya juga meningkat walaupun sedikit," katanya.
Dia juga menyebut jumlah wisatawan mancanegara pada Juni 2026 mencapai sekitar 6,38 juta, dengan pertumbuhan kumulatif Januari-Juni sekitar 5,7 persen.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno mengatakan data penjualan perjalanan menunjukkan pasar domestik Indonesia masih tumbuh di tengah tekanan ekonomi global dan geopolitik.
Selama Januari-Juli 2026, penjualan internasional agen perjalanan Indonesia secara year-on-year turun 2,8 persen. Sebaliknya, penjualan domestik tumbuh 1,68 persen.
"Angka ini lebih dari sekadar statistik. Ini memberi tahu kita bahwa kita menghadapi lanskap yang kompleks yang dibentuk oleh pergeseran daya beli konsumen, biaya operasional yang berfluktuasi, dan perilaku perjalanan yang berkembang dalam lingkungan global yang sangat kompetitif," ujar Pauline.
Menurut dia, agen perjalanan kini tidak lagi sekadar berperan sebagai tempat pemesanan tiket dan akomodasi. Agen perjalanan dituntut menjadi penasihat perjalanan yang mampu memberikan solusi secara menyeluruh.
"Di era ChatGPT atau era AI ini, agen perjalanan profesional berdiri lebih kuat dari sebelumnya sebagai solusi one-stop shopping solution yang utama," katanya.
ASTINDO Travel Fair 2026 ini didukung penuh oleh China Cultural Centre Kuala Lumpur, Nihao China, Friendly Shandong, China Gansu Culture and Tourism, Korea Tourism Organization, Macao Government Tourism Office, dan Taiwan Tourism Administration.
Baca juga: Malaysia Airlines Kembali Jadi Preferred Airline Partner di ASTINDO Travel Fair 2026
Serta kerjasama yang erat dengan Hong Kong Tourism Board, Macao Leisure Tourism Service Innovation Association dan StarDream Cruises.