25 Tahun Hidup Membiara, 15 Suster RVM Syukuri Kesetiaan dan Kasih Karunia Tuhan
Ryan Nong August 22, 2026 12:19 AM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei

POS-KUPANG.COM, KUPANG- Sebanyak 15 Suster Religious of the Virgin Mary (RVM) Distrik Indonesia-Kupang merayakan syukuran 25 tahun hidup membiara dengan penuh rasa syukur atas perjalanan panggilan yang telah dilalui.

Perayaan tersebut menjadi momentum untuk mengenang berbagai pengalaman suka dan duka, sekaligus memperbarui komitmen dalam mengabdikan diri kepada Allah dan melayani sesama.

Misa perayaan 25 tahun itu dipimpin langsung oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni di Gereja Sta. Maria Assumpta Kupang, Jumat (21/8/2026).

Baca juga: Syukuran 25 Tahun Hidup Membiara, Uskup Agung Kupang Ajak 15 Suster RVM Perbarui Komitmen

Salah satu Suster RVM yang memberikan sambutan, Suster Maria Agustina Mariana Rona, RVM, mengatakan perjalanan 25 tahun hidup membiara tidak selalu diwarnai keberhasilan dan sukacita. Ada pula kegagalan, tantangan, kehilangan, serta masa-masa ketika semangat dan kasih terasa melemah.

Namun, menurutnya, ada satu benang merah yang tidak pernah terputus dalam perjalanan tersebut, yakni kesetiaan Allah yang senantiasa mencintai dan mendampingi.

“Perjalanan angkatan kami adalah kisah tentang rahmat, kesetiaan, dan penyertaan Tuhan. Kami memulai langkah awal pada tahun 1998 di Soe sebagai postulan sebanyak 33 orang. Kami membawa harapan, semangat, dan impian untuk mengikuti panggilan-Nya,” kata Suster Maria Agustina.

Suster Maria Agustina menyebut, dalam perjalanannya, dua orang suster memilih mengundurkan diri. Memasuki masa novisiat, jumlah mereka menjadi 21 orang.

Dalam proses pendalaman dan pemurnian panggilan itu, dua orang kembali mengakhiri perjalanan panggilan, sementara satu orang menjalani perpanjangan masa persiapan.

Menurutnya, pengalaman tersebut mengajarkan bahwa panggilan hidup membiara bukanlah perlombaan untuk menjadi yang tercepat, melainkan perjalanan untuk semakin setia mendengarkan kehendak Tuhan.

Hingga akhirnya, lanjutnya, 18 orang mengikrarkan kaul pertama pada 22 Agustus 2001 di Gereja Santa Maria Asumpta Kota Bandung. Kaul tersebut menjadi awal komitmen yang lebih mendalam untuk mengabdikan hidup kepada Allah dan melayani sesama melalui tiga kaul, yakni kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan.

Karena jumlah mereka cukup banyak, pengikraran kaul kekal kemudian dibagi dalam dua kelompok, yakni pada 2009 dan 2010 di Manila, Filipina.

Dari perjalanan tersebut, 15 suster yang kini merayakan 25 tahun hidup membiara tersebar dalam pelayanan di sejumlah negara. Dua suster bertugas di Filipina, 10 suster bertugas di Indonesia, dan tiga lainnya bertugas di Italia.

Dalam perjalanan setelah mengikrarkan kaul kekal, dua orang kembali memilih mengundurkan diri. Sementara itu, pada 20 Januari 2021, mereka mengalami kehilangan mendalam setelah Suster Maria Susan Rapat dipanggil Tuhan kembali kepada Bapa di surga.

“Kepergiannya meninggalkan luka, tetapi juga menjadi kesaksian iman bahwa hidup kita semua pada akhirnya bermuara pada pertemuan abadi dengan Sang Pemilik kehidupan,” katanya.

Suster Maria Agustina menegaskan, perayaan 25 tahun tersebut bukan sekadar perayaan angka atau lamanya waktu hidup membiara. Lebih dari itu, angka 25 tahun menjadi lambang kesetiaan Allah yang tidak pernah berubah.

Ia mengakui, selama 25 tahun menjalani panggilan, masih terdapat banyak kekurangan dalam kesetiaan dan ketaatan. Ada kalanya mereka lebih mengandalkan kemampuan diri sendiri daripada mengandalkan Tuhan.

“Ada saat-saat ketika semangat melemah dan kasih menjadi dingin. Namun Tuhan tidak pernah berhenti menunggu dan memulihkan kami. Belas kasih-Nya selalu memberi kesempatan kepada kami untuk memulai kembali,” ungkapnya.

Dengan tema perayaan “Semua Karena Kasih Karunia Tuhan”, kelima belas suster tersebut menyadari bahwa seluruh perjalanan hidup dan pelayanan yang telah dijalani merupakan anugerah Tuhan, bukan semata-mata hasil kemampuan, kecerdasan, maupun kesalehan manusia.

“Kami hanya menjawab undangan-Nya dengan iman, sementara Allah sendiri yang memampukan kami untuk terus melangkah,” tuturnya.

Dalam perjalanan panggilan tersebut, mereka juga menemukan teladan dalam diri Bunda Maria yang dengan penuh iman menjawab panggilan Allah.

Maria, kata dia, tidak mengetahui seluruh jalan yang akan ditempuhnya, tetapi tetap menyerahkan diri dengan berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu.”

Menurutnya, kehidupan membiara juga mengajarkan untuk terus mengatakan “iya” kepada Tuhan setiap hari, termasuk ketika masa depan belum jelas dan berbagai tantangan harus dihadapi.

“Dari Maria kami belajar bahwa kesetiaan bukan berarti tidak pernah mengalami kesulitan, tetapi tetap tinggal bersama Allah dalam setiap keadaan,” katanya.

Selain Bunda Maria, para suster juga menjadikan teladan pendiri mereka, Bruder Ignasius dari Santo Santo, sebagai inspirasi dalam menjalani panggilan. Dalam segala keterbatasannya, Bruder Ignasius dinilai berani menyerahkan seluruh hidup kepada penyelenggaraan ilahi.

Semangat pelayanan kepada Allah tersebut menjadi dasar bagi para suster untuk menjalani hidup dalam kesederhanaan, kerendahan hati, penyerahan diri, serta kesetiaan terhadap kehendak Allah.

“Keberhasilan bukan diukur dari proyek yang dikerjakan, melainkan dari kesetiaan untuk membiarkan Allah berkarya melalui hidup yang dipersembahkan,” ujarnya.

Selama 25 tahun berkarya, para suster mengakui telah melewati berbagai pengalaman. Ada masa penuh sukacita ketika pelayanan menghadirkan harapan, melihat senyum dan kebahagiaan orang-orang yang dilayani, serta merasakan persaudaraan dalam komunitas.

Namun, ada pula masa ketika mereka harus menerima keterbatasan diri, menghadapi kegagalan, kesalahpahaman, perpindahan tugas, kehilangan orang-orang terkasih, hingga mengalami masa ketika doa terasa kering.

“Justru melalui semua pengalaman itulah Tuhan membentuk kami. Kami belajar bahwa hidup biarawati adalah perjalanan untuk terus dibentuk menjadi pribadi yang semakin menyerupai Kristus,” katanya.

Ia menambahkan, kesetiaan bukan berarti tidak pernah jatuh, tetapi selalu bersedia bangkit kembali karena percaya bahwa kasih Tuhan tidak pernah meninggalkan.

Ketika melihat kembali perjalanan selama 25 tahun, kata dia, para suster menyadari telah mengalami banyak perubahan. Perubahan tersebut diyakini bukan semata-mata karena usaha sendiri, melainkan karena Roh Kudus terus bekerja membentuk dan memurnikan kehidupan mereka.

“Hari ini kami tidak merayakan kesempurnaan perjalanan, tetapi merayakan kesetiaan Allah. Dialah yang selalu setia ketika kami lemah, menghibur ketika kami takut, mengangkat ketika kami jatuh, dan menguatkan ketika kami hampir menyerah,” ungkap Suster Maria Agustina.

Ia berharap perayaan 25 tahun hidup membiara menjadi momentum pembaruan komitmen bagi ke-15 suster untuk terus setia menjalani panggilan dan pelayanan.

“Dua puluh lima tahun yang kami rayakan hari ini bukanlah monumen atas kesetiaan kami kepada Allah, melainkan syukur atas kesetiaan Allah kepada kami,” tutupnya. (mey)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.