Bryan Hoinanda Shaun Mulai Karier Kepelatihan Bersama Sanmar di DBL 2026
Pipit Maulidya August 22, 2026 12:52 AM

SURYA.co.id - Ada wajah muda di balik perjuangan SMA Santa Maria Surabaya (Sanmar) pada Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North.

Dia adalah Bryan Hoinanda Shaun, yang kini menjalani peran baru sebagai asisten pelatih.

Menariknya, Bryan belum lama meninggalkan bangku sekolah. Ia baru menyelesaikan pendidikan SMA pada tahun lalu.

Kini, pengalaman yang sebelumnya didapat sebagai bagian dari dunia basket mulai ia bawa ke ruang kepelatihan.

Peran tersebut membuat Bryan harus belajar melihat permainan dari sudut pandang berbeda. Jika sebelumnya pemain menjadi pihak yang menjalankan instruksi, kini ia ikut membantu menentukan cara tim menjalankan strategi di lapangan.

Salah satu tantangan yang dihadapi adalah usia pemain Sanmar yang tidak berbeda jauh dengannya. Kondisi itu membuat Bryan relatif mudah membangun komunikasi dengan pemain.

Di luar lapangan, hubungan mereka bisa berlangsung lebih santai. Bryan juga berusaha mengatasi karakternya yang cenderung pendiam agar dapat lebih memahami pemain dan membangun hubungan yang baik dengan mereka.

Situasinya berbeda ketika pertandingan dimulai. Bryan tetap perlu menunjukkan sikap sebagai bagian dari staf kepelatihan. Ketegasan menjadi cara yang dipilih agar pemain tetap mengikuti arahan dan menjaga kedisiplinan.

Menurut Bryan, Sanmar masih memiliki banyak hal yang harus dibangun sebagai tim. Karena itu, perhatian tidak hanya diberikan kepada kemampuan bermain, tetapi juga kesiapan mental ketika pertandingan berlangsung.

Pemain harus mampu tetap tenang, menjaga konsentrasi, dan mengontrol emosi ketika mendapat tekanan. Mereka juga dituntut tidak kehilangan momentum setelah pertandingan berjalan sesuai atau berlawanan dengan rencana.

Salah satu hasilnya terlihat ketika Sanmar menghadapi SMA 17 Agustus 1945 Surabaya. Sanmar mampu menutup pertandingan dengan kemenangan 22-12.

Namun, kemenangan tersebut tidak membuat proses evaluasi berhenti. Bryan masih menemukan masalah yang harus dibenahi, salah satunya konsentrasi tim pada kuarter pertama.

Catatan itu menjadi bahan penting untuk pertandingan selanjutnya. Sanmar perlu tampil lebih siap sejak awal agar tidak memberikan ruang kepada lawan untuk mengambil kendali permainan.

Bagi Bryan, setiap pertandingan juga menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya sebagai pelatih. Ia belajar mengenali karakter pemain sekaligus menentukan cara berkomunikasi yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses Bryan membangun karier di dunia kepelatihan. Ia tidak hanya dituntut dekat dengan pemain, tetapi juga harus mampu menempatkan diri sebagai sosok yang bertanggung jawab terhadap perkembangan tim.

Setelah kemenangan atas SMA 17 Agustus 1945 Surabaya, Sanmar memiliki bekal untuk menghadapi pertandingan berikutnya.

Evaluasi terhadap permainan sebelumnya menjadi pekerjaan rumah agar penampilan mereka terus mengalami perkembangan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.