BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Berbagai upaya dilakukan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan. Sayangnya upaya modifikasi cuaca atau Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), belum dapat dilaksanakan.
Menurut kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Ronny Eka Saputra, meski pesawat dan bahan penyemaian telah tersedia di Posko Satgas Udara, kondisi awan hujan belum mendukung pelaksanaan penyemaian.
"Pesawat dan bahannya standby, namun awan hujannya saat ini belum ada di wilayah Kalimantan Selatan," jelas Ronny, Jumat (21/8).
Untuk itu BPBD Kalsel masih mengoptimalkan kekuatan Satgas Darat yang didukung Satgas Udara, berupa armada heli water bombing.
Adapun untuk wilayah di Kalsel yang menetapkan status Siaga Darurat sudah bertambah menjadi tujuh wilayah setelah Hulu Sungai Utara (HSU) turut menetapkan status tersebut. Adapun tujuh daerah tersebut, yakni Banjarbaru, Banjar, Baritokuala (Batola), Tapin, Hulu Sungai Selatan, Tanahbumbu, dan HSU.
Ditambahkan Ronny, berdasarkan data BPBD, Banjarbaru masih menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar dan kejadian karhutla yang cukup tinggi. Selanjutnya Kabupaten Banjar dan Tala juga menjadi daerah yang mendapat perhatian dalam penanganan kebakaran lahan.
Parahnya karhutla di Banjarbaru bisa dilihat dari 10 titik panas atau hotspot yang terpantau kemarin. Titik panas tersebut terdeteksi satelit NASA dan seluruhnya berada di dua kecamatan, yakni Landasan Ulin dan Lianganggang.
Kepala Pelaksana BPBD Banjarbaru, Zaini, menjelaskan dari laporan Pusdalops berdasarkan pemantauan hingga Jumat, terdapat empat hotspot di Kecamatan Landasan Ulin dan enam titik di Lianganggang. "Untuk Banjarbaru Utara, Banjarbaru Selatan dan Cempaka tidak terpantau hotspot. Sementara Landasan Ulin ada empat titik dan Lianganggang enam titik," ujar Zaini.
Secara total ditambahkan Ronny Eka Saputra, tercatat sebanyak 1.651 kejadian karhutla yang tersebar di seluruh kabupaten kota di Kalsel. Dari jumlah tersebut, luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 6.905 hektare. Sementara berdasarkan pemantauan hotspot, total titik panas yang terdeteksi hingga hari ini mencapai 8.964 titik.
Baca juga: Karhutla Meluas di 11 Kecamatan, 88 Kejadian Hanguskan Lebih dari 253 Hektare Lahan di HSS
Dalam penanangan kebakaran Ronny Eka Saputra mengakui akses menuju titik api masih menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan karhutla. Kondisi lahan gambut membuat sejumlah lokasi kebakaran sulit dijangkau.
Selain itu, sumber air di sekitar titik api juga banyak yang mulai mengering sehingga petugas harus menarik sambungan selang dalam jarak yang cukup panjang.
Untuk membantu mengatasi kendala tersebut, BPBD Kalsel mendapat dukungan dari BNPB berupa tiga unit helikopter, termasuk dua helikopter water bombing.
"Kami harapkan kalau memang ada penambahan heli water bombing, mungkin bisa mempermudah kami dalam penanggulangan karhutla di Kalimantan Selatan," katanya.
Dari pantauan, salah satu wilayah yang paling parah yaitu di Jalan Jurusan Pelaihari Km 26 (kawasan Pengayuan). Bahkan di lokasi ini jalan sempat ditutup total sekitar 30 menit. Penutupan akses sementara dilakukan dari sekitar pukul 14. 30 wita hingga 15.00 Wita.
Ketua RT 2 RW 1 Kelurahan Landasan Ulin, Hendra, menjelaskan penutupan dilakukan saat api membesar dan dilakukan pemadaman oleh tim pemadam. "Karena bahaya selang jika dilindas mobil. Kami petugas damkar mengambil air dari kanal kecil di bahu jalan," kata Hendra.
Terpantau beberapa relawan menangani api agar tak merembet ke tepi jalan. Ada yang menggunakan mobil tangki dan sungai kanal kecil.
Sementara Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memasukkan Kalsel sebagai salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius akibat penurunan kualitas udara dan ancaman karhutla pada musim kemarau 2026.
Dalam pernyataan resminya, KLH/BPLH menyebut Banjarmasin menjadi salah satu kota yang mengalami penurunan kualitas udara. Konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di Banjarmasin tercatat mencapai 17,40 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut menjadi bagian dari pemantauan kualitas udara di sejumlah wilayah rawan karhutla.
Kalsel sendiri menjadi salah satu dari enam provinsi yang mendapat instruksi mendesak dari Menteri LH/Kepala BPLH untuk memperkuat pengendalian karhutla. Lima provinsi lainnya yakni Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau, dan Sumatera Selatan.
Instruksi tersebut dikeluarkan di tengah fenomena El Nino kuat yang menurut KLH/BPLH telah muncul sejak Juli 2026 dan meningkatkan kerawanan kebakaran hutan dan lahan.
Untuk Kalsel, pemerintah provinsi diminta meningkatkan aksi pencegahan secara masif di wilayah rawan serta memperkuat patroli gabungan sebelum api meluas.
(banjarmasinpost.co.id/nurholis huda/muhammad saiful riki/bl roynalendra)