Oleh: Ikhsan Alhaque
Pegiat Literasi di Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CP.ID - LIMA abad tidak pernah menguji berapa lama sebuah kota berdiri. Lima abad selalu menguji apakah sebuah kota masih mengenali dirinya sendiri. Bagi Banjarmasin, pertanyaan itu menjadi jauh lebih mendalam. Banjarmasin tidak tumbuh dengan menaklukkan air, melainkan dengan belajar hidup bersamanya. Dari sungai-sungai itulah kota ini bertumbuh sebagai ruang perjumpaan manusia, perdagangan, pengetahuan, dan kebudayaan.
Karena itu, peringatan lima ratus tahun sesungguhnya bukan sekadar perayaan atas masa lalu. Ia adalah saat ketika kita berhenti sejenak untuk menoleh ke belakang, sekaligus menimbang ke depan. Begitu banyak generasi telah datang dan pergi, masing-masing menerima warisan dari pendahulunya, lalu menambahkan jejak zamannya sebelum menyerahkannya kepada generasi berikutnya. Lima abad, pada akhirnya, adalah kisah tentang estafet peradaban yang tidak pernah putus.
Kini estafet itu berada di tangan kita. Yang menentukan bukan lagi seberapa jauh kita mampu mengubah wajah kota, melainkan seberapa arif kita menjaga jati dirinya di tengah perubahan zaman yang terus bergerak. Dari titik inilah tulisan ini berangkat, dengan satu pertanyaan yang sederhana tetapi menentukan: apa yang membuat sebuah peradaban tetap menjadi dirinya sendiri, meskipun zaman terus berubah?
Estafet dan Amanah Antargenerasi
Tidak ada sebuah peradaban yang lahir utuh dalam satu zaman. Ia tumbuh perlahan melalui kerja yang hampir selalu melampaui usia para pelakunya. Setiap generasi hanya menerima sebagian warisan, menyempurnakannya sebatas kemampuan zamannya, lalu menyerahkannya kepada mereka yang datang kemudian.
Demikian pula Banjarmasin. Lima abad yang kita saksikan hari ini bukanlah hasil kerja satu generasi, melainkan akumulasi ikhtiar yang disambung tanpa henti oleh banyak generasi yang bahkan tidak pernah saling mengenal.
Kita bukan generasi yang membangun lima abad pertama Banjarmasin. Kita hanyalah generasi yang dipercaya untuk memastikan estafet lima abad itu tidak terputus di tangan kita. Apa yang kita nikmati hari ini adalah titipan dari orang-orang yang tidak pernah mengenal kita, tetapi tetap bekerja seolah-olah mereka mengenal masa depan. Karena itulah, setiap zaman boleh meninggalkan jejaknya sendiri, tetapi tidak pernah berhak memutus mata rantai yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Di sepanjang perjalanan itu, pusat-pusat perdagangan bergeser, pemerintahan silih berganti, teknologi mengubah cara manusia bekerja dan berkomunikasi, bahkan wajah kota terus mengalami pembaruan. Namun perubahan-perubahan itu tidak pernah menjadi alasan untuk kehilangan arah. Apa yang diwariskan sesungguhnya bukan hanya bangunan, jalan, jembatan, atau arsip sejarah, melainkan pengetahuan tentang bagaimana hidup bersama air, merawat ruang hidup bersama, dan memahami bahwa setiap generasi hanyalah satu mata rantai dalam perjalanan sebuah peradaban yang jauh lebih panjang daripada usia manusianya sendiri.
Merawat Jati Diri di Tengah Modernitas
Di sinilah sesungguhnya makna lima abad menemukan bobot moralnya. Setiap generasi memang mewarisi sebuah kota, tetapi tidak pernah mewarisinya sebagai pemilik. Apa yang kita terima sesungguhnya adalah titipan sejarah yang harus dijaga, diperkaya, lalu diserahkan kembali kepada mereka yang bahkan belum dilahirkan. Peradaban tidak bertahan karena setiap generasi berhasil membangun sesuatu yang baru, melainkan karena setiap generasi memahami batas antara hak untuk mengubah dan kewajiban untuk menjaga.
Barangkali karena itulah, setiap peradaban sesungguhnya dibangun di atas sebuah amanah. Amanah untuk tidak sekadar menikmati warisan, tetapi juga memastikan warisan itu tetap hidup ketika tiba di tangan generasi berikutnya. Amanah itu tidak meminta setiap zaman mengulang masa lalu, melainkan menuntut kebijaksanaan untuk membedakan mana yang harus diperbarui dan mana yang harus tetap dijaga. Sebab sebuah kota boleh berubah wajah berkali-kali, tetapi tidak boleh kehilangan jiwanya.
Ujian terbesar sebuah peradaban bukanlah ketika ia miskin atau tertinggal, melainkan ketika ia berkembang begitu cepat hingga lupa pada sumber yang membesarkannya. Di situlah amanah setiap generasi diuji. Modernitas memang harus dirangkul, tetapi tidak dengan mengorbankan ingatan. Kemajuan memang harus dikejar, tetapi tidak dengan memutus hubungan kota ini dengan air, alam, dan nilai-nilai yang selama berabad-abad membentuk watak Banjarmasin sebagai sebuah peradaban.
Karena itu, yang sesungguhnya sedang kita wariskan bukan hanya kota yang lebih maju, melainkan cara berpikir tentang kemajuan itu sendiri. Apakah kemajuan akan membuat manusia semakin dekat dengan akar peradabannya, atau justru semakin jauh darinya? Pertanyaan itulah yang akan dijawab oleh generasi-generasi sesudah kita melalui kota yang mereka terima sebagai warisan dari keputusan-keputusan yang kita ambil hari ini.
Pada akhirnya, sebuah peradaban tidak diukur dari seberapa banyak yang berhasil dibangunnya, melainkan dari seberapa layak ia diwariskan. Sebab setiap keputusan yang kita ambil hari ini akan menjadi lingkungan hidup, ingatan kolektif, dan cara hidup bagi mereka yang datang sesudah kita. Di situlah amanah sebuah generasi menemukan maknanya: meninggalkan sebuah kota yang bukan hanya lebih maju, tetapi juga tetap mengenali dirinya sendiri.
Apabila suatu hari nanti tulisan ini benar-benar dibaca oleh warga Banjarmasin pada usia enam abad kotanya, ketahuilah bahwa kami tidak pernah berharap dapat mewariskan kota yang sempurna. Kami hanya berharap dapat meninggalkan sebuah kota yang tetap mengenali akar peradabannya, meskipun zamannya telah berubah jauh melampaui apa yang mampu kami bayangkan. Sebab kami percaya, setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, tetapi tidak satu pun zaman dibebaskan dari tanggung jawab untuk menjaga jati dirinya.
Mungkin ketika kalian membaca tulisan ini, sebagian sungai telah berubah, wajah kota telah berbeda, dan teknologi telah membawa kehidupan ke arah yang tidak pernah kami bayangkan. Namun kami berharap, satu hal tidak pernah berubah: kesadaran bahwa Banjarmasin lahir bukan karena berhasil menguasai air, melainkan karena selama berabad-abad memilih hidup bersamanya. Jika kesadaran itu tetap hidup, kami percaya kota ini akan selalu menemukan jalan untuk menghadapi setiap perubahan zaman.
Jika pada usia enam abad nanti kalian masih dapat melihat sungai sebagai ruang kehidupan, bukan sekadar saluran air; jika kalian masih memandang alam sebagai sahabat, bukan sekadar sumber daya; dan jika kalian masih merasa menjadi bagian dari peradaban yang menghormati air, maka kami percaya estafet itu tidak pernah terputus. Pada saat itulah, perayaan lima abad yang kami lakukan hari ini benar-benar menemukan maknanya.
Barangkali, seratus tahun dari sekarang, tidak ada lagi yang mengingat nama-nama kami. Itu bukanlah persoalan. Yang jauh lebih penting adalah apabila Banjarmasin tetap dikenal sebagai kota yang tidak kehilangan jiwanya; kota yang terus bertumbuh tanpa tercerabut dari akar peradabannya; dan kota yang tetap memuliakan air sebagai sumber kehidupan. Sebab pada akhirnya, yang kami wariskan kepada abad berikutnya bukan sekadar sebuah kota, melainkan cara sebuah peradaban memuliakan kehidupan yang diwariskan kepadanya. (*)
Ujian terbesar sebuah peradaban bukanlah ketika ia miskin atau tertinggal, melainkan ketika ia berkembang begitu cepat hingga lupa pada sumber yang membesarkannya. Di situlah amanah setiap generasi diuji. Modernitas memang harus dirangkul, tetapi tidak dengan mengorbankan ingatan.