Renungan Katolik Sabtu 22 Agustus 2026, Menjadi Pelayan
Gordy Donovan August 22, 2026 09:47 AM

Oleh: Bruder Pio Hayon SVD

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan katolik Sabtu 22 Agustus 2026.

Tema renungan katolik "menjadi pelayan". Renungan katolik disiapkan untuk perayaan wajib SP Maria, Ratu.

Perayaan wajib SP Maria, Ratu dengan warna liturgi putih.

Bacaan hari Sabtu: Yeh 43:1-7a; Mzm 85:9ab-10.11-12.13-14; Mat 23:1-12 dan  BcO Pkh 11:7-12:14.

Baca juga: Teks Misa Minggu 23 Agustus 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik

Bacaan Pertama: Yeh 43:1-7a

Lalu dibawanya aku ke pintu gerbang, yaitu pintu gerbang yang menghadap ke sebelah timur. Sungguh, kemuliaan Allah Israel datang dari sebelah timur dan terdengarlah suara seperti suara air terjun yang menderu dan bumi bersinar karena kemuliaan-Nya. Yang kelihatan kepadaku itu adalah seperti yang kelihatan kepadaku ketika Ia datang untuk memusnahkan kota itu dan seperti yang kelihatan kepadaku di tepi sungai Kebar, maka aku sembah sujud. Sedang kemuliaan TUHAN masuk di dalam Bait Suci melalui pintu gerbang yang menghadap ke sebelah timur, Roh itu mengangkat aku dan membawa aku ke pelataran dalam, sungguh, Bait Suci itu penuh kemuliaan TUHAN. Lalu aku mendengar Dia berfirman kepadaku dari dalam Bait Suci itu?orang yang mengukur Bait Suci itu berdiri di sampingku? dan Ia berfirman kepadaku: "Hai anak manusia, inilah tempat takhta-Ku dan inilah tempat tapak kaki-Ku; di sinilah Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel untuk selama-lamanya dan kaum Israel tidak lagi akan menajiskan nama-Ku yang kudus, baik mereka maupun raja-raja mereka, dengan persundalan mereka atau dengan mayat raja-raja mereka yang sudah mati;

Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9ab-10.11-12.13-14; 

Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.

Bacaan Injil Katolik: Mat 23:1-12 

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Renungan Harian Katolik

"Menjadi pelayan"

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Dalam perayaan Maria sebagai Ratu, kita mudah membayangkan kemuliaan dan kehormatan. Namun Injil justru menempatkan kita pada pelajaran yang berlawanan dengan “logika dunia”: semakin besar panggilan dan wibawa, semakin semestinya seseorang menjadi pelayan. Kebesaran Maria tampak bukan karena ia mencari tempat paling tinggi, melainkan karena ia menanggapi kehendak Allah dengan kerendahan hati yakni  menjadi pelayan.

Saudara-saudari terkasih. 

Yehezkiel (Yeh.43:1-7a) dalam bacaan pertama ini, menggambarkan Bait Allah yang dipenuhi kemuliaan Tuhan. Kemuliaan itu turun dan menandai bahwa Allah sendiri hadir, memulihkan, dan memberi tempat bagi penyelamatan-Nya. Kemuliaan Allah bukan untuk membuat manusia “berkuasa”, melainkan untuk membuat hidup umat ditegakkan kembali. Dalam Injil (Mat. 23:1-12), Yesus menegur para ahli Taurat dan orang Farisi yang menonjolkan diri: mereka menuntut banyak, tetapi tidak melakukannya. Yesus menolak sikap mencari pengakuan, mereka suka disebut “Rabbi”, ingin tempat terhormat. Lalu Yesus memberi jalan yang jelas: yang terbesar adalah yang melayani. Refleksi kita adalah “Kemuliaan Allah”: Jika kemuliaan Tuhan sungguh memenuhi hidup kita, maka pertanyaan pertama bukan “bagaimana saya terlihat?”, melainkan “bagaimana saya menjadi saluran rahmat?”. Kehadiran Allah mengubah pusat: dari diri sendiri kepada Allah dan sesama. “Menjadi pelayan”: Yesus mengecam sikap beribadah atau mengajar tanpa praktik. Maka pelayanan sejati bukan panggung, melainkan kesetiaan. Terkadang kita ingin “terlihat benar”, tetapi Injil mengajak kita untuk sungguh bertindak benar dengan cara yang sederhana. “Kerendahan hati”: Maria, Ratu, tidak menguasai dengan mencari gelar, melainkan melalui ketaatan dan kesediaan melayani. Hari ini kita diajak meniru itu: lakukan tugas kita tanpa menuntut pujian; siap membantu tanpa mengedepankan diri.

Saudara-saudari terkasih,

Pesan untuk kita, pertama, menjadi pelayan adalah jalan kebesaran yang berkenan pada Allah.
Kedua, kemuliaan Allah menuntun kita pada kerendahan hati dan konsistensi hidup. Ketiga, teladan Maria mengajak kita melayani tanpa mencari gelar, pujian, atau tempat terhormat.  Tuhan memberkati kita.. (Sumber iman katolik.or.id/kgg).

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.