Perluas Tambang Bitcoin, Bitari IPO US$ 30 Juta di Nasdaq
Arthur Gideon August 22, 2026 10:30 AM

Liputan6.com, Jakarta - Bitari mengajukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) senilai US$ 30 juta di bursa Nasdaq. Dana yang diperoleh dari aksi korporasi tersebut akan digunakan untuk memperluas bisnis penambangan Bitcoin.

Dikutip dari CoinMarketCap, Sabtu (228/2026), pengajuan IPO ini menjadi langkah Bitari menuju pasar modal publik ketika industri mining Bitcoin semakin membutuhkan modal besar. Namun, sejumlah detail mengenai rencana tersebut masih terbatas dan informasi spesifik dalam prospektus belum diverifikasi secara independen.

Inti pengajuan Bitari cukup jelas. Perusahaan menargetkan penghimpunan dana US$ 30 juta melalui pencatatan saham di Nasdaq. Nilai dana dan target bursa menjadi informasi utama dalam rencana tersebut.

IPO juga menandai perubahan penting bagi Bitari, dari perusahaan privat menjadi perusahaan terbuka. Setelah tercatat di Nasdaq, Bitari akan menghadapi kewajiban keterbukaan informasi dan pengawasan investor publik.

Meski US$ 30 juta tergolong kecil dibandingkan aksi korporasi perusahaan besar, dana tersebut tetap berarti bagi bisnis mining Bitcoin. Industri ini membutuhkan investasi besar, terutama untuk membeli perangkat penambangan dan membayar biaya energi.

Dengan masuk ke pasar modal, Bitari berupaya mendapatkan sumber pendanaan baru untuk memperbesar skala bisnisnya.

 

Ekspansi Penambangan Bitcoin

Seorang teknisi melakukan perawatan pada pertambangan dari komputer super di dalam pabrik bitcoin. (AFP Photo/Halldor Kolbeins)
Seorang teknisi melakukan perawatan pada pertambangan dari komputer super di dalam pabrik bitcoin. (AFP Photo/Halldor Kolbeins)

 

Bitari mengaitkan langsung dana IPO US$ 30 juta dengan rencana ekspansi penambangan Bitcoin. Penggunaan dana tersebut menjadi salah satu informasi bisnis terpenting dalam pengajuan IPO.

Bagi perusahaan mining Bitcoin, tambahan modal biasanya digunakan untuk membeli lebih banyak mesin, menambah kapasitas hosting, atau mendapatkan kontrak energi baru. Seluruh faktor tersebut dapat meningkatkan hash rate, yakni kapasitas komputasi yang digunakan untuk menambang Bitcoin.

Hubungan antara modal dan kapasitas produksi menjadi gambaran utama strategi Bitari. Perusahaan tampaknya mengandalkan skala bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan margin di tengah persaingan industri mining yang semakin ketat.

Tantangan lainnya berasal dari mekanisme halving Bitcoin. Imbalan yang diterima penambang untuk menghasilkan Bitcoin berkurang secara berkala, sehingga efisiensi operasional menjadi semakin penting.

Biaya energi juga menjadi faktor utama dalam menentukan perusahaan mining mana yang mampu bertahan. Sejumlah operator bahkan menjadikan kesepakatan pasokan listrik sebagai keunggulan bisnis.

Dalam salah satu kasus, seorang eksekutif perusahaan utilitas menyebut kesepakatan dengan perusahaan mining membantu mencegah kenaikan tarif listrik sebesar 3% bagi pelanggan lokal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap energi murah dan stabil menjadi salah satu kunci persaingan dalam bisnis penambangan Bitcoin.

 

Modal Lebih Besar

Bagi investor, pencatatan Bitari di Nasdaq dapat memberikan akses yang lebih luas terhadap modal dibandingkan ketika perusahaan masih berstatus privat. Akses tersebut menjadi salah satu alasan penting di balik target penghimpunan dana US$ 30 juta.

Rencana IPO Bitari juga menggabungkan bisnis pasar modal dengan sektor infrastruktur Bitcoin. Sejumlah perusahaan kripto sebelumnya mengambil langkah serupa dengan masuk ke pasar saham untuk mendapatkan pendanaan.

Namun, strategi setiap perusahaan berbeda. Strive, misalnya, menghimpun modal melalui saham preferen untuk membeli Bitcoin secara langsung, bukan menambangnya.

Sementara itu, kinerja Bitari akan sangat dipengaruhi harga Bitcoin. Harga aset kripto tersebut menentukan potensi pendapatan dari setiap mesin penambangan yang dioperasikan perusahaan.

Volatilitas menjadi risiko lain yang harus diperhatikan investor. Pergerakan pasar kripto yang cepat dapat meningkatkan risiko kerugian. Dalam periode terbaru, likuidasi aset kripto mencapai US$ 1,24 miliar.

Setelah pengajuan IPO, sejumlah hal akan menjadi perhatian investor, termasuk harga final saham, porsi dana yang benar-benar digunakan untuk membeli perangkat mining, serta target hash rate Bitari.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah modal US$ 30 juta cukup untuk membuat Bitari bersaing dengan perusahaan mining besar yang dapat mengeluarkan dana sebesar itu hanya untuk satu kali peningkatan armada mesin.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.