TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Potensi panas bumi Indonesia bukan sekadar kekayaan yang tersimpan di dalam bumi, tetapi dapat diolah menjadi listrik bersih untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Atas hal itu, PLN Indonesia Power bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) untuk pembelian tenaga listrik dari dua proyek panas bumi dengan total kapasitas 45 MW.
LoI tersebut mencakup pengembangan Ulubelu Binary (Bottoming) Unit berkapasitas 30 MW di Provinsi Lampung dan Lahendong Binary (Bottoming) Unit berkapasitas 15 MW di Provinsi Sulawesi Utara.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Bahlil Lahadalia mengatakan, Indonesia dianugerahi potensi panas bumi yang luar biasa besar. Namun, potensi itu tidak boleh hanya tersimpan di dalam bumi atau berhenti menjadi angka.
"Energinya harus kita hadirkan menjadi listrik yang memberi manfaat bagi masyarakat, menggerakkan ekonomi, dan memperkuat kemandirian energi bangsa,” ujar Bahlil dikutip Sabtu (22/8/2026).
Menurut Bahlil, percepatan pengembangan geothermal membutuhkan keberanian untuk mengubah potensi menjadi proyek nyata melalui kolaborasi.
“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, begitu juga dunia usaha. Kuncinya adalah kolaborasi. Ketika regulator, PLN, pengembang, dan seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama, saya yakin kekayaan panas bumi Indonesia dapat kita optimalkan menjadi energi bersih yang andal dan menjadi kekuatan Indonesia di masa depan,” tambahnya.
Baca juga: Bahlil Resmi Terbitkan SK Izin Panas Bumi Gunung Ungaran kepada PLN
Berdasarkan paparan Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Eniya Listiani Dewi, pada pembukaan IIGCE 2026, ia menekankan momentum 100 tahun panas bumi Indonesia sejak pengeboran di Kamojang, karakter geothermal yang mampu memasok listrik 24 jam.
“Kamojang mengajarkan kita bahwa panas bumi bukan sekadar sumber energi, tetapi warisan energi yang terus hidup. Seratus tahun sejak pengeboran pertama dilakukan pada 1926, uapnya masih mengalir dan terus memberi manfaat bagi negeri. Dari Kamojang, kita melihat bahwa geothermal memiliki kekuatan untuk menjadi energi bersih yang andal, berkelanjutan, dan menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian energi,” ujar Eniya.
Keterlibatan PLN Indonesia Power dalam akselerasi pengembangan geotherma ditandai dengan penandatanganan LOI bersama PT PLN (Persero) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE).
Baca juga: Barito Renewables Kantongi Pendanaan 300 Juta Dolar AS, Fokus Garap Dua Proyek Panas Bumi
Kerja sama ini mencakup pengembangan PLTP Lahendong Binary berkapasitas 15 MW di Sulawesi Utara dan PLTP Ulubelu Binary berkapasitas 30 MW di Provinsi Lampung. Dalam pipeline perencanaan kerjasama strategis ini, total potensi kapasitas pengembangan dapat mencapai 230 MW.
Kedua proyek memanfaatkan teknologi bottoming untuk mengolah dan memanfaakan panas dari fluida panas bumi (brine) yang belum termanfaatkan untuk dijadikan tambahan energi listrik bersih dari pembangkit geothermal eksisting.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta menyampaikan, Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar, PLN Indonesia Power terus mendorong optimalisasi potensi tersebut menjadi energi bersih yang andal.
“Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar. Melalui kolaborasi PLN Indonesia Power dan PGE pada Lahendong dan Ulubelu, kami ingin mengoptimalkan potensi tersebut menjadi energi bersih yang andal sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional,” ujar Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta.
Menurut Bernadus, percepatan transisi energi membutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
“Sinergi antara PLN, PLN Indonesia Power, PGE, pemerintah, investor, dan seluruh pelaku industri menjadi kunci untuk mempercepat hadirnya pembangkit bersih yang andal dan berkelanjutan,” tambahnya.