Muktamar NU: Memilih Pemimpin atau Menjawab Persoalan?
Ricky Jenihansen August 22, 2026 12:54 PM

Muktamar ke-35 NU diharapkan tak hanya memilih pemimpin, tetapi juga merumuskan jawaban atas persoalan pesantren, digital, ekonomi, dan generasi muda.

Oleh: M. Arif Rahman Hakim*

TRIBUNBENGKULU.COM - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, pembicaraan mengenai kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tentu menjadi perhatian utama warga Nahdliyin. Siapa yang akan menjadi Rais Aam, siapa yang akan memimpin PBNU di tingkat tanfidziyah, dan bagaimana arah kepemimpinan NU lima tahun ke depan merupakan pertanyaan yang wajar.

Namun, menurut saya, ada pertanyaan lain yang jauh lebih penting dan tidak boleh tenggelam di tengah hiruk-pikuk kandidasi: persoalan apa yang sesungguhnya perlu dibicarakan dan dicarikan jalan keluarnya melalui Muktamar?

Muktamar pada hakikatnya bukan hanya forum untuk memilih pengurus baru. Ia merupakan ruang tertinggi jam'iyah untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan organisasi, membaca perubahan yang terjadi di masyarakat, sekaligus merumuskan arah perjuangan NU ke depan.

Karena itu, kualitas sebuah Muktamar seharusnya tidak hanya diukur dari siapa yang terpilih, tetapi juga dari seberapa serius forum tersebut mampu menjawab persoalan yang dirasakan warga Nahdliyin dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan karena lingkungan sosial tempat NU bergerak telah berubah sangat cepat. Masyarakat menghadapi persoalan ekonomi, pendidikan, perubahan pola kerja, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, perubahan karakter generasi muda, hingga berbagai persoalan sosial yang sebelumnya mungkin belum pernah kita bayangkan.

Di tingkat global, konflik geopolitik, migrasi, perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, perkembangan teknologi, dan perubahan hubungan antarnegara juga memberikan dampak yang semakin nyata terhadap kehidupan masyarakat. NU tentu tidak mungkin berada di luar perubahan tersebut.

Karena itu, banyak warga Nahdliyin berharap Muktamar ke-35 tahun 2026 yang akan dilaksanakan di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dalam waktu dekat ini tidak hanya menghabiskan energi untuk membicarakan siapa yang paling kuat dalam kontestasi kepemimpinan.

Kita perlu memberikan ruang yang lebih besar untuk membicarakan apa yang sedang terjadi di tengah jam'iyah. Bagaimana kondisi pesantren kita? Bagaimana masa depan pendidikan anak-anak generasi masa depan Nahdliyin? Bagaimana dakwah NU menghadapi perubahan ruang publik yang kini sebagian besar telah berpindah ke dunia digital? Bagaimana generasi muda dapat merasa bahwa NU adalah rumah yang relevan bagi mereka? Bagaimana ekonomi warga dapat diperkuat? Bagaimana struktur NU sampai tingkat ranting dapat benar-benar hidup? Dan bagaimana jaringan NU di luar negeri dapat menjadi bagian dari kekuatan organisasi untuk menghadapi persoalan global?

Pesantren dan Tantangan Perubahan Zaman

Salah satu persoalan yang paling relevan dan mendesak adalah pesantren, yang merupakan salah satu fondasi penting dalam sejarah dan perkembangan NU.

Akan tetapi, pesantren hari ini menghadapi lingkungan yang berbeda dengan masa lalu. Santri tidak hanya belajar dari kitab dan guru di pesantren. Mereka juga belajar melalui berbagai platform seperti YouTube, TikTok, Instagram, podcast, bahkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Mereka hidup dalam arus informasi yang hampir tidak memiliki batas. Dalam satu waktu, seorang santri dapat mengakses kajian dari kiai di Indonesia, ulama dari Timur Tengah, akademisi dari Amerika, atau berbagai sumber informasi lain dari seluruh dunia.

Perubahan ini tidak harus dilihat sebagai ancaman, tetapi juga merupakan peluang. Persoalannya adalah apakah pesantren memiliki kesiapan untuk mengelola perubahan tersebut.

Bagaimana tradisi keilmuan pesantren tetap dipertahankan, tetapi pada saat yang sama santri memiliki literasi digital, kemampuan bahasa asing, wawasan sains, keterampilan profesional, dan kemampuan berpikir kritis yang diperlukan untuk hidup di masyarakat modern?

Bagaimana pesantren dapat melahirkan generasi yang tetap memiliki kedalaman keislaman, tetapi mampu menjadi akademisi, profesional, pengusaha, teknolog, peneliti, diplomat, dan pemimpin masyarakat?

Pertanyaan seperti ini, menurut saya, jauh lebih strategis untuk dibicarakan dalam Muktamar daripada sekadar membicarakan siapa yang akan mengisi posisi tertentu dalam struktur organisasi. Sebab, masa depan NU juga sangat bergantung pada kualitas generasi yang lahir dari lembaga-lembaga pendidikan yang selama ini menjadi basis utama jam'iyah.

Dakwah NU di Ruang Digital

Hal yang sama terjadi dalam dunia dakwah. Cara masyarakat memperoleh pengetahuan agama telah berubah secara drastis. Dulu, orang datang ke masjid, pesantren, majelis taklim, atau menemui kiai ketika ingin bertanya tentang agama. Sekarang, seseorang cukup membuka telepon genggam untuk mendapatkan ribuan ceramah dalam hitungan detik.

Perubahan ini membawa konsekuensi besar bagi NU. Dakwah digital tidak cukup dipahami sebagai memindahkan ceramah dari mimbar ke kamera. Dunia digital memiliki logika yang berbeda. Informasi bergerak sangat cepat, perhatian pengguna terbatas, dan algoritma media sosial sering menentukan informasi apa yang sampai kepada seseorang.

Dalam situasi seperti ini, konten yang sederhana, sensasional, atau kontroversial sering kali lebih mudah mendapatkan perhatian daripada penjelasan agama yang mendalam dan kontekstual.

Di sinilah NU perlu memikirkan kembali strategi dakwahnya. Bagaimana nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah dapat disampaikan dengan bahasa yang dipahami generasi digital? Bagaimana para dai dibekali kemampuan komunikasi dan literasi digital? Bagaimana NU menghadirkan konten keagamaan yang menarik tanpa mengorbankan kedalaman ilmu?

Bagaimana organisasi merespons penyebaran informasi keagamaan yang keliru tanpa terjebak dalam perang narasi di media sosial? Dan, yang tidak kalah penting, bagaimana teknologi, termasuk kecerdasan buatan, dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab untuk pendidikan dan dakwah?

Hal-hal tersebut bukan lagi persoalan yang akan kita hadapi beberapa tahun mendatang. Ini adalah kenyataan yang sudah ada di depan mata.

Memberikan Ruang bagi Generasi Muda

Persoalan generasi muda juga perlu menjadi perhatian serius. Anak-anak muda Nahdliyin tumbuh dalam lingkungan sosial yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka memiliki akses informasi yang lebih luas, berinteraksi dengan berbagai budaya, dan semakin terbiasa mempertanyakan berbagai hal secara terbuka.

Mereka tidak selalu menolak tradisi, tetapi mungkin membutuhkan penjelasan yang lebih kontekstual tentang mengapa tradisi tersebut penting bagi kehidupan mereka.

Karena itu, pendekatan terhadap generasi muda juga perlu berubah. Mereka jangan hanya dilihat sebagai objek kaderisasi atau tenaga pelaksana kegiatan organisasi. Mereka perlu diberi ruang untuk berpikir, menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, dan memimpin.

Kaderisasi akan kehilangan makna apabila generasi muda hanya dipersiapkan untuk mengikuti keputusan generasi sebelumnya tanpa kesempatan untuk mengembangkan gagasan mereka sendiri.

Memperkuat Ekonomi Warga

NU juga perlu berbicara lebih serius tentang ekonomi warga. Di banyak daerah, warga Nahdliyin masih menghadapi persoalan ekonomi yang sangat konkret, seperti keterbatasan modal, akses pasar yang sempit, rendahnya literasi keuangan, lemahnya pengelolaan usaha, dan keterbatasan akses terhadap teknologi.

Besarnya jumlah warga NU sebenarnya merupakan modal sosial dan ekonomi yang luar biasa. Namun, modal tersebut perlu dikelola agar menghasilkan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana NU dapat memperkuat ekosistem ekonomi warga. Bagaimana usaha kecil milik warga NU dapat memperoleh akses pasar yang lebih luas? Bagaimana pesantren dapat mengembangkan unit usaha yang profesional dan berkelanjutan? Bagaimana koperasi dan ekonomi berbasis komunitas dapat diperkuat? Bagaimana generasi muda NU dapat didorong menjadi pengusaha dan inovator?

Persoalan seperti ini tidak kalah penting dengan agenda organisasi lainnya karena kemandirian ekonomi akan menentukan sejauh mana masyarakat mampu meningkatkan kualitas hidupnya dan sejauh mana organisasi dapat menjalankan khidmah secara berkelanjutan.

Menguatkan NU hingga Tingkat Ranting

Pada saat yang sama, kita juga tidak boleh melupakan persoalan keluarga, pendidikan anak, kesehatan, dan kehidupan sosial warga.

Di tingkat akar rumput, warga NU mungkin tidak sedang memikirkan dinamika politik organisasi. Mereka sedang memikirkan bagaimana membiayai sekolah anak, mendapatkan pekerjaan, mengembangkan usaha, mendidik anak di tengah penggunaan gawai yang semakin sulit dikendalikan, atau menjaga keluarga tetap harmonis di tengah perubahan sosial yang begitu cepat.

Di sinilah sebenarnya keberadaan NU diuji: apakah jam'iyah hadir dan dirasakan manfaatnya ketika warga menghadapi persoalan-persoalan tersebut?

Karena itu, perhatian terhadap struktur organisasi sampai tingkat ranting juga sangat penting. NU memiliki struktur yang sangat luas, bahkan sampai ke tingkat desa dan kelurahan. Namun, ukuran hidup atau tidaknya organisasi bukan hanya terlihat dari banyaknya kepengurusan yang terbentuk.

Organisasi akan terasa hidup ketika pengurusnya hadir di tengah masyarakat dan mampu memberikan manfaat. Jangan sampai NU memiliki agenda yang sangat besar di tingkat nasional dan internasional, tetapi sebagian ranting masih kesulitan menjalankan kegiatan dasar karena keterbatasan sumber daya, kapasitas pengurus, atau dukungan organisasi.

Memperkuat Jejaring NU di Luar Negeri

Dalam konteks ini, saya melihat pentingnya menjaga keseimbangan antara visi global dan kebutuhan lokal. NU perlu memiliki pandangan jauh ke depan tentang perubahan dunia, tetapi pada saat yang sama tidak boleh kehilangan kepekaan terhadap persoalan warga di tingkat paling bawah.

Pengalaman saya sebagai bagian dari komunitas NU di Amerika Serikat dan Kanada membuat saya melihat bahwa perkembangan NU di luar negeri juga memiliki potensi yang besar. Warga NU di diaspora bukan hanya komunitas yang berkumpul karena memiliki latar belakang keagamaan yang sama. Mereka terdiri dari akademisi, mahasiswa, profesional, pengusaha, pekerja, dan keluarga Indonesia yang hidup dalam lingkungan sosial yang sangat beragam.

Mereka berinteraksi dengan masyarakat internasional dan memperoleh pengalaman yang dapat menjadi sumber pengetahuan bagi NU. Karena itu, PCINU seharusnya dapat dilihat sebagai bagian dari jejaring strategis NU.

PCINU dapat menjadi jembatan dalam bidang pendidikan, penelitian, kebudayaan, dialog antaragama, pengembangan profesional, dan kerja sama internasional. Dalam konteks yang lebih luas, jaringan diaspora juga dapat menjadi salah satu cara NU memperkenalkan pengalaman Islam Indonesia kepada dunia.

Namun, perhatian terhadap globalisasi NU jangan sampai membuat kita lupa bahwa kekuatan utama NU tetap berada pada masyarakatnya sendiri. Globalisasi harus memperkuat akar, bukan membuat organisasi semakin jauh dari akar rumput.

Muktamar Harus Menghasilkan Agenda

Pada akhirnya, menurut saya, Muktamar ke-35 perlu dilihat sebagai momentum untuk menjawab persoalan yang lebih besar daripada sekadar pergantian kepemimpinan.

Kita memang membutuhkan pemimpin yang memiliki integritas, kapasitas, visi, kemampuan menyatukan, dan keberanian mengambil keputusan. Tetapi pemimpin yang baik juga membutuhkan arah organisasi yang jelas dan agenda perjuangan yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Karena itu, Muktamar perlu menghasilkan lebih dari sekadar nama-nama dalam struktur kepengurusan. Ia perlu menghasilkan agenda besar jam'iyah: bagaimana pendidikan pesantren diperkuat, bagaimana madrasah dan lembaga pendidikan NU ditingkatkan kualitasnya, bagaimana dakwah memasuki ruang digital dengan lebih serius, bagaimana generasi muda mendapatkan ruang kepemimpinan, bagaimana ekonomi warga diperkuat, bagaimana ranting dan struktur di bawah kembali hidup, bagaimana keluarga Nahdliyin mendapatkan pendampingan dalam menghadapi perubahan sosial, dan bagaimana jaringan NU di berbagai negara dapat berkontribusi lebih besar bagi organisasi dan masyarakat.

Dengan cara pandang seperti itu, Muktamar tidak akan berhenti sebagai peristiwa lima tahunan yang ramai selama beberapa hari kemudian kembali seperti biasa. Muktamar dapat menjadi momentum untuk menentukan kembali arah perjalanan jam'iyah.

Bagi saya, pertanyaan yang perlu kita bawa ke Jombang bukan hanya, “Siapa yang akan memimpin NU?”, tetapi juga, “Apa yang harus dilakukan NU setelah pemimpin itu terpilih?”

Sebab, pada akhirnya, masyarakat tidak akan menilai NU hanya dari siapa yang menjadi Ketua Umum PBNU. Mereka akan menilainya dari apa yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari: dari kualitas pendidikan anak-anak mereka, kehidupan pesantren, dakwah yang mereka dengarkan, kesempatan ekonomi yang mereka peroleh, perhatian terhadap generasi muda, dan sejauh mana NU hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Muktamar yang baik bukan hanya menghasilkan pemimpin yang baru. Muktamar yang baik adalah Muktamar yang mampu membaca persoalan zaman dan memberikan arah yang jelas tentang bagaimana NU harus hadir untuk umat.

Wallahu a'lam bishawab.

*Penulis merupakan Wakil Ketua PCINU Amerika Serikat & Kanada, Fulbright Visiting Scholar, Ohio State University

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.