TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Pasca gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, sejumlah warga di wilayah pesisir selatan masih bertahan dengan keterbatasan makanan.
Di kampung Lokawolo, Kecamatan Mauponggo warga memanfaatkan apa yang masih mereka miliki untuk bertahan hidup.
Ubi, pisang, jagung, dan kelapa menjadi menu sehari-hari, di tengah ketakutan gempa susulan dan akses jalan yang terputus akibat longsor.
Warga harus memutar otak dengan mendirikan pondok bambu berukuran sekitar enam kali enam meter menjadi tempat berlindung sekitar empat puluh warga kampung Lokawolo.
Baca juga: Bantuan Presiden untuk Ratusan Korban Gempa Paumali Nagekeo Hanya 9 Kantong Beras
Di tempat sederhana inilah mereka berusaha melanjutkan hidup, setelah gempa menghancurkan rasa aman yang selama ini mereka miliki.
Setiap pagi, warga menyiapkan makanan seadanya. Bukan nasi dan lauk, melainkan ubi dan pisang yang masih bisa mereka dapatkan dari sekitar kampung.
Hermina Ugha mengatakan ubi direbus, pisang diolah sederhana, lalu disantap bersama kelapa yang dicampur sedikit cabai atau koro nio. Sebagian warga memasak jagung dengan cara tradisional, direbus hingga lembut.
Makanan sederhana itulah yang menjadi penyambung hidup mereka dari hari ke hari.
Di tengah udara pegunungan yang dingin, mereka harus menahan lapar. Bukan karena tidak ingin makan nasi, tetapi karena persediaan makanan terbatas dan bantuan sembako belum menjangkau mereka.
Ia mengatakan pisang yang bisa diandalkan pun tidak semuanya bisa dimakan, karena sebagian tanaman telah terkena penyakit. Bagi warga, pilihan mereka sederhana: memanfaatkan apa yang ada, atau tidak makan.
Kata dia, keterbatasan makanan bukan satu-satunya masalah. Sejak gempa terjadi, warga juga belum berani kembali bekerja di kebun.
Mereka masih dibayangi gempa susulan. Apalagi, sebagian besar kebun warga berada di lereng dan punggung pegunungan.
Di sejumlah titik, tanah mengalami retakan dan longsor. kondisi ini membuat warga semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Jalan menuju pasar terdekat juga tertimbun material longsor. Akses yang terputus membuat warga semakin sulit mendapatkan bahan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Ketika rumah tidak lagi menjadi tempat yang aman, warga membangun tempat berlindung secara swadaya.
terpal dan bilah-bilah bambu menjadi dinding sementara.
di dalamnya, mereka berdesak-desakan untuk menghindari dinginnya malam pegunungan.
Namun terpal tipis tidak sepenuhnya mampu menahan udara dingin. Sejumlah warga mulai mengeluh batuk dan pilek. Karena itu, selain makanan, mereka juga membutuhkan obat-obatan dan perlengkapan untuk bertahan di pengungsian.
Warga lainnya, Niko Ndapa menyebutkan bagi warga, gempa membuka kembali persoalan lama yang selama ini mereka hadapi.
Jalan yang sulit dilalui kini menjadi semakin berbahaya karena longsor. Padahal, dalam situasi bencana, jalan menjadi urat nadi untuk menyalurkan bantuan dan menyelamatkan warga.
Baca juga: Presiden Prabowo ke Nagekeo, Bertemu Pengungsi Gempa Flores dan Kunjungi RSUD Aeramo
Ia mengaku sudah berulang kali menyampaikan persoalan akses jalan kepada pemerintah. Namun hingga kini, mereka masih menunggu perbaikan.
"Kini, di tengah keterbatasan makanan dan tempat tinggal, kami warga hanya bisa bertahan dengan apa yang kami miliki. Ubi dan pisang menjadi bukti bahwa dalam situasi paling sulit sekalipun, masyarakat disini tetap berusaha bertahan. Kami tidak meminta hidup mewah, kami hanya ingin merasa aman, mendapat makanan, obat-obatan, dan memiliki jalan yang bisa dilalui untuk kembali menjalani kehidupan,"ujarnya.
Ia mengatakan di tengah dinginnya malam serta ketakutan gempa susulan, harapan itu masih mereka titipkan kepada pemerintah.
Agar suara mereka didengar bukan hanya ketika musim politik tiba, tetapi terutama ketika mereka sedang membutuhkan pertolongan.
Dikutip dari https://nagekeokab.go.id/mediacenter/, Sabtu (22/8/2026) menyebutkan kejadian gempa besar berkekuatan Magnitude 7,7 yang terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA dengan pusat gempa di laut berjarak 30 Km Timur Laut Nagekeo pada kedalaman 15 km.
Gempa susulan tercatat sebanyak 5.012 kejadian gempa susulan hingga saat ini, dengan guncangan yang dirasakan 124 guncangan dengan magnitude berkisar M 3,1 hingga M 5,2.
Mereka mencatat sebanyak 13 orang korban meninggal akibat gempa. 30 orang luka-luka, luka ringan: 17 orang
luka berat 13 orang, 21.653 jiwa terdampak, 34.713 jiwa yang mengungsi hingga 21 Agustus 2026 pukul 23.00 WITA.
Berdasarkan data kerusakan rumah, tercatat sebanyak 7.194 unit rumah mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, 3.628 unit (50,47 persen) mengalami rusak ringan, 1.132 unit (15,73 persen) mengalami rusak sedang, dan 2.434 unit (33,83 persen) mengalami rusak berat.
Data tersebut menunjukkan bahwa kerusakan ringan merupakan kategori dengan jumlah rumah terbanyak, disusul oleh kerusakan berat dan kerusakan sedang.
Hingga 22 Agustus 2026, tercatat sebanyak 88 unit rumah ibadah, meningkat dari 85 unit pada 20 Agustus 2026 atau bertambah 3 unit. Selain itu, terdapat 53 unit perkantoran dan fasilitas lainnya, serta 86 unit fasilitas kesehatan. Untuk mendukung kebutuhan dasar masyarakat, tercatat pula 16 unit jaringan air bersih, yang terdiri atas 4 unit IKK (Ibu Kota Kecamatan) dan 12 unit jaringan air bersih di pedesaan. (kgg).