Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Balai Besar Wilayah Sungai atau BBWS Mesuji Sekampung menyiapkan langkah berbeda untuk menghadapi dua persoalan air yang muncul di Lampung, yakni banjir saat musim hujan dan kekeringan ketika musim kemarau.
Baca Juga: Jasad Korban Kecelakaan di Puncak Ciloto Cianjur dalam Perjalanan ke Pesawaran
Untuk persoalan banjir, BBWS Mesuji Sekampung tengah menyusun master plan pengendalian banjir di Kota Bandar Lampung.
Kepala BBWS Mesuji Sekampung Elroy Koyari mengatakan master plan tersebut sudah berkontrak dan saat ini dalam proses pengerjaan.
Master plan tersebut ditargetkan selesai akhir tahun 2026 dan akan dilengkapi dengan detail desain engineering (DED).
"Kita berharap akhir tahun ini sudah jadi. Dari master plan ini juga sudah ada detail desainnya. Mudah-mudahan tahun ini kita sudah punya bayangan umum bagaimana pengendalian banjir di Bandar Lampung," kata Elroy, Sabtu (22/8/2026).
Elroy mengatakan master plan tersebut disusun untuk menjadi dasar pelaksanaan penanganan banjir secara menyeluruh.
Implementasi fisiknya ditargetkan dapat dilakukan setelah master plan dan detail desain selesai.
"Kita kejar dua produk dalam satu tahun. Master plan plus DED, supaya tahun depan kita sudah punya bayangan mau ngapain," ujarnya.
Meski persoalan banjir umumnya terjadi saat hujan, Elroy mengatakan upaya pengendalian banjir juga harus disiapkan ketika musim kemarau.
Salah satu kunci yang tengah dikaji adalah menyediakan tempat penampungan air, seperti embung. Selain berfungsi menahan dan mengendalikan limpasan air ketika hujan, embung juga dapat menjadi cadangan air saat musim kemarau.
"Kita mesti pertama mencari tempat penampungan air. Itu kuncinya dulu, bisa berupa embung yang bisa membuat air itu dikendalikan karena sekarang tidak terkendali air kita kalau banjir," jelasnya.
BBWS juga akan mengkaji pelebaran sungai sesuai kondisi kawasan saat ini.
Hal tersebut dinilai penting karena kapasitas sungai yang ada dibangun berdasarkan kondisi 15 hingga 20 tahun lalu ketika ruang terbuka hijau masih lebih banyak.
"Sungai yang kita punya sekarang itu kondisi 15-20 tahun lalu yang ruang terbuka hijaunya masih banyak. Sekarang sudah hampir habis, maka sungai harus diperbesar karena limpasan makin besar," katanya.
Selain sungai, kapasitas saluran drainase juga akan dievaluasi dalam master plan.
Menurut Elroy, sejumlah saluran drainase di Bandar Lampung saat ini dinilai tidak lagi cukup menampung limpasan air ketika hujan deras.
"Saluran-saluran drainase nanti kita rekomendasi lagi karena hampir yang sekarang ini di kota ini hampir tidak cukup. Kalau hujan datang, dia sudah tidak bisa menampung," ujarnya.
Di tengah penyusunan pengendalian banjir, BBWS juga menghadapi persoalan berbeda saat musim kemarau, yakni menipisnya cadangan air di sejumlah bendungan dan menurunnya debit sungai.
Elroy mengatakan kondisi kekeringan saat ini terjadi cukup masif dan berdampak terhadap ketersediaan air di berbagai sumber.
"Cadangan-cadangan air di waduk-waduk ini sudah sangat tipis," kata Elroy.
Kondisi paling kritis, kata dia, berada di Bendungan Margatiga dan Bendung Jabung.
Ketersediaan air di dua lokasi tersebut sudah sangat terbatas, sementara kebutuhan air untuk wilayah Lampung Timur dan Lampung Selatan masih tinggi.
Sementara Bendungan Batutegi telah mencapai muka air minimum sehingga tidak bisa lagi mengeluarkan air dalam jumlah besar.
"Dari Batutegi sudah muka air minimum, tidak bisa lagi dibuka. Kalau dialirkan lagi dia kering, bendungannya bisa collapse. Ini yang harus kita jaga," jelasnya.
Saat ini, Bendungan Sekampung masih menjadi salah satu sumber air andalan.
Namun, cadangan air di bendungan tersebut diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar satu setengah bulan jika tidak ada tambahan pasokan dari hujan.
"Yang jadi andalan kita tinggal yang ada di Sekampung. Itu pun hanya bisa bertahan kira-kira satu setengah bulan ke depan," ungkapnya.
Menghadapi kondisi tersebut, BBWS mulai menyiapkan sejumlah sumber air alternatif.
Salah satunya melalui pemanfaatan air tanah dengan sumur bor dan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang disiapkan untuk dilaksanakan tahun ini.
BBWS juga mendorong pengembangan embung dan waduk-waduk kecil sebagai tempat penyimpanan air.
"Kita punya banyak potensi-potensi embung yang belum dikembangkan. Ini yang harusnya kita coba bikin waduk-waduk kecil, itu yang harusnya bisa digunakan di waktu-waktu kering seperti ini," ujar Elroy.
Selain embung, Elroy menilai rawa di Lampung juga memiliki fungsi penting sebagai penyimpan air alami.
"Seharusnya rawa itulah cadangan air kita yang bisa kita pakai di saat kering seperti ini. Ini yang banyak berubah. Kita berharap mungkin ke depan itu bisa dipertahankan rawa-rawa yang ada di Lampung ini," katanya.
BBWS juga melakukan distribusi air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.
Dalam sehari, sekitar 5.000 hingga 10.000 liter air bersih didistribusikan ke dua hingga tiga lokasi.
Penyaluran tersebut telah berlangsung sekitar satu bulan, dengan permintaan cukup tinggi antara lain dari Bandar Lampung dan Lampung Selatan.
"Kalau ada permintaan kita langsung kirim," kata Elroy.
Namun, distribusi air bersih masih terkendala minimnya tempat penampungan di sejumlah lokasi.
Karena itu, BBWS meminta pemerintah desa yang mengajukan bantuan menyiapkan bak penampungan agar air yang didistribusikan dapat dimanfaatkan lebih banyak warga.
"Kita berharap di daerah yang minta, saya sudah minta kepala desa paling tidak siapkan bak, supaya banyak yang bisa kita layani," pungkasnya.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)