BANGKAPOS.COM, BANGKA – Kementerian Pertanian mengalokasikan program perluasan dan rehabilitasi lahan sawah seluas sekitar 600 hektare di Kabupaten Bangka Selatan pada 2026.
Program tersebut terdiri atas Optimalisasi Lahan (Oplah) sekitar 100 hektare dan rehabilitasi sawah sekitar 500 hektare yang tersebar di sejumlah desa.
Langkah itu disiapkan untuk meningkatkan produktivitas padi sekaligus memperkuat kapasitas produksi beras daerah.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bangka Selatan, Luhung Amin Firdaus, berujar penambahan luas lahan berasal dari program strategis Kementerian Pertanian. Terutama adalah Optimalisasi Lahan (Oplah) yang dilaksanakan di Desa Fajar Indah, Kecamatan Pulau Besar.
Program tersebut difokuskan pada perbaikan tata air dan penataan lahan agar sawah dapat ditanami lebih optimal.
“Tahun ini ada beberapa penambahan luasan lahan melalui kegiatan dari Kementerian, salah satunya Oplah di Desa Fajar Indah sekitar 100 hektare,” ujar dia kepada Bangkapos.com, Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya selain Oplah, pemerintah juga menjalankan program rehabilitasi sawah seluas sekitar 500 hektare. Lokasinya tersebar di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Desa Fajar Indah, Desa Panca Tunggal, Kecamatan Pulau Besar serta beberapa wilayah lain yang merupakan sentra pertanian.
Rehabilitasi dilakukan untuk memulihkan fungsi lahan melalui perbaikan saluran irigasi, tata air, dan kondisi lahan agar kembali produktif.
Program Oplah dan rehabilitasi sawah tidak hanya berorientasi pada penambahan luasan lahan produktif, tetapi juga diarahkan untuk mendongkrak hasil produksi padi di Bangka Selatan.
Melalui perbaikan tata air, saluran irigasi, dan penataan lahan, pemerintah berharap frekuensi tanam maupun produktivitas petani dapat meningkat.
Peningkatan produksi tersebut diharapkan berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani sekaligus mendorong kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) di Bangka Selatan.
“Kalau rehab sawah luasannya sekitar 500 hektare dan tersebar di beberapa lokasi seperti Rias, Fajar Indah, dan Panca Tunggal,” jelas Luhung.
Di tengah pengembangan lahan tersebut, produksi padi Bangka Selatan pada Musim Tanam (MT) II tahun 2026 telah mencapai 18.232,95 ton.
Produktivitas rata-rata juga meningkat menjadi 4,51 ton per hektare dibandingkan 4,02 ton per hektare pada 2025. Peningkatan hasil panen itu menjadi modal penting dalam mengejar target produksi tahunan.
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan menargetkan produksi padi mencapai 32.000 ton hingga akhir 2026.
Hingga MT II, realisasi produksi telah melampaui 55 persen dari target sehingga peluang mencapainya dinilai cukup besar.
Luhung menyebut capaian tersebut membuat pihaknya tetap optimistis meski musim kemarau mulai berlangsung.
“Sampai MT II kita sudah berada di atas 55 persen dari target 32.000 ton dan kami masih optimistis target itu tercapai,” katanya.
Saat ini pola tanam diterapkan adalah tiga masa tanam, yakni MT I pada Oktober–Februari, MT II Maret–Mei/Juni, dan MT III Juni–Oktober.
Sebagian besar petani menanam dua kali setahun, sedangkan panen MT III umumnya berlangsung pada awal tahun berikutnya.
Meski produksi terus meningkat, Dinas Pertanian tetap mewaspadai dampak El Nino Godzilla terhadap ketersediaan air di lahan sawah.
Pemerintah telah menyiapkan berbagai upaya mitigasi, terutama melalui perbaikan infrastruktur air untuk menjaga keberlangsungan musim tanam ketiga.
Langkah tersebut diharapkan mampu menekan risiko penurunan produksi akibat kekeringan.
Dari sisi ketahanan pangan, produksi beras Bangka Selatan kini telah mencukupi kebutuhan masyarakat di tingkat kabupaten berdasarkan perhitungan kebutuhan beras per kapita.
Namun, kontribusinya terhadap kebutuhan beras Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih sekitar 33 hingga 35 persen.
Menurut Luhung, produksi daerah perlu ditingkatkan hingga sekitar 100.000 ton per tahun agar mampu menopang swasembada beras tingkat provinsi.
“Kalau ingin memenuhi kebutuhan Bangka Belitung secara menyeluruh, produksi kita harus digenjot hingga minimal 100.000 ton,” pungkas Luhung.
(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)