Laporan Wartawan TribunJatim.com, Madchan Jazuli
TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Klub sepak bola asal Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Shrimp Army, memilih menggelar turnamen sepak bola antarklub se-Eks Karesidenan Kediri di Stadion Rejoagung, Kabupaten Tulungagung.
Turnamen bertajuk Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026 tersebut dijadwalkan mulai bergulir pada 26 September 2026.
CEO Shrimp Army, Anjar Priadi Putra, mengatakan kompetisi tersebut terbuka bagi klub-klub senior dari wilayah Eks Karesidenan Kediri.
"Rencananya pada 26 September nanti kami akan memulai turnamen dengan tajuk Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026. Ini adalah turnamen antarklub se-Eks Karesidenan Kediri," ujar Anjar.
Turnamen tersebut akan diikuti maksimal 32 tim dengan total hadiah uang pembinaan mencapai Rp50 juta.
Hingga Sabtu (22/8/2026), sebanyak 31 tim telah mendaftarkan diri. Artinya, hanya tersisa satu slot peserta.
Berdasarkan data sementara, peserta yang telah mendaftar terdiri dari 17 tim asal Tulungagung, delapan tim dari Kediri, tiga tim dari Blitar, dua tim dari Trenggalek, serta satu tim dari Kabupaten Nganjuk.
Baca juga: Askab PSSI Trenggalek Tak Bisa Gunakan Stadion Menak Sopal, Dispora Sebut Sudah Disewa Pihak Lain
Pendaftaran masih dibuka hingga 12 September 2026 atau akan ditutup lebih cepat apabila kuota 32 tim telah terpenuhi.
"Kami juga pasti bekerja sama dengan beberapa pihak yang memungkinkan untuk membantu dan bekerja sama dengan kami," ujarnya.
Sempat Berharap Digelar di Trenggalek
Anjar mengatakan, keputusan menggelar turnamen di Tulungagung bukan tanpa alasan.
Sebagai putra Trenggalek, ia sebenarnya berharap turnamen tersebut dapat digelar di daerah asalnya.
Namun, perkembangan situasi terkait penyelenggaraan kegiatan sepak bola di Trenggalek menjadi salah satu pertimbangan Shrimp Army memilih Tulungagung sebagai lokasi turnamen.
"Secara prinsip sebenarnya sebagai putra Trenggalek kita berharap ini bisa digelar di Trenggalek. Tapi dari perkembangan situasi beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa ini masih belum memungkinkan untuk digelar," jelasnya.
Baca juga: Muncul Usulan Lapangan Alternatif di Trenggalek Selain Stadion Menak Sopal
Ia menyebut, sejumlah persoalan terkait penyelenggaraan event turnamen sepak bola di Trenggalek menjadi pertimbangan pihaknya.
Sebaliknya, rencana penyelenggaraan turnamen di Tulungagung mendapat sambutan positif dari sejumlah pihak.
"Kami disambut baik dari KONI, dari Dispora, kemudian dari Askab PSSI Tulungagung juga. Bahkan, bupati menyambut baik rencana kegiatan kami," beber Anjar.
Meski memilih Tulungagung sebagai lokasi turnamen tahun ini, Shrimp Army tidak menutup kemungkinan menjadikan Trenggalek sebagai tuan rumah pada masa mendatang.
Anjar mengatakan, pihaknya masih akan melihat perkembangan sepak bola di Trenggalek, terutama terkait mekanisme dan rekomendasi penyelenggaraan turnamen.
Ia menyinggung penyelenggaraan turnamen antar sekolah yang sebelumnya tidak mendapatkan rekomendasi dan berujung pada pemberian sanksi terhadap perangkat pertandingan.
"Kalau saya sedikit menoleh ke belakang, kemarin ada turnamen antarsekolah yang sampai justru tidak mendapat rekomendasi dan pada ujungnya sempat wasit itu disanksi. Ada sembilan wasit yang disanksi sampai satu tahun," ungkapnya.
Menurut Anjar, kondisi tersebut menjadi pertimbangan agar pihaknya tidak menggelar kegiatan dengan menabrak mekanisme yang berlaku.
"Saya masih terus akan mempelajari ini. Kalau memang memungkinkan ke depan, insyaallah tentu menjadi sebuah kebanggaan bisa menggelar ini di tanah kelahiran sendiri, di Trenggalek," bebernya.
Soroti Pembinaan Pemain
Selain persoalan penyelenggaraan turnamen, Anjar juga menyoroti kondisi sepak bola di Trenggalek.
Ia menilai perlu ada evaluasi bersama terhadap sistem sepak bola di daerah tersebut agar tidak semakin tertinggal.
Ia juga menyebut persoalan yang dialami Shrimp Army terkait akun SIAP menjadi salah satu catatan dalam melihat sistem sepak bola di Trenggalek.
"Tentu hal itu jadi catatan. Secara sistem di Trenggalek ini mungkin kita harus bersama-sama untuk mengevaluasi dan punya keinginan untuk melakukan perubahan agar Trenggalek tidak semakin ketinggalan," ujarnya.
Anjar menilai terdapat kesenjangan dalam pembinaan sepak bola antara Trenggalek dan Tulungagung.
"Kalau kita hanya membandingkan antara Trenggalek dan Tulungagung itu kan juga sudah sangat jauh secara gap pembinaan yang ada di Tulungagung dan di Trenggalek. Tentu ini sangat disayangkan, padahal jarak Tulungagung dan Trenggalek tidak terlalu jauh," lanjutnya.
Untuk sementara, Shrimp Army mencatat terdapat 17 tim asal Tulungagung yang telah mendaftar.
Sementara dari Trenggalek, terdapat dua tim, masing-masing dari Kecamatan Gandusari dan Watulimo.
Anjar menambahkan, berdasarkan hasil diskusi dengan KONI dan Askab PSSI Tulungagung, turnamen tersebut direncanakan menjadi agenda tahunan.
Turnamen ini sekaligus digelar untuk menyambut Hari Jadi ke-821 Kabupaten Tulungagung pada 2026.
Sebagai informasi, per Sabtu (22/8/2026) data sementara peserta Turnamen Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026 dari Tulungagung 17 tim, Kediri 8 tim.
Lalu, dari Blitar 3 tim, Trenggalek 2 tim serta dari Kabupaten Nganjuk ada 1 tim. Sehingga total sudah 31 tim yang mendaftar, tinggal 1 tim tersedia.