Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI – Masyarakat pemilik hak ulayat memblokir akses jalan alternatif dari Kleblouw menuju samping Dapur Papua, Kampung Netar (Nendali), Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Sabtu (22/8/2026).
Aksi pemalangan tersebut dilakukan dengan menimbun batu, pasir, serta melintangkan batang pohon di tengah jalan hingga melumpuhkan lalu lintas.
Tak hanya jalan alternatif, warga juga sempat menutup akses masuk menuju Dermaga Kalkhote yang menjadi lokasi pelaksanaan Festival Danau Sentani (FDS) XV.
Penutupan jalan ini memicu respons cepat dari Penjabat Bupati Jayapura, Yunus Wonda, yang langsung turun ke lokasi untuk menemui warga dan menenangkan situasi.
Baca juga: Pj Sekda Puncak Jaya Larang ASN Terlibat Miras dan Judi, Warga Diimbau Hentikan Pemalangan Jalan
Ondofolo Nendali, Yan Pit Ebha Wally, menjelaskan bahwa aksi ini dipicu kekecewaan masyarakat atas penundaan pembayaran ganti rugi tanah yang belum diselesaikan selama delapan tahun, tepatnya sejak persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 lalu.
"Kita punya masalah lama selama 8 tahun. Bapa Bupati juga orang yang baru, jadi jangan saling curiga. Mari kita selesaikan bersama demi kepentingan bersama," ujar Yan Pit di lokasi kejadian, Sabtu.
Yan Pit menegaskan, tuntutan utama masyarakat adalah kejelasan pembayaran ganti rugi lahan untuk proyek jalan alternatif PON, bukan untuk menggagalkan agenda FDS.
"Kami tidak memalang FDS, tetapi memalang persoalan jalan alternatif. Tidak boleh palang FDS. Semua sepakat dengan apa yang kami perjuangkan. Jika FDS berjalan, kita semua mendapat bagian dari situ untuk pemasukan rumah tangga," tegasnya.
Baca juga: Pemalangan Jalan Waibron Berimbas Sampah Tertampung di Kota, Ini Kata Bupati Jayapura
Ia mendesak agar Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Jayapura segera memberikan kepastian pelunasan atas lahan terdampak.