TRIBUN-TIMUR.COM - Satu jam lebih Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan keynote speech dalam Musyawarah Daerah ke-9 Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan, Musda IX MUI Sulsel. Andi Amran menjadi pembicara pertama setelah acara dibuka oleh Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman di Ballroom Ballroom Four Points By Sheraton, Jalan Andi Djemma, Makassar, Sabtu siang, 22 Agustus 2026.
Master Ceremony juga memperkenalkan Andi Amran juga sebagai Kepala Badan Ketahanan Pangan Nasional.
“Yang saya hormati dan saya banggakan Gubernur Sulawesi Selatan. Yang saya hormati dan saya banggakan Bapak Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko. Ini sahabat saya. Terima kasih. Saya lihat ceramah di kampus,” ujar Mentan Andi Amran.
“Yang saya hormati ….” suara mentan terhenti. Tak terdengar. Mike ngadat. Senyap. Beberapa panitia mengganti mike. Terdengar suara mentan, “Ini panitia belikan nanti ini, yah!”
Mentan lanjutan ucapan penghormatan. “Yang terhormat saya Sekjen MUI, Pak Kiai Buya Dr Amirsyah Tambunan. Yang saya hormati Bapak Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sulsel Bapak Prof Dr Kiai Haji M Faried Wadjedy MA. Yang saya hormati Ketua Umum MUI Sulsel Bapak Prof Dr H Najmuddin. Ini Guru saya. Kalau beliau yang undang, pasti kita pulang. Ada juga anggota DPR RI Ibu Meiti. Yang saya hormati Bapak Wakil Ketua Umum MUI Sulsel Bapak Prof Dr HM Ghalib, Bapak Prof Dr KH Hamzah Harun Al Rasyid, KH Mustari Bosra, Sekretaris Ketua Komisi Fatwa MUI KH Miftahul Huda,” kata Mentan Amran.
Ucapan penghormatan masih berlanjut hingga ke Rektor Universitas Islam Makassar (UIM).
“Yang terhormat Bapak Rektor Universitas Islam Makassar, Prof Dr KH Muammar Bakry. Ini sahabat saya. SMS tiga kali sehari.” Tepuk tangan hadirin mengiringi deklarasi persahabatan Andi Amran Sulaiman dengan Prof Muammar Bakry.
Selebihnya mentan lebih banyak menggunakan Bahasa Bugis.
Bahasa Bugis yang digunakan mentan sangat halus dan khas. Hingga kadang merasa kesulitan segera menemukan padanannya dalam Bahasa Indonesia.
“Agah asennaroh pammase, apa bahasa anunya… Berkah… yah berkah,” katanya mencoba menerjemahkan diksi Bahasa Bugis “pammase” ke Bahasa Indonesia.
Selanjutnya mentan bicara tentang beras sebagai tulang punggung ketahanan pangan.
“Kami ingin melaporkan, bukan pidato, melaporkan apa yang kami lakukan merantau di negeri orang. Apa capaian selama dua tahun pemerintahan? Apa capaian kita?” Katanya.
Yang pertama, lanjut mentan, adalah pasti pangan. Pangan adalah beras identik. Kenapa 90 persen konsumsi kita beras dari pangan itu? Bahkan di kampung kalau saya dulu itu 98 % .
“Kenapa 2 % garam dengan ikan kering sedikit? Jadi kenapa diidentikkan pangan adalah beras? Nah, ada yang tambah tempe, ada yang tambah tahu, ada tambah jengkol. Tapi kami di desa, saya di desa waktu itu ya ada nasi, ada ikan tuing-tuing, ikan terbang. Itu pun kepalanya tambah sedikit garam. Sudah biasa itu. Ditambah cempah, massipa’,” jelas mentan.
“Maaf Pak Jenderal, Pak Pangdam, nanti diterjemahkan,” ujar Andi Amran tersebut.
Dalam orasinya di hadapan para ulama dan pimpinan daerah, Mentan menegaskan bahwa urusan pangan, khususnya beras, adalah pilar utama keberlangsungan bangsa yang tak boleh dipermainkan.
Mengawali pidatonya, Mentan menekankan pentingnya kepastian stok pangan nasional. Bagi masyarakat Indonesia, pangan amat diidentikkan dengan beras.
Prinsip dasar ini menjadi pegangan bahwa kedaulatan negara sangat bergantung pada kemampuan memberi makan rakyatnya sendiri tanpa ketergantungan penuh pada impor.
Komitmen Swasembada dan Tantangan Kebijakan Mentan Amran juga mengenang momentum penting saat dirinya dipanggil oleh Presiden untuk mengemban amanat di sektor pertanian. Di tengah skeptisisme publik dan tantangan birokrasi, target swasembada pangan dicanangkan dalam waktu singkat.
"Bagi kami, orang Sulawesi, orang Makassar-Bugis, pilihannya hanya satu: berhasil atau tidak sama sekali. Apapun risikonya, janji dan komitmen harus ditegakkan," tegas Amran.
Hasil dari kerja keras dan konsolidasi lintas sektor tersebut membuktikan bahwa Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan tercepat sepanjang sejarah Republik, sekaligus menjaga stok beras nasional berada pada level tertinggi di tengah ancaman krisis iklim global.
Di samping capaian swasembada, Mentan Amran membeberkan dinamika keras di industri kelapa sawit, khususnya praktik under-invoicing (penurunan nilai faktur) oleh oknum-oknum yang merugikan negara hingga ribuan triliun rupiah.
Ia menceritakan bagaimana permainan harga di tingkat korporasi ekspor kerap mengorbankan para petani kecil yang harga Tandan Buah Segar (TBS)-nya diturunkan secara sepihak. Ketika kebijakan "Satu Pintu" diberlakukan untuk menutup celah kecurangan tersebut, muncul perlawanan sengit dari mafia pangan dan oknum-oknum pengimpor.
"Mereka menyerang lewat media sosial, memfitnah, dan membangun narasi buruk. Namun, orang yang mengkritik dan memfitnah kita dengan niat buruk pada dasarnya adalah guru terbaik untuk melatih kesabaran," ujarnya menirukan nasihat spiritual yang sering diterimanya dari para ulama.
Ia menegaskan tidak akan mundur sedikit pun dalam memberantas praktik koruptif di sektor pertanian. Sejumlah oknum dan perusahaan yang terbukti bermain dalam distribusi pupuk maupun ekspor ilegal kini telah diproses hukum dan dicopot dari jabatannya.
Menutup pidatonya, Andi Amran Sulaiman menyampaikan pesan moral yang mendalam mengenai tanggung jawab kepemimpinan. Dalam situasi darurat bencana atau krisis pangan rakyat, birokrasi yang berbelit harus dikesampingkan demi kemanusiaan.
"Lebih baik saya dihukum di dunia karena membela kepentingan rakyat dan kemanusiaan, daripada harus menanggung hukuman di akhirat kelak," pungkasnya.
Melalui pidato tersebut, Mentan mengajak para ulama dan ulil amri di Sulawesi Selatan untuk terus mendoakan serta mengawal perjuangan menegakkan keadilan di sektor pangan, demi tercapainya kesejahteraan petani dan ketahanan nasional yang berkelanjutan.(*)