Gaya Presiden Prabowo Subianto Saat Tinjau Karhutla di Kalimantan, Tidak Pakai Masker
Ardhi Sanjaya August 22, 2026 07:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Presiden RI, Prabowo Subianto terjun langsung meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Sabtu (22/8/2026).

Pantauan di tayangan live kanal YouTube Sekretariat Presiden RI, Prabowo mengenakan pakaian safari warna khaki yang khas dengan penampilannya, berjalan menelusuri jalan setapak, dengan rimbun semak dan pohon di kanan kiri.

Ketua Umum Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) itu terlihat tidak memakai masker, sedangkan para petugas yang memadamkan api kebakaran mengenakan penutup muka dari kain maupun masker khas pemadam kebakaran, Full Face Mask Breathing Apparatus.

Ia hanya mengenakan topi warna biru tua dan kacamata hitam.

Di sekitar lokasi, tampak kabut asap berwarna putih masih menyelimuti.

Prabowo berjalan didampingi Sekretaris Kabinet RI (Seskab) Teddy Indra Wijaya dan Menteri Sekretaris Negara RI (Mensesneg) Prasetyo Hadi beserta rombongan.

Dalam momen tersebut, Prabowo melambaikan tangan kepada para petugas, dan sejumlah petugas pemadam kebakaran juga terlihat menyalami Prabowo.

Prabowo juga sempat berbincang-bincang dengan beberapa petugas Direktorat Samapta Polda Kalbar, sembari menepuk punggung salah satu petugas, seolah memberikan apresiasi.

Namun, tidak terdengar percakapan mereka.

Adapun agenda kunjungan Prabowo ke Kalimantan juga diumumkan melalui unggahan di akun resmi Sekretariat Kabinet RI di media sosial Instagram  @sekretariat.kabinet, Sabtu (22/6/2026) pagi.

Dalam unggahan tersebut, dijelaskan bahwa Prabowo bertolak ke Kalimantan untuk mengecek dan memimpin langsung penanganan serentak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sehari sebelumnya atau Jumat (21/8/2026), Prabowo disebut telah menginstruksikan para pejabat utama TNI dan Polri untuk turun langsung bersama pemerintah daerah dan masyarakat setempat menangani karhutla di empat provinsi terdampak di Kalimantan.

Pembagian tugas dilakukan untuk memastikan penanganan di lapangan berjalan lebih cepat, terpadu, dan serentak, dengan rincian sebagai berikut:

Di Kalimantan Barat: Panglima TNI dan Kapolri.

Di Kalimantan Tengah: KSAD dan Wakapolri.

Di Kalimantan Selatan: KSAL dan Astamaops Polri.

Di Kalimantan Timur: Wakil Panglima TNI dan Komandan Korps Brimob Polri.

Prabowo juga menginstruksikan agar penanganan karhutla dilakukan secepat dan seoptimal mungkin sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan normal.

Ia meminta setiap pelanggaran hukum yang ditemukan ditindak secara tegas sesuai ketentuan yang berlaku.

Prabowo memimpin rapat terbatas (ratas) bersama sejumlah menteri, pimpinan lembaga, serta jajaran pemerintah daerah terkait penanganan karhutla di Posko Satgas Udara Pangkalan TNI AU Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Sabtu pagi.

Dalam kesempatan itu, Prabowo menegaskan bahwa kedatangannya ke Kalimantan Barat bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi nyata di lapangan sekaligus memperoleh laporan mengenai situasi terkini. 

“Saya datang untuk melihat keadaan setempat yang nyata. Sekarang saya minta siapa yang bisa kasih saya presentasi tentang situasi,” ujar Prabowo, dikutip dari laman resmi Presiden Republik Indonesia, presidenri.go.id.

Sebagai informasi, ada 8 pimpinan kementerian/lembaga dari pusat, 10 pimpinan pemerintah daerah, gubernur, kapolda, pangdam, Basarnas, BMKG, dan BNPD dari Daerah, di Posko Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan. 

Sementara, Tenaga Ahli Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Brigjen TNI (Purn.) Asrianus Bulo menyampaikan hasil pemantauan titik panas atau hotspot selama 24 jam berdasarkan pantauan satelit.

Dari pemantauan tersebut, terdeteksi 198 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Kalimantan Barat.

Selain itu, Bulo melaporkan terdapat 3.100 hotspot dengan tingkat kepercayaan menengah dan 406 dengan tingkat kepercayaan rendah.

Menurutnya, sebaran titik panas tersebut terutama berada di sejumlah kabupaten di bagian selatan dan timur Kalimantan Barat.

“Kami laporkan bahwa titik hotspot ini didominasi di wilayah Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Kayong Utara di wilayah sektor Selatan. Kemudian di wilayah timur juga Kabupaten Sanggau, Sintang, dan Sambas,” kata Bulo.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di Kalimantan Barat sepanjang 2026. 

Hingga akhir Juli, total luasan lahan yang terbakar di provinsi tersebut telah mencapai 38.310,86 hektare, dengan Kabupaten Ketapang tercatat sebagai wilayah dengan area terbakar paling luas.

Data tersebut tercantum dalam Informasi Bencana Karhutla 2026 BPBD Kalimantan Barat. Sebaran kebakaran terjadi hampir di seluruh wilayah kabupaten/kota, dengan tingkat luasan yang berbeda-beda.

Ketapang berada di posisi teratas dengan luas lahan terbakar mencapai 12.443,79 hektare. Setelah itu, Kabupaten Kubu Raya mencatat 8.614,31 hektare, sedangkan Kabupaten Mempawah mencapai 6.144,98 hektare.

Tiga wilayah tersebut menjadi daerah yang paling banyak menyumbang luasan karhutla di Kalimantan Barat. 

Jika digabungkan, Ketapang, Kubu Raya dan Mempawah menyumbang lebih dari 27 ribu hektare lahan terbakar hingga Juli 2026.

Selain tiga daerah tersebut, kebakaran juga terjadi di sejumlah kabupaten dan kota lainnya di Kalimantan Barat.

Kabupaten Kayong Utara mencatat lahan terbakar seluas 4.228,10 hektare, disusul Kabupaten Sambas dengan 2.318,48 hektare, dan Kabupaten Bengkayang sebanyak 1.596,15 hektare.

Sementara itu, Kabupaten Landak mencatat 853,68 hektare lahan terbakar. Kemudian Sanggau sebanyak 620,88 hektare, Kapuas Hulu 450,38 hektare, dan Kota Singkawang mencapai 377,76 hektare.

Adapun Kota Pontianak tercatat mengalami kebakaran lahan seluas 295,29 hektare. Berikutnya Kabupaten Melawi 172,21 hektare, Kabupaten Sintang 139,98 hektare, dan Kabupaten Sekadau 55,03 hektare.

Besarnya luasan lahan yang terbakar tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla di Kalimantan Barat masih membutuhkan perhatian serius, terutama di tengah kondisi cuaca kering dan keberadaan lahan gambut yang memiliki karakteristik mudah terbakar.

(Tribunnews.com/Rizki A.) (TribunPontianak.co.id/Anggita Putri)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.