Wamendagri Wiyagus Dorong Mahasiswa Untad Jadi Garda Terdepan Penanggulangan Tuberkulosis di Sulteng
Mochamad Dipa Anggara August 22, 2026 08:19 PM

WARTAKOTALIVE.COM, PALU – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus mendorong mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) mengambil peran lebih besar dalam mempercepat penanggulangan tuberkulosis (TB) di Sulawesi Tengah.

Dorongan itu disampaikan Wiyagus dalam acara Percepatan Penuntasan TB di Untad, Sulawesi Tengah, Sabtu (22/8/2026).

Ia menitipkan empat peran kepada mahasiswa agar turut menjadi penggerak dalam upaya penanggulangan TB di tengah masyarakat.

Pertama, mahasiswa didorong menjadi agen skrining awal di lingkungan keluarga dengan mengenali dan membantu menemukan gejala TB.

Kedua, mahasiswa dapat menjadi pendamping pasien untuk membantu mencegah terjadinya putus obat sekaligus mengurangi stigma terhadap penderita TB.

Ketiga, mahasiswa diharapkan aktif menggerakkan kampanye digital dan menghasilkan riset inovatif terkait penanggulangan TB.

Keempat, mahasiswa dapat terlibat langsung di masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), khususnya di tingkat desa.

Wiyagus mengapresiasi program Berani Magaya yang digagas Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Untad.

Menurutnya, program tersebut menunjukkan bahwa generasi muda dapat mengambil peran nyata dalam menjaga kesehatan masyarakat.

“Program Berani Magaya adalah bukti bahwa generasi muda Sulawesi Tengah tak hanya menjadi penonton, kemudian tidak hanya berdiam diri tetapi turun langsung ke lapangan menjaga kesehatan keluarganya dan menyayangi masyarakatnya dari ancaman TB,” ujar Wiyagus.

Ia menilai keterlibatan mahasiswa dapat memperluas jangkauan upaya penanggulangan TB karena mahasiswa memiliki ruang untuk berinteraksi langsung dengan keluarga dan masyarakat.

Meski demikian, Wiyagus menegaskan penanggulangan TB tetap menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Pelayanan kesehatan merupakan urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar sehingga pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota wajib menjalankan penanggulangan TB sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Menurut Wiyagus, tantangan penanggulangan TB juga membutuhkan kerja sama lintas sektor.

Ketidakpastian geopolitik global turut berpotensi memengaruhi rantai pasok obat-obatan sehingga penanganan TB tidak dapat hanya mengandalkan Kementerian Kesehatan.

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan berbagai elemen masyarakat perlu terlibat dalam upaya tersebut.

“Kita tidak butuh superman, yang kita butuhkan adalah super team sehingga apa pun masalahnya bisa diselesaikan dalam rangka menuju masyarakat adil dan makmur,” tegasnya.

Wiyagus berharap model penanganan TB berbasis kampus yang dipelopori Untad dapat diterapkan di perguruan tinggi lainnya.

"Dengan semakin luasnya keterlibatan kampus dan generasi muda, upaya penanggulangan TB diharapkan dapat berjalan lebih masif dan mendukung percepatan target eliminasi TB," ungkapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.