9 Kecamatan di Sulawesi Tenggara Masuk Kategori Awas Kekeringan, Sudah 60 Hari Tanpa Hujan
Desi Triana Aswan August 22, 2026 08:49 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Sebanyak sembilan kecamatan di Sulawesi Tenggara (Sultra) masuk kategori awas kekeringan meteorologis berdasarkan pemutakhiran analisis dan prediksi curah hujan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Berdasarkan data BMKG, sembilan kecamatan yang masuk kategori tersebut tersebar di empat kabupaten dan kota.

Wilayah tersebut yakni Kecamatan Bungi di Kota Baubau.

Kemudian, Kabaena Selatan, Kabaena Tengah, Poleang Barat, Poleang Timur, dan Poleang Utara di Kabupaten Bombana.

Talaga Raya di Kabupaten Buton Tengah, serta Polinggona dan Toari di Kabupaten Kolaka.

Kepala Stasiun Klimatologi (Kasklim) BMKG Sultra, Kusairi mengatakan status awas menandakan wilayah tersebut memiliki tingkat risiko kekeringan yang perlu mendapat perhatian lebih, terutama terkait ketersediaan air dan potensi kebakaran lahan.

Data Monitoring Hari Tanpa Hujan BMKG per 20 Agustus 2026 mencatat kondisi lebih dari 60 hari tanpa hujan terjadi di Kecamatan Bungi, Kota Baubau.

Kemudian, Poleang Barat dan Poleang Timur, Kabupaten Bombana, serta Toari, Kabupaten Kolaka.

Baca juga: Bombana, Kolaka Timur, Buton Utara, Muna, dan Mubar Tetapkan Status Darurat Kekeringan

“Ancaman tersebut diperkuat dengan kondisi curah hujan Sultra yang masih rendah. Pada pertengahan Agustus 2026, seluruh wilayah Sultra tercatat mengalami curah hujan 0-20 milimeter per dasarian,” kata Kusairi saat dikonfirmasi, Sabtu (22/8/2026).

Kondisi tersebut diperkirakan berlanjut hingga penghujung Agustus. 

BMKG memperkirakan seluruh wilayah Sultra memiliki peluang tinggi mengalami curah hujan maksimal 50 milimeter per dasarian.

Secara umum, curah hujan rendah masih berpotensi terjadi hingga akhir September.

“Namun, hujan diperkirakan mulai meningkat di sejumlah wilayah Sultra bagian utara pada awal September,” ujarnya.

Selain kategori awas, BMKG menetapkan sejumlah wilayah dalam status siaga. 

Wilayah tersebut tersebar di Baubau, Bombana, Buton Selatan, Buton Tengah, Buton Utara, Kolaka, Kolaka Timur, Konawe, Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, Muna, Muna Barat, dan Wakatobi.

Di Konawe Kepulauan, wilayah yang masuk kategori siaga antara lain Wawonii Selatan, Wawonii Tengah, Wawonii Timur, Wawonii Timur Laut, dan Wawonii Utara.

Sementara di Konawe Selatan, status tersebut mencakup Andoolo, Andoolo Barat, Baito, Benua, Buke, Kolono, Kolono Timur, Konda, Lainea, Laonti, Moramo, Moramo Utara, Palangga Selatan, dan Tinanggea.

Untuk Kabupaten Muna, sejumlah wilayah berstatus siaga meliputi Katobu, Kabawo, Kabangka, Lohia, Lasalepa, Napabalano, Tongkuno, Tongkuno Selatan, dan Watopute.

Kota Kendari juga masuk dalam pemetaan BMKG, tetapi berada pada kategori waspada kekeringan.

Seluruh kecamatan di Kota Kendari tercatat dalam kategori tersebut, yakni Abeli, Baruga, Kadia, Kambu, Kendari, Kendari Barat, Mandonga, Nambo, Poasia, Puuwatu, dan Wua-Wua.

Kategori waspada juga mencakup sejumlah wilayah di Baubau, Bombana, Buton, Buton Selatan, Buton Tengah, Buton Utara, Kolaka, Kolaka Timur, Konawe, Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, Muna, dan Muna Barat.

Kusairi mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kondisi kering, terutama di daerah yang telah mengalami periode panjang tanpa hujan.

Selain itu, masyarakat agar menghemat penggunaan air serta mewaspadai potensi kebakaran lahan yang dapat meningkat ketika kondisi lingkungan semakin kering.

“Seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara diharapkan terus waspada terhadap berbagai dampak perubahan iklim di sekitar kita. Pastikan update informasi cuaca dan iklim yang didapatkan dari sumber terpercaya di akun-akun resmi BMKG,” jelasnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.