TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG -Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Sumarno menyebut, rencana pelaksanaan proyek geotermal Gunung Ungaran akan disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat. Ia menekankan, masyarakat sekitar harus memahami dampak-dampak dari pembangunan proyek gas bumi sebesar 55 Megawatt (MW) tersebut.
"Kami akan menyampaikan dampak-dampak kepada masyarakat, tidak masalah dampak negatifnya dan dari sisi keamanan," ujar Sumarno kepada Tribun, Sabtu (22/8/2026).
Rencana proyek geotermal Gunung Ungaran mencuat selepas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menerbitkan Surat Keputusan (SK) izin pemanfaatan energi panas bumi di wilayah kerja Gunung Ungaran, pada Rabu (19/8/2026).
Proyek tersebut dekat dengan kawasan cagar budaya Candi Gedong Songo yang kini masuk dalam tahap kajian ulang.
Masyarakat sekitar proyek pemanfaatan energi panas bumi itu juga belum mendapatkan sosialisasi.
"Penjelasan bagaimana dampak (proyek) terhadap masyarakat sekitar juga harus menjadi perhatian," sambung Sumarno.
Pemprov Jateng Dukung Proyek Demi Kemandirian Energi
Sumarno mengaku, belum memperoleh dokumen lengkap terkait dengan rencana proyek eksplorasi panas bumi yang akan digarap PT PLN (Persero) dan PT Geo Dipa Energi tersebut.
Namun, ia menyebut, bakal mendukung proyek itu sebagai bagian dari program kemandirian energi.
"Kami secara konsep memberikan dukungan untuk geotermal karena Jateng punya masalah besar terkait kemandirian energi. Dari jadi kalau ada potensi dalam negeri tentu saja harus dioptimalkan," bebernya.
Ia beralasan mendukung proyek eksplorasi gas alam tersebut agar terbebas dari ketergantungan gas impor Liquefied Petroleum Gas (LPG), bersumber dari gas minyak bumi yang dicairkan.
Agar lepas dari ketergantungan tersebut salah satunya dengan memaksimalkan Compressed Natural Gas (CNG) atau gas alam terkompresi yang berasal dari gas bumi.
"Kami punya BUMD, mungkin pertama di Indonesia, yang mendorong untuk penggunaan CNG yang merupakan 100 persen produk dalam negeri. berbeda dengan LPG dari impor," bebernya. (Iwn)