Perbedaan Wedang Uwuh dengan Wedang Secang Khas Jogja
Joko Widiyarso August 22, 2026 10:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Yogyakarta dan daerah sekitarnya memiliki ragam kekayaan kuliner berupa minuman
tradisional yang berkhasiat menghangatkan tubuh.

Di antara sekian banyak ragamnya, dua minuman yang sering kali dikira mirip oleh masyarakat adalah wedang uwuh dan wedang
secang. 

Dikutip dari Kompas.com, kedua minuman ini memang memiliki tampilan yang serupa karena sama-sama menggunakan serutan kayu secang yang memberikan warna merah terang yang khas saat diseduh. 

Namun, keduanya menyimpan perbedaan yang cukup signifikan dari segi komposisi racikan atau asal-usul kepopulerannya.

Baca juga: Wedang Uwuh: Sejarah, Filosofi, Manfaat dan Cara Membuatnya

Mengenal Wedang Uwuh, "Sampah" yang Menyehatkan

Wedang yang sekilas mirip dengan sampah ini ternyata mampu menjadi obat herbal bagi penyakit jantung
Wedang yang sekilas mirip dengan sampah ini ternyata mampu menjadi obat herbal bagi penyakit jantung (Kompas.com)

Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Bantul, nama wedang uwuh diambil dari bahasa Jawa. "Wedang" memiliki arti minuman, sedangkan "uwuh" berarti sampah.

Sebutan unik ini muncul karena ampas atau bahan-bahan minuman ini ketika sudah bercampur tampak mengapung seperti tumpukan sampah dedaunan saat diseduh dengan air panas. 

Sejarah wedang uwuh sangat lekat dengan kawasan Makam Raja-raja Imogiri, Bantul. Keberadaan minuman ini konon bermula saat prajurit Kerajaan Mataram beristirahat karena kelelahan usai berperang melawan tentara Belanda di area makam tersebut. 

Para prajurit berinisiatif meracik minuman herbal dari tumbuhan alami yang kala itu dikenal dengan sebutan wedang amongraga. 

Di sisi lain, terdapat versi catatan sejarah yang menyebutkan bahwa racikan ini bermula secara tak sengaja dari jatuhan daun pohon cengkih kering yang ditanam oleh Sultan Agung di kompleks makam Imogiri pasca-penyerangan VOC di Batavia. 

Terlepas dari versi pembuat pertamanya, minuman hangat ini memiliki komposisi yang sangat kaya rempah. 

Racikan rempah wedang uwuh jauh lebih lengkap dan sarat akan aneka dedaunan kering dibandingkan wedang secang. Isiannya meliputi jahe, serutan kayu secang kering, kayu manis kering, cengkeh, daun pala, serai, kapulaga, dan pemanis alami dari bongkahan gula batu. 

Paduan rempah alam ini menghasilkan khasiat yang beragam, seperti dapat menjaga daya tahan tubuh, memperlancar peredaran darah, mengurangi rasa pegal pada tubuh.

Baca juga: Bir Jawa Hingga Secang Latte, Misi Andrianto Soeristyo Melestarikan Minuman Tradisional


Wedang Secang Lebih Sederhana dari Wedang Uwuh Tetapi Tetap Hangat

Ilustrasi wedang secang
Ilustrasi wedang secang (Shutterstock.com / Ariyani Tedjo)

Berbeda halnya dengan wedang uwuh yang sarat akan rupa-rupa dedaunan kering, wedang secang tampil dengan racikan yang lebih sederhana. 

Dilansir dari situs Desa Kedungpoh, wedang secang adalah minuman herbal yang menjadikan rebusan kayu secang sebagai bintang utamanya. 

Masyarakat sering memadukannya hanya dengan gula batu atau perasan jeruk lemon dengan takaran yang disesuaikan selera masing-masing orang.

Dikutip dari Kompas.com, perbedaan komposisi yang paling mencolok dari wedang secang adalah ketiadaan daun-daun kering di dalam penyajiannya. 

Jika wedang uwuh diibaratkan seperti tumpukan "sampah" dedaunan, isian wedang secang justru tidak memakai daun sama sekali. Wedang ini umumnya hanya murni terdiri dari jahe, serutan kayu secang, dan kayu manis. 

Rasa yang dihasilkan oleh wedang secang pun cenderung manis dengan sensasi sedikit pedas yang berasal dari kandungan jahe. 

Selain itu, wedang uwuh sangat identik dan populer di wilayah Yogyakarta dan Surakarta, wedang secang justru lebih populer dan mengakar di kawasan Jawa Tengah, khususnya daerah Kendal.

(MG Fuza Nihayatul Chusna)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.