Bagaimana mau selamatkan harimau kalau rantai makanannya tak ada.

Bandung (ANTARA) - Pendiri Taman Safari Indonesia (TSI) Tony Sumampau mengajak masyarakat memahami pentingnya rantai makanan demi kelestarian hewan seperti penyelamatan satwa harimau.

"Bagaimana mau selamatkan harimau kalau rantai makanannya tak ada," kata Tony dalam acara Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (Owaka) yang digagas oleh Forum Konservasi Satwaliar Indonesia (Foksi), di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (22/8).

Ia menjelaskan buruan harimau adalah babi hutan, sedangkan babi hutannya diburu oleh manusia, sehingga mata rantai makanan harimau pun terganggu.

Kemudian, harimau itu masuk ke permukiman penduduk memangsa makanan ternak atau peliharaan warga, seperti ayam dan anjing. "Kemudian harimau itu tertular penyakit dari anjing dan ayam," katanya lagi.

Demikian juga dengan perburuan babi rusa atau anoa yang merupakan satwa endemik dan harus dilindungi. "Ini juga sebagai dampak dari pemahaman masyarakat terhadap spesies yang dilindungi masih kurang," katanya pula.

Selain itu, ia juga menyebutkan burung ekek sunda yang dikenal sebagai ekek geling jawa (Cissa thalassina) asal Gunung Pangrango, Jawa Barat, bisa dikatakan nyaris punah.

"Bisa dikatakan keberadaan burung ini sudah nyaris punah karena tidak bisa ditemukan lagi di Gunung Pangrango," kata dia.

Ia menyayangkan kondisi demikian, karena adanya perburuan terhadap burung endemik tersebut guna dijadikan burung master atau lebih dikenal burung yang dipelihara khusus untuk melatih suara burung kicau lain.

Karena burung ekek sunda itu memiliki tingkat stres tinggi, hingga saat dijadikan sebagai burung master stres dan berakhir dengan kematian. "Burung ini stresnya cepat hingga nyawanya tidak lama setelah menjadi burung master," katanya pula.