Makassar (ANTARA) - Tim Relawan Medis Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar menembus wilayah pegunungan Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk menyalurkan bantuan dan memberikan pelayanan kesehatan kepada warga terdampak bencana.

Ketua Tim Bantuan Medis UMI di lapangan, dr. Berry Erida Hasbi, Sp.B, melalui keterangannya yang diterima di Makassar, Sabtu, mengatakan tim menuju Kecamatan Cibal dan Reok Barat setelah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai.

"Kami mendapat informasi bahwa di sejumlah puskesmas belum ada dokter. Karena itu, setelah berkoordinasi dengan BPBD dan Dinas Kesehatan, kami bergerak ke Cibal dan Reok Barat," ujarnya.

Berry mengatakan, tim memilih menjangkau wilayah pegunungan karena bantuan dan pelayanan kesehatan cenderung lebih mudah diberikan di daerah yang aksesnya lebih dekat.

Menurut dia, berdasarkan informasi Dinas Kesehatan dan BPBD Manggarai, masih terdapat wilayah yang membutuhkan dukungan tenaga medis, termasuk Cibal dan Reok Barat.

Setibanya di wilayah tersebut, tim langsung melakukan pemeriksaan kesehatan. Sejumlah anak mengalami batuk dan sesak, sementara lansia menghadapi kesulitan untuk menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan.

Selain pelayanan medis, tim juga menemukan warga yang masih bertahan dengan kebutuhan dasar pascabencana, seperti obat-obatan, selimut, terpal, dan tempat berlindung.

"Sekitar tiga hingga empat jam tim menyusuri jalan berkelok, melewati lereng pegunungan dan sejumlah ruas jalan yang rusak akibat kondisi pascabencana. Kami turut bahagia karena kedatangan kami disambut baik," katanya.

Berry mengatakan, sebagian tim medis lainnya saat itu bergerak menuju wilayah Dampek. Sementara kebutuhan pelayanan kesehatan di Cibal dan Reok Barat masih cukup tinggi.

"Tempat ini belum banyak tersentuh karena rata-rata tim medis lain ke daerah Dampek. Karena itu kami mencoba menjangkau Cibal dan Reok Barat," jelasnya.

Dalam misi tersebut, tim medis UMI memeriksa 110 pasien yang datang ke tenda pengobatan dan mendatangi 10 pasien lainnya di rumah masing-masing.

"Total 120 warga memperoleh pelayanan kesehatan dalam misi tersebut. Keluhan yang banyak ditemukan antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dermatitis, dan gangguan tidur atau insomnia," katanya.