Jalan Sunyi Itu Bernama Kemanusiaan
Dion DB Putra August 23, 2026 08:30 AM

In Memoriam Ahmad Zaki Ali

Oleh: Vitalis Wolo 
Peminat masalah social, tinggal di Kota Kupang - Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Di tengah duka gempa Flores yang belum sepenuhnya reda, kabar tentang wafatnya seorang relawan menambah satu lapis kesedihan bagi mereka yang sedang berjuang memulihkan kehidupan. 

Ahmad Zaki Ali meninggal pada Jumat, 21 Agustus 2026, di Manggarai Timur ketika sedang menjalankan misi kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan kepada para penyintas gempa. 

Ia datang membawa pertolongan bagi orang lain, tetapi justru mengakhiri perjalanan hidupnya di tengah jalan pengabdian itu. 

Dari sana kita diingatkan bahwa di balik setiap bantuan yang tiba di tangan korban, selalu ada manusia yang berjalan, bekerja, menanggung lelah, menghadapi risiko, dan memilih hadir ketika sesamanya sedang membutuhkan.

Ahmad Zaki Ali dikenal sebagai pendiri Gerak Bareng dan relawan yang aktif dalam kegiatan kemanusiaan. 

Pada hari terakhir hidupnya, ia bersama tim membawa bantuan dari Reo, Kabupaten Manggarai, menuju Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. 

Baca juga: Jenazah Relawan Ahmad Zaki Dievakuasi Helikopter Basarnas

Karena itu, secara faktual kita perlu berhati-hati dan tidak menarik kesimpulan medis yang melampaui keterangan resmi yang tersedia.

Ia menggunakan tenaga dan waktunya untuk pekerjaan yang mungkin tidak akan pernah menghasilkan penghargaan, jabatan, ataupun keuntungan material bagi dirinya. 

Pada titik inilah kematiannya mengajak kita melihat kembali makna kemanusiaan: tentang keberanian untuk hadir ketika penderitaan orang lain menuntut kepedulian yang nyata.

Kita sering mengenal bencana melalui angka. Berapa orang meninggal, berapa rumah rusak, berapa orang mengungsi, berapa ton bantuan dikirim, berapa banyak posko didirikan, dan berapa besar anggaran yang dibutuhkan untuk pemulihan. 

Semua itu penting karena negara membutuhkan data untuk mengambil keputusan dan masyarakat membutuhkan informasi untuk memahami skala bencana. Namun, angka tidak pernah sepenuhnya mampu menggambarkan penderitaan manusia.

Di balik satu angka korban terdapat keluarga yang kehilangan seseorang yang dicintai. Di balik sebuah rumah yang roboh terdapat kehidupan yang dibangun bertahun-tahun dengan kerja keras. 

Di balik seorang anak yang kehilangan rasa aman terdapat masa depan yang sedang terguncang. Begitu pula di balik setiap paket bantuan yang tiba di tangan penyintas terdapat perjalanan panjang yang hampir selalu tidak terlihat.

Perjalanan bantuan melibatkan banyak tangan, mulai dari mereka yang mengumpulkan donasi, membeli dan mengemas kebutuhan, memuat barang, mengemudikan kendaraan, mengangkat logistik, hingga mencari warga yang belum tersentuh pertolongan. 

Para relawan berada di antara semua proses itu sebagai penghubung antara kepedulian masyarakat dan kebutuhan korban. Mereka tidak sekadar memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain, tetapi memastikan solidaritas berubah menjadi pertolongan yang benar-benar dirasakan.

Ketika bantuan akhirnya diterima oleh seorang penyintas, yang tampak hanyalah barang yang sampai. Jarang orang melihat jalan yang ditempuh, tenaga yang dikeluarkan, risiko yang dihadapi, waktu yang dikorbankan, dan kelelahan yang harus ditanggung oleh mereka yang mengantarkannya. 

Di ruang yang sunyi itulah para relawan bekerja, sering kali jauh dari kamera, tepuk tangan, dan perhatian publik.

Jalan kemanusiaan memang tidak selalu ramai. Ia tidak selalu menghasilkan nama yang dikenal luas, tetapi melalui jalan itulah banyak orang dapat bertahan melewati masa paling sulit dalam hidup mereka. 

Ahmad Zaki memilih jalan tersebut, dan Flores menjadi salah satu tempat di mana pengabdiannya menemukan bentuk yang paling nyata.

Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam keputusan untuk menolong orang yang bahkan tidak kita kenal. Kita tidak pernah tahu apakah orang yang kita bantu akan mengingat nama kita, mengenali wajah kita, atau mengetahui dari mana bantuan itu berasal. 

Kita juga tidak pernah tahu apakah kebaikan itu suatu hari akan kembali kepada kita. Namun, penderitaan orang lain dapat menjadi alasan yang cukup bagi seseorang untuk bergerak.

Leo Tolstoy pernah menulis sebuah gagasan yang sederhana tetapi mendalam: “The sole meaning of life is to serve humanity.” 

Kehidupan tidak semata-mata diukur dari apa yang kita miliki atau capai untuk diri sendiri, tetapi juga dari apa yang kita berikan kepada sesama. 

Dalam konteks Ahmad Zaki, kalimat itu menjadi refleksi bahwa kepedulian memperoleh maknanya ketika diterjemahkan menjadi tindakan.

Pilihan semacam itu tidak selalu mudah, sebab kerja kemanusiaan menuntut waktu, tenaga, keberanian, dan kesediaan menghadapi ketidakpastian.

Dalam dunia yang semakin sering dibelah oleh kepentingan, identitas, batas sosial, dan perhitungan untung-rugi, kerja kemanusiaan mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana: penderitaan manusia tidak membutuhkan kartu identitas untuk mendapatkan pertolongan. 

Ketika seseorang kehilangan rumah karena gempa, ia tidak pertama-tama membutuhkan pertanyaan tentang siapa dirinya. Ia membutuhkan makanan, air, tempat aman, pelayanan kesehatan, dan seseorang yang bersedia berdiri di sampingnya.

Di situlah nilai seorang relawan menjadi penting. Ia mempertemukan manusia dengan manusia tanpa menunggu kesamaan latar belakang, kepentingan, atau keuntungan. 

Seseorang membantu karena melihat orang lain sedang berada dalam kesulitan, dan tindakan itu menjadi bukti bahwa solidaritas masih hidup di tengah masyarakat.

Namun, penghormatan terhadap relawan tidak boleh membuat kita romantis terhadap pengorbanan mereka. Kematian Ahmad Zaki juga harus membuka pertanyaan serius tentang perlindungan terhadap orang-orang yang bekerja di garis depan. 

Relawan bukan manusia tanpa batas. Tubuh mereka dapat lelah, pikiran mereka dapat terkuras, dan kondisi psikologis mereka dapat terbebani oleh situasi bencana.

Ketika bekerja di wilayah terdampak, mereka menghadapi perjalanan panjang, medan yang sulit, keterbatasan waktu istirahat, tekanan emosional, serta berbagai risiko lain yang tidak selalu terlihat oleh masyarakat penerima bantuan. 

Karena itu, keselamatan relawan bukan urusan pribadi, melainkan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.

Organisasi kemanusiaan dan seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan bencana perlu memastikan adanya pembagian kerja, rotasi, waktu istirahat, pengaturan perjalanan, komunikasi darurat, dukungan kesehatan, dan mekanisme yang memungkinkan seorang relawan berhenti ketika kondisi fisiknya tidak lagi memungkinkan untuk melanjutkan pekerjaan. 

Beristirahat bukan tanda kelemahan, sebagaimana meminta bantuan bukan berarti kehilangan keberanian. Relawan yang mampu menjaga dirinya justru memiliki peluang lebih besar untuk terus menolong.

Jika kelelahan memang menjadi faktor dalam kematian Ahmad Zaki sebagaimana disampaikan Basarnas, peristiwa ini harus menjadi pelajaran serius tentang batas fisik dalam kerja kebencanaan. 

Karena itu, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya, “Apa yang terjadi kepada Ahmad Zaki?”, tetapi juga, “Apa yang harus diperbaiki agar keselamatan para relawan semakin terjamin?” 

Pertanyaan ini bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan untuk memastikan bahwa sebuah kehilangan menghasilkan pembelajaran. Sistem kebencanaan harus mampu bergerak cepat ketika korban membutuhkan bantuan, tetapi kecepatan itu tidak boleh mengorbankan keselamatan orang-orang yang membawa pertolongan.

Bencana sudah cukup keras terhadap manusia. Sistem penanganannya jangan sampai menambah risiko yang sebenarnya dapat dikurangi. 

Operasi kemanusiaan yang baik bukan hanya memastikan bantuan sampai kepada korban, tetapi juga memastikan para pembawa bantuan dapat bekerja dengan aman dan bermartabat.

Kematian Ahmad Zaki memperlihatkan betapa tipis batas antara mereka yang menolong dan mereka yang ditolong. Ia datang ke wilayah bencana sebagai relawan, tetapi kemudian dirinya sendiri harus dievakuasi oleh tim penyelamat. 

Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, jenazahnya dievakuasi menggunakan helikopter Dauphin Basarnas dari wilayah Manggarai Timur. Helikopter tersebut mendarat di Helipad Kampung Ronting, Desa Satar Kampas, sekitar pukul 07.04 WITA.

Ada ironi yang mendalam dalam peristiwa itu. Seseorang datang untuk membantu manusia lain, tetapi akhirnya dirinya sendiri harus menjadi bagian dari operasi penyelamatan. 

Peristiwa tersebut sekaligus mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang sepenuhnya kebal terhadap risiko, termasuk mereka yang datang dengan niat menolong.

Karena itu, kita tidak perlu mengagungkan kematian Ahmad Zaki sebagai ukuran tertinggi pengabdian. Yang layak dihormati adalah pilihannya untuk hadir, keberaniannya bergerak menuju mereka yang membutuhkan, dan kesediaannya menggunakan tenaga serta waktunya bagi kepentingan orang lain.

 Pengabdian tidak menjadi lebih mulia hanya karena seseorang kehilangan nyawa; pengabdian menjadi berarti karena seseorang memilih melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi sesamanya.

Ahmad Zaki telah menyelesaikan perjalanannya, tetapi kebutuhan kemanusiaan di Flores belum selesai. 

Masih ada warga yang membutuhkan bantuan, rumah yang harus dibangun kembali, keluarga yang berduka, anak-anak yang membutuhkan rasa aman, dan relawan yang terus bekerja di lapangan. Karena itu, mengenang Ahmad Zaki tidak cukup dengan menyebut namanya sebagai seorang relawan yang gugur. 

Penghormatan yang lebih besar adalah memastikan nilai yang ia perjuangkan diteruskan melalui kerja kemanusiaan yang lebih kuat, terorganisasi, cepat, dan aman.

Ada orang yang dikenang karena jabatan, kekayaan, kekuasaan, atau pencapaiannya. Ada pula yang dikenang karena jejak kebaikan yang ditinggalkannya dalam kehidupan orang lain. 

Ahmad Zaki memilih jalan yang kedua, jalan yang mungkin tidak selalu ramai dan tidak selalu menghasilkan tepuk tangan, tetapi memberi arti bagi mereka yang menerima pertolongan.

Kemanusiaan harus tetap hadir ketika kamera pergi, ketika perhatian publik beralih, dan ketika para penyintas memasuki masa panjang untuk membangun kembali kehidupan mereka.

Selamat jalan, bang Ahmad Zaki Ali. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan, sementara rekan-rekan seperjalanan di Gerak Bareng dan seluruh relawan yang masih bekerja di Flores diberi kesehatan, keselamatan, dan kekuatan untuk melanjutkan pengabdian.

Kematianmu semoga tidak berhenti sebagai kabar duka. Biarlah ia menjadi pengingat bahwa ketika bencana datang, yang dibutuhkan bukan hanya bantuan, tetapi manusia yang bersedia hadir membawa bantuan itu dengan keberanian sekaligus kehati-hatian. 

Sebab kemanusiaan bukan sekadar kemampuan untuk merasa iba terhadap penderitaan orang lain, melainkan keberanian untuk hadir, bekerja, dan menjaga kehidupan—termasuk menjaga kehidupan mereka yang datang untuk menolong. Jalan sunyi itu bernama kemanusiaan. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.