Jatim Terpopuler: Polemik Mural Menyala Bersama hingga Petani Kediri Rasakan Manfaat Bantuan
Samsul Arifin August 23, 2026 09:14 AM

Ia menegaskan, Pemkot Malang tidak terlibat langsung dalam kegiatan yang berkaitan dengan Festival Mbois 11 tersebut.

Kemudian dari Kediri, para petani mulai merasakan manfaat bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari Pemerintah Kabupaten Kediri.

Terakhir, perselisihan antaranggota dua perguruan pencak silat di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, berujung bentrokan massa hingga pembakaran sepeda motor.

Baca juga: Jatim Terpopuler: Pria Naik Sepeda dari Sumsel ke Jombang hingga Siswa SD Patungan untuk Warga NTT

Berikut Selengkapnya : 

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat Sayangkan soal Mural 

Pemkot Malang tidak terlibat langsung dalam kegiatan yang berkaitan dengan Festival Mbois 11 tersebut.

Menurut Wahyu, Festival Mbois merupakan kegiatan yang diselenggarakan secara mandiri oleh komunitas.

Festival tersebut juga telah berlangsung hingga 11 kali tanpa menjadi bagian langsung dari agenda Pemkot Malang.

"Itu kan komunitas yang menyelenggarakan. Jadi kami ini dari Pemerintah Kota Malang tidak terlibat langsung terkait dengan hal ini. Festival Mbois ini kan sudah dilaksanakan 11 kali," kata Wahyu, Jumat (21/8/2026).

Ia menjelaskan, penyelenggara menjalankan kegiatan secara mandiri melalui komunitas.

Posisi Pemkot Malang, kata dia, sebatas merespons kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas tersebut.

"Mereka melakukan secara mandiri, secara komunitas mereka menyelenggarakan itu. Ada kegiatan-kegiatan dilakukan di luar dari Pemerintah Kota Malang. Kami hanya merespons, 'Oke, melaksanakan Festival Mbois, ya silakan.' Jadi tidak ada kaitannya langsung," jelasnya.

Polemik mencuat setelah mural Malang The Glory Land di tembok Hotel Riche diganti.

Persoalan tersebut kemudian menuai respons dari masyarakat Kota Malang.

Ketika disinggung mengenai lokasi mural yang berada pada bangunan Hotel Riche dan dikaitkan dengan status bangunan cagar budaya, Wahyu mengaku, Pemkot Malang tidak mengetahui.

Menurut dia, kegiatan mengganti tulisan mural tersebut dilakukan secara tiba-tiba, sehingga tidak diketahui secara langsung oleh pemerintah daerah.

"Mereka kan tiba-tiba itu kan. Ya, tiba-tiba mereka lakukan. Jadi kami tidak mengetahui secara langsung," ungkap Wahyu.

Setelah persoalan tersebut mencuat, Wahyu mengaku menyayangkan kejadian itu.

 Namun, ia telah mendapatkan informasi bahwa pihak-pihak terkait mulai melakukan komunikasi untuk menyelesaikan persoalan.

"Ya kami sayangkan. Tapi saya minta mereka, katanya sudah ketemu ya dan pendekatan. Ya, kami sayangkan hal-hal tersebut," ujarnya.

Petani Kediri Rasakan Manfaat Langsung Bantuan

Para petani mulai merasakan manfaat bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari Pemerintah Kabupaten Kediri.

Bantuan tersebut dinilai membantu mempercepat proses pengolahan lahan.

Selain itu, mampu meningkatkan efisiensi kerja sekaligus mendukung produktivitas pertanian di tengah tantangan musim kemarau.

Salah satunya dirasakan Indun Yunialis, petani perempuan asal Dusun Gempolan Desa Baye, Kecamatan Kayen Kidul.

Indun mengaku, kelompok petani di wilayahnya mendapatkan bantuan benih jagung pada musim tanam sebelumnya dan kini hasilnya telah selesai dipanen.

Menurut Indun, bantuan benih tersebut cukup membantu petani dalam menjalankan kegiatan budidaya.

Di wilayahnya, jagung menjadi salah satu komoditas utama yang ditanam secara bergantian dengan padi.

"Rata-rata jagung pipil lokal. Dalam setahun biasanya dua kali padi dan satu kali jagung," ujar Indun, Sabtu (22/8/2026) pagi, pukul 09.00 WIB.

Ia menjelaskan, lahan pertanian yang dikelola petani di wilayahnya mencapai sekitar 30 hektare.

Dalam kondisi produktif, hasil panen jagung dapat mencapai sekitar 7 hingga 10 ton per hektare.

Kelompok petani di wilayah tersebut juga memiliki sekitar 100 anggota.

Selain bantuan benih jagung, petani sebelumnya mendapatkan bantuan benih padi sebanyak enam kuintal dan benih jagung sebanyak enam kuintal.

Petani juga menerima bantuan satu unit rotary roda empat.

Sementara untuk mendukung ketersediaan air, petani mengusulkan pembangunan pompa submersible.

 Indun menyebut persoalan air masih menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi petani.

Saat musim kemarau, ketersediaan air menjadi kendala, sedangkan ketika musim hujan petani justru harus menghadapi risiko kelebihan air.

"Kalau musim kemarau memang sulit air, kalau musim hujan malah kelebihan air," katanya.

Meski demikian, hasil panen jagung masih memberikan keuntungan bagi petani.

Saat ini, harga jagung kering di tingkat petani berada di kisaran Rp6.300 per kilogram, sementara harga pembelian pemerintah (HPP) berada di angka Rp5.500 per kilogram.

Baca juga: Melahirkan Sendiri di Kamar Kos sampai Bayi Meninggal, Mahasiswi Temanggung Nangis Minta Maaf ke Ibu

Manfaat bantuan pertanian juga dirasakan Tommy Sri Permadi, Ketua Kelompok Tani Tirto Aji Dua, Desa Baye, Kecamatan Kayen Kidul.

Kelompoknya menjadi salah satu penerima bantuan alat pertanian dari Pemerintah Kabupaten Kediri.

Tommy mengatakan, bantuan yang diterima kelompoknya berupa traktor yang dimanfaatkan untuk membantu proses pengolahan lahan.

Alat tersebut sangat dibutuhkan karena mayoritas lahan pertanian di wilayahnya ditanami padi dan jagung.

Menurut Tommy, penggunaan alat pertanian membuat proses pengolahan lahan menjadi lebih cepat dibandingkan jika dilakukan secara manual.

Efisiensi waktu tersebut dinilai penting bagi petani, terutama ketika harus mengejar musim tanam.

"Adanya bantuan mesin ini sangat membantu petani, terutama untuk mengolah tanah. Pekerjaan menjadi lebih cepat," jelasnya.

Tommy berharap, bantuan alat pertanian dari pemerintah dapat terus dikembangkan sehingga petani tidak hanya terbantu dalam proses produksi, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas dan nilai jual hasil pertanian.

"Dengan bantuan ini kami berharap kualitas produk pertanian Kediri terus meningkat sehingga mampu memberikan nilai tambah dan kesejahteraan yang lebih baik bagi petani," pungkasnya.

Duel 1 Lawan 1 Pesilat Berujung Pengeroyokan

Perselisihan antaranggota dua perguruan pencak silat di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, berujung bentrokan massa hingga pembakaran sepeda motor.

Bentrok terjadi di utara lapangan voli Desa Tegalrejo, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Sabtu (22/8/2026) sekitar pukul 04.30 WIB.

Dalam kejadian tersebut, seorang remaja berinisial GIM (17), warga Kecamatan Rejotangan, mengalami luka pada bagian siku dan dada kanan akibat terkena senjata tajam.

Selain itu, sepeda motor Honda Vario AG 2863 RFZ milik FIFH (18), warga Desa Buntaran, Kecamatan Rejotangan, dibakar massa.

Bentrok tersebut diduga merupakan buntut dari duel satu lawan satu yang sebelumnya dilakukan untuk menyelesaikan perselisihan antaranggota perguruan pencak silat.

Pihak yang kalah dalam duel tersebut kemudian disebut tidak terima dan membawa massa lebih besar.

“Masalahnya masih ditangani oleh Gugus Tugas Penanganan Konflik Antar Oknum Anggota Perguruan Pencak Silat,” jelas sumber di kepolisian.  

Kasus ini bermula pada awal Agustus 2026 ketika seorang anggota perguruan pencak silat berinisial SFA (19) mengunggah status di WhatsApp yang dianggap menyinggung perguruan lain.

Tanpa ia sadari, tangkapan layat status WA itu diambil pihak lain dan diunggah di media sosial.

Tangkapan layar status itu membuat anggota perguruan lain marah, karena dianggap bernada provokasi.

Baca juga: Rombongan Diduga Pesilat Rusak Motor & Rumah Warga Gudo di Jombang, Ada yang Terluka

Karena status WA itu menyebar, SFA didatangi sekitar 5 orang di rumahnya, di Desa Tegalrejo, salah satu yang diketahui bernama D alias Gds, Kamis (20/8/2026) pukul 19.00 WIB

Kedua pihak sepakat menyelesaikan masalah itu dengan cara duel satu melawan satu, setelahnya masalah dianggap selesai.

Duel pun berlangsung di Lapangan Desa Tegalrejo, Kecamatan Rejotangan malam itu juga dan dimenangkan  SFA.

Ternyata keesokan harinya, Jumat (21/8/2026) siang, datang massa dari perguruan pencak silat ke Desa Tegalrejo mengajak tanding ulang.

Awalnya kedatangan massa ini tidak digubris hingga menjelang Sabtu (21/8/2026) dini hari.

Akhirnya massa pendatang dengan jumlah sekitar 150 orang, bentrok dengan massa dari perguruan silat setempat berjumlah sekitar 30 orang.

Kedua kelompok saling lempar batu dan aneka benda tumpul.

Karena kalah jumlah, massa perguruan setempat berusaha mundur.

Namun nahas bagi FIFH, kontak sepeda motor Honda Vario miliknya dibawa teman, sehingga tidak bisa dinyalakan dan dibakar massa.

Sementara GIM mengalami luka karena bentrokan ini.

Kasi Humas Polres Tulungagung, Iptu Nanang Murdiyanto, membenarkan bentrok antar anggota perguruan pencak silat ini.

Namun masalah ini diselesaikan akan diselesaikan dengan jalan musyawarah lewat Gugus Tugas Penanganan Konflik Antar Oknum Anggota Perguruan Pencak Silat.

“Sekarang dalam proses penyelesaian,” katanya.

Kesepakatan antar perguruan pencak silat di Kabupaten Tulungagung, jika terjadi bentrok maka diupayakan dengan jalan damai.

Terduga pelaku harus memberikan ganti rugi kepada korban.

Jika kesepakatan damai dan ganti rugi ini tidak tercapai, korban boleh membuat laporan kepolisian. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.