TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Kebakaran melanda kawasan permukiman padat di RT 06, Kelurahan Karang Balik, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, pada Sabtu (22/8/2026) sore kemarin.
Kobaran api menghanguskan dua rumah hingga rata dengan tanah, dan sebagian mengalami rusak berat.
Tiga rumah lainnya juga turut terdampak akibat kebakaran itu.
Kabid Pemadam Kebakaran (PMK) Tarakan, Eko Supriyatnoko, mengatakan laporan kebakaran diterima pada pukul 15.23 WITA sore.
Respons time sekitar lima menit kemudian, petugas sudah tiba di lokasi, dan mulai melakukan pemadaman.
Setibanya di lokasi, petugas langsung menyiapkan armada, dan mulai melakukan penyemprotan pada pukul 15.30 WITA.
“Perjalanan sampai ke lokasi 5 menit kita sampai sini, kemudian kita sudah siap tembak jam 15.30 WITA,” ujar Eko Supriyatnoko, kepada TribunKaltara.com di Tarakan.
Pada tahap awal, pemadaman dilakukan Sektor Barat, dengan satu unit mobil fire dan satu unit supply.
Selanjutnya, bantuan datang dari Markas Komando (Mako) dengan tambahan satu unit fire dan satu unit supply.
Dukungan juga datang dari PDAM Tarakan yang menurunkan dua unit mobil supply.
Sementara Pertamina turut mengirim satu brigade fire dengan 10 personel, yang kemudian diperkuat relawan Redkar.
Total 35 personel berjibaku padamkan api sore kemarin.
Proses pemadaman berlangsung sekitar 45 menit.
Berdasarkan laporan di lapangan, api berhasil dipadamkan sekitar pukul 16.15 WITA.
Proses pendinginan kurang lebih memakan waktu 1,5 jam hingga 2 jam.
Baca juga: Berbatasan Langsung Kilang Minyak, Butuh 2 Jam Padamkan Api Kebakaran Gudang Sembako STB Tarakan
Eko menjelaskan, lamanya proses pemadaman tidak terlepas dari kondisi bangunan yang mayoritas terbuat dari kayu, dan berdiri rapat di kawasan permukiman.
Kondisi tersebut membuat petugas harus lebih dulu melakukan lokalisasi agar kobaran api tidak merembet ke bangunan lain.
“Bangunan panggung, rumah panggung, kayu, rapat, berdekatan.
Jadi tadi teman-teman di lapangan langsung diambil alih Pak Irwan, Pak Kasi, selaku komandan karena melibatkan dua sektor,” ujarnya.
Langkah pertama tim melakukan lokalisir.
Kondisinya api sempat menyebrang ke arah sebelah dan belakang titik api.
"Kerusakan di bangunan utama cukup besar memang, tapi Alhamdulillah-nya kita berhasil melokalisir,” sambungnya.
Ia memastikan bangunan utama yang terbakar mengalami kerusakan berat.
Sumber api diduga berasal dari salah satu rumah milik warga yang menjadi korban kebakaran.
Bangunan tersebut berdempetan dengan rumah lainnya, sehingga api dengan cepat menjalar.
Berdasarkan pendataan sementara, terdapat dua rumah yang mengalami rusak berat, dan tiga rumah terdampak.
Kobaran api sempat menjilat dan melompat ke bangunan di sekitar lokasi, namun berhasil dikendalikan petugas.
“Api sempat meloncat,” kata Eko.
Data PMK Tarakan mencatat sebanyak 25 jiwa terdampak dalam peristiwa tersebut, terdiri dari 13 laki-laki dan 12 perempuan.
Dari jumlah tersebut, terdapat empat anak-anak, yakni dua anak perempuan dan satu anak laki-laki tingkat SD, serta satu anak laki-laki tingkat SMA.
Eko menyebut kondisi cuaca turut mempercepat kobaran api.
Hampir dua pekan Tarakan tidak diguyur hujan, sehingga kondisi udara dan material bangunan relatif kering.
Posisi angin juga bertiup kencang.
“Ini sudah hampir 2 minggu tidak turun hujan, panas, udaranya kering, anginnya kencang.
Itu yang membuat api itu cepat sekali berkobar,” tuturnya.
Terkait informasi awal yang menyebut kebakaran dipicu korsleting listrik, Eko mengatakan informasi tersebut masih sebatas kabar yang beredar.
Pihak PMK Tarakan menyerahkan proses penyelidikan penyebab kebakaran kepada aparat berwenang.
“Ya, informasi yang beredar seperti itu.
Cuma kita serahkan kepada aparatlah kalau terkait penyebab dalam penyelidikan,” ujarnya.
Selain kondisi bangunan yang rapat, salah satu kendala petugas dalam proses pemadaman adalah akses kendaraan menuju lokasi yang dipadati masyarakat.
Eko mengatakan sistem pemadaman membutuhkan pasokan air yang terus menerus.
Pada tahap awal, unit fire dari Sektor Barat membawa sekitar 3 ton air, sedangkan unit supply membawa 5 ton.
“Prinsip pemadaman api itu, pemukul pertama itu di barat itu bawa fire itu bawa air 3 ton, kemudian supply 5 ton.
Kemudian back-up dari Mako demikian juga, fire 3 ton, supply-nya 5 ton,” jelasnya.
Namun, persoalan muncul ketika mobil supply harus bergerak keluar masuk untuk menjaga ketersediaan air.
“Yang terjadi permasalahan atau kendala, ini supply lanjutannya.
Karena kebetulan masyarakat itu sudah luar biasa memadati akses masuk unit kita.
Itu kendala kita di supply,” katanya.
Karena itu, PMK meminta dukungan aparat kepolisian maupun pemangku kewilayahan untuk membantu mengatur akses kendaraan pemadam saat terjadi kebakaran.
“Tidak boleh api yang sudah berhasil kita jinakkan, gara-gara supply terkendala, terus kemudian api jadi menyala lagi.
Itu yang harus kita minimalkan.
Kita tidak boleh mengalami seperti itu,” tegasnya.
Menurut Eko, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar ketika kebakaran terjadi di kawasan permukiman padat, dengan akses jalan yang sempit.
Ia mengimbau masyarakat yang datang melihat kejadian kebakaran, agar tetap memberikan ruang bagi petugas dan kendaraan pemadam.
“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Tarakan.
Kita tidak melarang masyarakat untuk datang ke lokasi, cuma harus bagaimana bisa menempatkan diri sebenarnya.
Artinya, memberikan akses-akses, itu yang paling penting,” ujarnya.
Ia kembali menekankan bahwa pasokan air merupakan bagian paling vital dalam proses pemadaman.
“Kembali saya tekankan, prinsip pemadaman adalah pasokan air supply air baku yang tidak boleh terputus.
Itu akan sangat berbahaya ketika anggota kami di depan, yang paling depan, nozzleman kita lagi tempur, api belum dapat kita kendalikan tapi airnya putus.
Itu tidak boleh terjadi,” tegas Eko.
Dalam penanganan kebakaran tersebut, PMK Tarakan mendapat dukungan dari sejumlah pihak.
Salah satunya PDAM Tarakan yang mengerahkan dua mobil tangki untuk membantu menjaga suplai air.
“Peran PDAM sangat membantu sekali.
Saya terima kasih kepada teman-teman PDAM,” jawabnya.
Karena akses sempit, selang yang tak pernah difungsikan dikerahkan semua, untuk jangkauan pemadaman cukup panjang.
Untuk menjangkau titik api, PMK menggunakan delapan rol selang dari Mako dan enam rol dari Sektor Barat.
Dengan panjang masing-masing selang sekitar 25 meter, total jangkauan selang mencapai sekitar 200 meter dari masing-masing arah.
“Yang dari Mako 8 rol.
Dari barat juga selangnya 6 rol.
Satu selang ini kan 25 meter,” jelasnya.
Meski terdapat kendala tersebut, Eko mengapresiasi kinerja petugas di lapangan karena berhasil mencegah api merembet lebih luas.
“Seperti yang kita lihat, pemukiman padat, sebagian bangunan kayu.
Tapi saya apresiasilah kinerja teman-teman di lapangan ya, berhasil melokalisir.
Alhamdulillah,” pungkasnya.
(*)