TRIBUNJAKARTA.COM - Kabar duka datang dari dunia kerelawanan. Ahmad Zaki Ali, founder Yayasan Komunitas Relawan Bergerak, meninggal dunia saat menjalankan misi kemanusiaan di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Zaki meninggal pada Jumat (21/8/2026) ketika hendak menyalurkan bantuan kepada korban gempa.
Jenazahnya kemudian diterbangkan dari Flores menuju Jakarta pada Sabtu (22/8/2026).
Selama lebih dari dua dekade, Zaki dikenal sebagai sosok yang aktif dalam kegiatan kemanusiaan.
Bagi keluarga, menjadi relawan bukan sekadar aktivitas, melainkan sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Berikut lima fakta tentang perjalanan Ahmad Zaki Ali hingga akhir hayatnya.
Zaki mulai terlibat dalam kegiatan kemanusiaan sejak 2004.
Pada awalnya, ia menjadi relawan foto dan video untuk mendokumentasikan berbagai kegiatan penanganan bencana.
Dari pengalaman tersebut, Zaki kemudian membangun komunitas yang menjadi wadah bagi orang-orang yang ingin terlibat dalam kegiatan kemanusiaan.
Kakaknya, Reza Milady Fauzan, mengatakan Zaki telah mengabdikan dirinya di dunia filantropi selama lebih dari 24 tahun.
Bagi keluarga, Zaki dikenal sebagai sosok yang sangat responsif terhadap bencana.
Reza mengatakan adiknya tidak membutuhkan waktu lama untuk berangkat ketika mendengar kabar mengenai bencana di suatu daerah.
"Kalau misalkan hari ini gempa, mungkin malam sudah tiba di lokasi gempa. Kalau tsunami Aceh hari pagi ini, malam sudah di Aceh," kata Reza saat ditemui di rumah duka, Sabtu (22/8/2026) dikutip Kompas.com.
Karakter tersebut membuat Zaki justru mendatangi lokasi ketika banyak orang berusaha menjauh dari wilayah terdampak bencana.
Dalam setahun terakhir, Zaki sempat bercerita kepada Reza mengenai kondisi jantungnya yang mulai sering bermasalah.
Gangguan tersebut disebut semakin intens pada tahun ini.
Keluarga bahkan sempat menyarankan Zaki untuk mengurangi aktivitasnya.
Namun, ketika gempa terjadi di Flores, Zaki tetap memilih berangkat bersama rekan-rekan relawan untuk menyalurkan bantuan kepada korban.
Selama berada di lokasi bencana, Zaki masih sempat mengirimkan foto dan video kepada keluarganya di Jakarta.
Zaki bersama rekan-rekan relawan telah berada di Kabupaten Manggarai sejak Sabtu (15/8/2026).
Mereka menggunakan Masjid Nurul Huda di Kampung Reo sebagai posko Relawan Gerak Bareng.
Pada Jumat (21/8/2026), Zaki dan rekan-rekannya meninggalkan posko untuk menuju lokasi pengungsian korban gempa dengan membawa sejumlah bantuan.
Saat itu, Zaki bertugas sebagai pengemudi kendaraan.
Dalam perjalanan, Zaki tiba-tiba menghentikan kendaraan dan meminta bantuan rekannya untuk melepaskan jaket serta helm yang dikenakannya.
Tak lama kemudian, Zaki kehilangan kesadaran.
Rekan-rekannya kemudian membawa Zaki ke posko media terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dokter. Namun, dokter menyatakan Zaki telah meninggal dunia.
Jenazah Zaki tiba di Jakarta pada Sabtu (22/8/2026) dan langsung dibawa menuju rumah duka di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Setelah dimandikan dan disalatkan di masjid terdekat, jenazah Zaki kemudian dimakamkan di TPU Sukabumi Selatan.
Kepergian Zaki meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rekan-rekan sesama relawan.
Namun, di tengah rasa kehilangan tersebut, keluarga juga berusaha mengikhlaskan kepergian Zaki karena ia meninggal ketika sedang menjalankan kegiatan kemanusiaan yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya.
"Di satu sisi kami merasa kehilangan, tapi di lain sisi kami merasa bersyukur karena beliau mengakhiri hayat dalam kondisi tugas kemuliaan, lalu kemudian dalam situasi yang terbaik," ujar Reza.
Bagi keluarga, Zaki bukan sekadar seorang relawan.
Ia adalah sosok yang merasa terpanggil untuk datang ketika orang lain membutuhkan pertolongan.
Selama 24 tahun, langkahnya terus membawa dirinya ke berbagai lokasi bencana.
Hingga akhirnya, langkah itu terhenti di Flores ketika ia sedang menjalankan misi untuk membantu korban gempa.