44 Kasus Kebakaran di Tarakan hingga Agustus 2026, Karhutla jadi Perhatian
Amiruddin August 23, 2026 10:14 AM

 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Kabid Pemadam Kebakaran (PMK) Tarakan, Eko Supriyatnoko, mengungkapkan hingga kebakaran di RT 06 Kelurahan Karang Balik, Sabtu (22/8/2026) kemarin, jumlah kebakaran yang ditangani PMK sepanjang Agustus 2026 mencapai sekitar 44 kasus.

Data 44 kasus tersebut, termasuk juga di antaranya adalah kebakaran lahan di Tarakan.

Sebagai informasi, kebakaran yang terjadi di Karang Balik, Tarakan, pada Sabtu kemarin menghanguskan dua unit rumah.

Tiga unit rumah lainnya ikut terdampak akibat kebakaran di Karang Balik tersebut.

“Kemarin 43 kasus.

Ini berarti ini 44 ya,” kata Eko Supriyatnoko, kepada TribunKaltara.com di Tarakan.

 

PEMADAMAN - Tampak pendinginan masih terus dilakukan personel Damkar Tarakan setelah berhasil memadamkan kebakaran, pada Sabtu (22/8/2026). TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH
PEMADAMAN - Tampak pendinginan masih terus dilakukan personel Damkar Tarakan setelah berhasil memadamkan kebakaran, pada Sabtu (22/8/2026). TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

 

Baca juga: 2 Rumah Hangus di Karang Balik Tarakan, 35 Petugas Berjibaku Padamkan Kebakaran

Terkait kebakaran hutan dan lahan ( karhutla ), Eko Supriyatnoko menjelaskan PMK Tarakan saat ini berada dalam posisi sebagai tim pendukung.

Pasalnya, Tarakan kini tengah berada dalam situasi tanggap darurat bencana karhutla.

“Kalau posisi Damkar di penanganan kebakaran hutan dan lahan, sekarang kan sedang dalam situasi tanggap darurat bencana karhutla.

Damkar itu sebagai tim supporting.

Artinya, di level pemerintah kota itu leading sector-nya teman-teman dari BPBD, dan KPH,” jelasnya.

Menurutnya, kebakaran lahan masih mengalami peningkatan.

Bahkan, beberapa titik yang sebelumnya sudah berhasil dikendalikan kembali muncul api.

“Sebagaimana yang kita ketahui, ya teman-teman wartawan lebih tahu itu, jumlah kebakaran lahan meningkat.

Bahkan pengulangan terjadi di beberapa titik yang sudah berhasil dikendalikan, muncul lagi api,” ujarnya.

Salah satu contohnya terjadi di kawasan Pantai Amal.

Api yang sebelumnya berhasil dikendalikan kembali muncul pada Jumat malam.

“Seperti terakhir tadi malam, tadi malam di Pantai Amal ya, di RT 02 Pantai Amal.

Itu kan sudah dari 3 hari yang lalu sudah bisa kita kendalikan, tapi masih menyala lagi,” katanya.

Eko menyebut kondisi cuaca kering turut menjadi faktor yang membuat penanganan karhutla semakin sulit.

“Karena kembali memang informasi dari teman BPBD, sekarang masih El Nino.

El Nino yang berbarengan dengan musim kemarau,” ujarnya.

Ia menjelaskan kondisi El Nino membuat udara lebih kering sehingga panas terasa lebih terik dan hujan cenderung lebih lama datang.

“El Nino itu, dia anginnya itu angin kering.

Udara kering, udara enggak bawa uap air.

Jadi mataharinya terasa lebih terik, matahari terasa lebih terik, baru enggak ada bawa uap air.

Jadi hujannya makin lama datang,” pungkasnya. 

(*)

Penulis: Andi Pausiah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.