Emas Aceh Bocor ke Luar Negeri, Banda Aceh Titik Kumpul Jalur Baru Melalui Medan
mufti August 23, 2026 11:39 AM

Dari pedalaman Aceh hingga pintu keluar negeri, jejak emas ditelusuri. Di balik emas yang diselundupkan melalui Bandara SIM, ada rantai perdagangan yang bergerak dari tambang, penampung, Banda Aceh hingga Medan. Siapa yang bermain, bagaimana emas dikumpulkan, dan ke mana akhirnya dibawa? Serambi mengungkap jejaknya melalui liputan eksklusif ini. Tim peliput terdiri dari Indra Wijaya, Sara Masroni, Rianza Alfandi, dengan Koordinator Yocerizal.

EMAS itu nyaris lolos. Petugas keburu menghentikannya. Hampir tiga kilogram emas batangan diamankan di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Rabu (1/7/2026). Pembawanya seorang warga negara asing (WNA) asal China.

Itu bukan kali pertama. Kurang dari dua bulan sebelumnya, aparat juga menggagalkan upaya penyelundupan lebih dari setengah kilogram emas melalui bandara yang sama. Dalam dua pengungkapan tersebut, sekitar 3,5 kilogram emas berhasil diamankan.

Kasusnya kini diproses. Namun, satu pertanyaan belum juga terjawab. Dari mana emas itu berasal?

Selama beberapa hari, Serambi mewawancarai sejumlah narasumber. Menelusuri data. Meminta konfirmasi kepada instansi pemerintah, aparat penegak hukum, pelaku usaha emas, hingga pihak-pihak yang mengetahui aktivitas pertambangan di Aceh. Sedikit demi sedikit, potongan cerita mulai tersusun.

Penelusuran itu kemudian membawa Serambi bertemu seorang pria yang meminta identitasnya dirahasiakan. Pria tersebut bukan penambang, bukan pula pemilik modal. Ia hanya perantara dalam perdagangan emas, yang bertugas menghubungkan kelompok pembeli dengan penambang maupun penampung emas di sejumlah kawasan pertambangan.

"Saya udah setahun ini diajak mereka. Kalau mereka sudah sekitar tiga tahun berada di Aceh. Mereka dari China, China asli. Banyak grup mereka. Saya hanya menangani satu grup, grup lain orang lain yang tangani," ungkapnya. 

Pria itu mengaku memperoleh gaji Rp 12 juta per bulan. Di luar itu, ia juga menerima komisi apabila berhasil mendapatkan lokasi tambang yang menghasilkan.

Kamar Penuh Uang

Menurut pengakuan sumber, kelompok yang ditanganinya mendapatkan emas dari dua jalur. Pertama, dari lokasi yang mereka tambang sendiri, dan kedua, dari hasil penambangan rakyat yang tersebar di sejumlah wilayah Aceh. Di antaranya Pidie, Aceh Jaya, Nagan Raya, Aceh Barat, hingga Aceh Selatan.

Untuk lokasi yang mereka tambang sendiri, hasilnya tidak seragam, tergantung kondisi dan potensi masing-masing wilayah. Di satu lokasi, produksi bisa mencapai sekitar 10 kilogram emas dalam sebulan. Ada pula lokasi yang hanya menghasilkan tiga hingga lima kilogram. Panen biasanya dilakukan setiap tiga bulan, bergantung pada potensi lokasi.

Sementara emas hasil penambangan rakyat diperoleh melalui penampung maupun warga yang datang ke Banda Aceh untuk menjualnya. Kelompok tersebut ujar si sumber, melakukan penampungan emas hasil tambang rakyat di salah satu pertokoan kawasan Kota Banda Aceh. Transaksi berlangsung secara tunai.

"Uang tunai disiapkan dalam jumlah besar, satu kamar isinya uang semua, yang digunakan untuk membeli emas. Uang dalam bentuk rupiah itu ditukarkan di Jakarta, baru dibawa ke Aceh," ungkap sumber Serambi.

Dalam sebulan, kelompok yang ditanganinya mampu mengumpulkan sekitar lima hingga enam kilogram emas di Banda Aceh. Jumlah itu bergantung pada pasokan dari lokasi-lokasi tambang.

Para penambang, menurut dia, lebih memilih menjual emas kepada kelompok tersebut dibandingkan kepada perajin emas. Sebab, harga yang ditawarkan sesuai harga pasar dunia. "Lebih untung menjual ke mereka ketimbang menjual ke perajin emas di Pasar Aceh," ucapnya.

Namun, aktivitas tersebut membutuhkan biaya lain. Pria itu mengungkapkan ada setoran dalam jumlah besar agar kegiatan kegiatan kelompok tersebut dapat berjalan lancar. Serambi tidak dapat memverifikasi secara independen pengakuan ini, termasuk kepada siapa setoran itu diberikan.

Sumber juga menggambarkan jaringan yang lebih besar. Menurut pengakuannya, satu kelompok saja dapat beranggotakan sekitar 300-an warga negara China. Jumlah itu belum termasuk kelompok lain yang disebutnya juga melakukan aktivitas serupa di Aceh. “Saya hanya menangani satu grup. Grup lain ada orang lain yang tangani,” imbuh dia.

Data Direktorat Jenderal Imigrasi Aceh menunjukkan, arus kedatangan WN China ke Aceh dalam tiga tahun terakhir memang cukup tinggi, mencapai ribuan orang melalui Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) di wilayah kerja Kanwil Ditjen Imigrasi Aceh. Namun, data Imigrasi tersebut tidak merinci keterkaitan para WN China itu dengan aktivitas perdagangan emas yang ditelusuri Serambi.

Sementara menurut sumber media ini, kelompok yang ditanganinya tidak hanya mencari emas. Mereka juga mencari komoditas tambang lain, di antaranya timbal dan tembaga. Namun selama dirinya terlibat, belum ada timbal dan tembaga yang dibawa pulang. “Kalau di kelompok lain saya tida tahu,” timpalnya.

Jalur Udara dan Darat

Sumber Serambi melanjutkan, setelah emas terkumpul, emas lalu dikirim ke luar negeri melalui Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar. "Setelah terkumpul semua, emas dikirim ke luar negeri, perkiraan saya dikirim ke negaranya di China, transitnya lewat Singapura dan Malaysia," sebutnya.

Pada awalnya, emas dibawa melalui jalur udara. Setiap orang membawa sekitar dua kilogram emas. Pengiriman berlangsung bertahap melalui Bandara SIM. "Cara membawanya, setiap orang bawa 2 kilogram, setiap hari selalu ada yang membawa pergi emas dan selalu melalui bandara," ungkapnya.

Namun, pola itu disebut berubah setelah aparat menggagalkan penyelundupan emas di Bandara SIM awal Juli lalu. "Kalau sekarang, sejak heboh penemuan 2 kg di Bandara SIM, jalur pengiriman dipindahkan melalui jalur darat ke Medan, baru kemudian dikirim ke luar negeri," tambah dia.

Sumber menyebutkan, pengiriman emas, baik yang dilakukan melalui jalur udara maupun darat, kebanyakan menggunakan orang lokal Aceh, meski sebagian juga dibawa sendiri oleh kelompok tersebut.

Serambi kemudian meminta informasi mengenai penanganan perkara penyelundupan emas tersebut. Penindakan pada Rabu (1/7/2026) lalu dilakukan oleh tim gabungan Bea Cukai, Lanud Sultan Iskandar Muda, Polda Aceh, Polresta Banda Aceh, Imigrasi Banda Aceh, dan Angkasa Pura.

Setelah diamankan, WN China berinisial GP ditahan di Polda Aceh untuk menjalani proses penyidikan. Dalam penanganan perkara, penyidik juga mendalami asal-usul emas yang diamankan, termasuk kemungkinan emas tersebut berasal dari kegiatan penambangan legal maupun ilegal. Informasi mengenai asal-usul emas itu kemudian menjadi salah satu pintu masuk bagi Serambi untuk melihat lebih jauh mata rantai perdagangan emas di Aceh.

Dua kali penyelundupan emas berhasil digagalkan di Bandara Sultan Iskandar Muda. Namun, hasil penelusuran media ini menunjukkan bahwa pengungkapan itu diduga baru membuka bagian paling ujung dari rantai perdagangan emas yang lebih panjang. Rantai tersebut bermula dari kawasan tambang di pedalaman Aceh, berpindah ke tangan penampung, dikumpulkan di Banda Aceh, lalu bergerak keluar Aceh, sebelum akhirnya diduga mengalir ke luar negeri(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.