BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Pekan Raya Kemerdekaan Tanahlaut (Tala) 2026 memang telah berakhir dan resmi ditutup oleh Wakil Bupati HM Zazuli, malam tadi.
Namun, bagi sebagian warga, capaian perputaran uang hingga ratusan juta justru membuka harapan baru: geliat ekonomi yang tercipta selama perayaan diharapkan tidak ikut padam ketika panggung dan keramaian berakhir.
H Zazuli menyebut perputaran uang selama Pekan Raya Kemerdekaan mencapai Rp 923 juta. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa kegiatan publik dapat memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
"Itu adalah bukti nyata bahwa event semacam ini tidak hanya meriah, tetapi juga berdampak langsung pada roda perekonomian masyarakat," ujar Zazuli.
Bagi warga, tantangannya kini bukan lagi bagaimana membuat pekan raya berlangsung meriah, melainkan bagaimana menjaga efek ekonominya tetap hidup setelah keramaian selesai.
Warga Pelaihari, Rina Marlina, Minggu (23/8/2026), menilai kegiatan semacam itu memberi ruang yang cukup penting bagi pelaku usaha kecil untuk memperkenalkan produk sekaligus mendapatkan konsumen baru.
Baca juga: Semarak Simponi Kemerdekaan di Kotabaru, Libatkan Guru hingga Pelajar
"Yang kami harapkan bukan hanya ramai saat acaranya. Kalau UMKM sudah mendapatkan pasar dan pelanggan baru, itu yang menurut saya harus terus dikembangkan setelah acara selesai," ujarnya.
Senada, warga lainnya, Fahriansyah, berharap pemerintah daerah dapat menjadikan pengalaman Pekan Raya Kemerdekaan sebagai bahan evaluasi untuk merancang agenda ekonomi masyarakat yang lebih berkelanjutan.
"Ratusan juta itu angka yang besar. Mudah-mudahan tidak berhenti sebagai catatan keberhasilan sebuah event, tetapi bisa menjadi dasar untuk membuat kegiatan berikutnya yang lebih banyak melibatkan dan menguntungkan masyarakat lokal," katanya.
Perspektif warga tersebut memperluas makna Pekan Raya Kemerdekaan. Event tahunan tidak lagi semata diukur dari jumlah pengunjung atau kemeriahan panggung, tetapi juga dari seberapa jauh aktivitasnya mampu menciptakan peluang ekonomi yang bertahan lebih lama.
H Zazuli sendiri menegaskan, Pekan Raya Kemerdekaan bukan sekadar agenda hiburan. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang pelestarian budaya, interaksi sosial, ekspresi kreativitas dan penguatan gotong royong.
"Potensi besar yang kita miliki akan menjadi kekuatan luar biasa jika seluruh masyarakat saling mendukung. Perayaan kemerdekaan bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk peningkatan kesejahteraan masyarakat," tegasnya.
Pesan tersebut menemukan relevansinya pada harapan warga. Kemeriahan boleh berakhir, tetapi manfaatnya diharapkan berumur lebih panjang.
Dengan demikian, penutupan Pekan Raya Kemerdekaan Tala 2026 bukan sekadar penanda berakhirnya sebuah rangkaian acara.
Momentum itu sekaligus menjadi titik evaluasi: bagaimana ruang publik, UMKM, budaya dan kreativitas masyarakat dapat terus dipertemukan dalam ekosistem kegiatan yang memberi nilai ekonomi secara berkelanjutan.
Bagi warga, ukuran keberhasilan perayaan kemerdekaan pada akhirnya bukan hanya seberapa meriah malam penutupannya, tetapi seberapa lama dampak positifnya terasa setelah lampu panggung dipadamkan. (banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)