TRIBUNBATAM.id, BATAM - Sejumlah kandidat calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) disebut telah datang ke Batam untuk menemui pengurus NU di Kepulauan Riau.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari konsolidasi sekaligus penyampaian visi dan misi kandidat menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kepri, Muhammad Kamaluddin, mengatakan para kandidat bertemu dengan pengurus NU tingkat provinsi maupun kabupaten/kota di Kepri.
"Seluruh kandidat yang mencalonkan diri sebagai ketua umum ini hadir di Kota Batam untuk bertemu dengan para pengurus, baik dari provinsi maupun kabupaten/kota se-Provinsi Kepri," ujar Kamaluddin juga menjabat Ketua DPRD Batam belum lama ini.
Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi pengurus untuk mendengarkan visi dan misi yang ditawarkan masing-masing kandidat.
Meski begitu, PWNU Kepri belum menentukan arah dukungan kepada salah satu calon.
Pria kelahiran Demak, 6 Oktober 1977 itu mengatakan dinamika masih berjalan karena para kandidat masih melakukan konsolidasi dengan pengurus NU di daerah.
"Selama ini kita sifatnya masih dinamis," tambahnya.
Ia mengatakan keputusan dukungan nantinya akan dibahas melalui rapat internal PWNU dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Kepri.
Rapat tersebut melibatkan jajaran Syuriah dan Tanfidziyah sebelum menentukan sikap bersama.
Dalam Muktamar ke-35 NU, terdapat dua posisi penting yang akan ditentukan, yakni Rais Aam dan Ketua Umum PBNU periode 2026-2032.
Kamaluddin menjelaskan, mekanisme pemilihan kedua posisi tersebut berbeda.
Untuk Rais Aam, peserta muktamar terlebih dahulu memilih sembilan ulama khos yang disebut Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Sembilan ulama tersebut kemudian bermusyawarah untuk menentukan sosok yang akan menjadi Rais Aam PBNU.
"Peserta nanti akan mengusulkan nama-nama ulama khos. Sembilan orang yang mendapatkan suara terbanyak ini akan rapat untuk memutuskan siapa yang pantas dan layak menjadi Rais Aam PBNU," jelasnya.
Karena mekanisme tersebut, PWNU Kepri tidak mengarahkan dukungan kepada nama tertentu untuk posisi Rais Aam.
"Kita tidak ada nama, artinya kita pasrahkan sepenuhnya kepada AHWA," katanya.
Sementara untuk Ketua Umum PBNU, pemilihannya dilakukan langsung oleh peserta muktamar.
Pria 49 tahun itu menyebut mekanisme tersebut menggunakan sistem one man one vote, dengan peserta dari masing-masing PWNU dan PCNU memberikan suara untuk calon Ketua Umum.
"Kalau mekanisme Ketua PBNU, kita peserta dari masing-masing cabang dan masing-masing wilayah itu akan memberikan suara, one man one vote," sebutnya.
Dalam bursa calon Ketua Umum PBNU, sejumlah nama telah muncul.
Di antaranya Ketua Umum PBNU petahana Yahya Cholil Staquf, Doktor Zulfa Mustofa, Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, dan Gus Salam Shohib.
Kemudian Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, Gus Rozin, Marzuki Mustamar, serta Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Pria yang juga menjabat di DPRD Batam itu mengatakan seluruh nama tersebut merupakan tokoh NU yang memiliki kapasitas untuk memimpin organisasi.
"Semua figur ini adalah tokoh-tokoh kami, kader-kader NU yang telah menunjukkan kapabilitas dan kapasitasnya untuk layak menjadi ketua umum," katanya.
Meski sejumlah kandidat telah datang ke Batam, PWNU Kepri belum menentukan figur yang akan didukung.
Kamaluddin mengatakan pengurus masih melihat perkembangan hingga pelaksanaan muktamar.
Muktamar ke-35 NU akan digelar pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Forum tersebut akan membahas sejumlah agenda organisasi sekaligus memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU periode 2026-2032. (Tribunbatam.id/Ucik Suwaibah)