Proyek P3-TGAI di Aceh Tenggara Diduga jadi "Ladang Empuk Korupsi", Ini Kata Ketua Kelompok
Mawaddatul Husna August 23, 2026 01:54 PM

Laporan Wartawan TribunGayo.com Asnawi Luwi | Aceh Tenggara

TRIBUNGAYO.COM, KUTACANE - Dugaan korupsi berjamaah dalam proyek Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh mulai tercium dari beberapa kelompok pelaksana.

Nuansa aroma dugaan tindak pidana korupsi berjamaah "mulai terendus" setelah Wartawan TribunGayo.com turun ke lokasi melakukan liputan investigatif.

Dalam pekerjaan P3-TGAI ini diduga ketua kelompok dan bendahara jadi "tameng" atau formalitas saja dalam proyek tersebut.

Buktinya, anggaran bukan dikelola oleh kelompok tapi sepenuhnya dikendalikan pihak ketiga yang disebut-sebut orang terdekat salah satu partai yang membawa proyek aspirasi itu. 

Bahkan, stempel dan rekening kelompok "dikuasai" pihak ketiga yang diduga sebagai pihak yang mengkoordinir kegiatan itu.

Dan diduga ikut mencicipi aliran dana pada proyek P3-TGAI yang dialokasikan sebesar Rp 195 juta dari dana APBN tahun 2026. 

Ironisnya lagi, proyek fisik P3-TGAI ini sudah jadi "ladang empuk" yang dinilai terstruktur dalam dugaan korupsi berjamaah.

Buktinya, pihak yang bukan sebagai pengurus kelompok pelaksana program yang sepenuhnya mengendalikan proyek P3-TGAI itu di pedesaan.

"Poyek P3-TGAI itu, saya tak tahu kapan dimulainya pekerjaan dan semua pembelian material untuk proyek hingga pekerja di lapangan.

Pihak ketiga yang disebut-sebut berinisial "A" yang diserahkan uang proyek saat ditarik di bank dan kemudian kegiatan itu dia yang mengendalikannya tanpa koordinasi apapun," kata Ketua Kelompok P3A Kuta Tengah Jaya, Desa Kuta Tengah, Kecamatan Lawe Sigala -gala, Ridwan Lumban Tobing kepada TribunGayo.com, Sabtu (22/8/2026) di lokasi pekerjaan P3-TGAI.

"Kami ini di kelompok terkesan formalitas jangan-jangan jadi tumbal kalau proyek bermasalah atau tak sesuai spek dan RAB.

Bahkan jujur saya katakan dalam pekerjaan ini juga tidak digali pondasi dasar yang dalam 30 centimeter, melainkan pekerjaan seperti biasa membuat saluran parit dan akan segera dilantai," sambungnya.

Dikatakan, proyek itu dikerjakan oleh tukang yang memborong pekerjaan itu dan seperti tidak ada penggalian pondasi.

Karena di lokasi tidak ada bekas tanah galian dan pihaknya juga tidak mengetahui spek dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) bagaimana sebenarnya mekanisme pekerjaan proyek P3-TGAI itu. 

Hal itu disebabkan tidak diberikan kepada pihaknya sebagai pelaksana proyek P3-TGAI tersebut.

Hanya Diberikan Rp 10 Juta untuk Kelompok

Menurut dia, pihak ketiga yang diduga sebagai utusan dari Kutacane inisial "A" itu sepenuhnya mengendalikan penggunaan anggaran yang mereka tarik.

Dan hanya memberikan kepada mereka uang sebesar Rp 10 juta untuk kelompok yang berjumlah 11 orang termasuk di dalamnya ada Pengulu Kute. 

Hal senada diungkapkan Bendahara Kelompok P3A Kute Tengah Jaya.

Menurutnya, anggaran proyek P3-TGAI sudah dua kali dia lakukan penarikan dengan total anggaran APBN yang telah dia serahkan kepada pihak ketiga Rp 110 juta.

Seorang Pemborong Proyek P3-TGAI dari Kelompok P3A Kute Tengah Jaya di Desa Kuta Tengah, mengatakan, pekerjaan proyek itu dikerjakan sepanjang 250 meter.

Sedangkan yang sudah siap dikerjakan sebelumnya 140 meter lebih dan total ongkos borongan pekerjaan proyek P3-TGAI tersebut sampai selesai 100 persen Rp 26 juta.

Dalam proyek itu, pekerjaan sistemnya pasang papan mal dan diisi batu dan kemudian dicor.

Pengulu Kuta Tengah, Hendri Siringoringo, mengatakan, seharusnya proyek pekerjaan itu sepenuhnya diberikan kepada kelompok pelaksana agar pekerjaan benar-benar sesuai dengan harapan kita bersama.

Tetapi, ini pekerjaan bagaimana mekanisme diapun tidak tahu, karena mereka tidak ada diberikan gambar maupun RAB.

Sementara pekerjaan di lokasi lain dengan Ketua Kelompok Gala Suka di Desa Tanah Baru Kecamatan Lawe Sigala-gala, Rianto Simbolon.

Dikatakan pekerjaan proyek P3-TGAI itu para pekerja tak menggali pondasi dengan cangkul, akan tetapi mereka kerahkan alat berat untuk membersihkan saluran parit yang akan dibangun proyek P3-TGAI. 

Menurutnya, dalam pekerjaan proyek itu mereka sebagai kelompok hanya diberikan sebesar Rp 10 juta sama seperti kelompok yang lain juga.

Sedangkan sisa anggaran itu dikendalikan pihak ketiga, termasuk buku rekening dan stempel kelompok pelaksana program proyek P3-TGAI itu dikuasai pihak ketiga yang ikut mengkoordinir proyek itu.

Pekerja Proyek P3-TGAI pada Kelompok Gala Suka, mengatakan mereka bekerja sistem borongan sebesar Rp 28 juta termasuk biaya mesin molen semen Rp 2 juta dengan semen yang diberikan jatah 300 sak.

Kemudian, di lokasi lain yang langsung TribunGayo.com turun ke setiap lokasi seperti halnya di lokasi pekerjaan proyek P3-TGAI yang pelaksana P3A Gala Datar di Desa Kedataran Gabunga, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Aceh Tenggara.

Di lokasi itu, proyek P3-TGAI pada dinding pekerjaannya menempel pada proyek saluran parit yang sebelumnya sudah ada di lokasi.

Dan diduga juga tak memilik pondasi dasar dan juga tak sesuai prosedur dan spek maupun RAB.

Pekerjan proyek itu juga terlihat mulai ada yang kopong dan kualitas proyek diragukan. (*)

Baca juga: Harga Pinang Muda di Aceh Tenggara Turun Tipis, Pinang Kering Bertahan Stabil

Baca juga: Jalan Pedesaan Kuta Tengah-Lawe Loning Aceh Tenggara Ambruk Sepanjang 50 Meter

Baca juga: Update Harga Kakao Kering di Aceh Tenggara Rp 87 Ribu per Kg

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.