Penjualan Motor Listrik Masih Rendah, Indonesia Kembangkan Molinas dan Ekosistem Industri
Hendra August 23, 2026 02:03 PM

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Peluang pengembangan industri kendaraan listrik roda dua di Indonesia masih terbuka lebar seiring rendahnya kontribusi motor listrik terhadap total penjualan sepeda motor nasional.

Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk memperkuat kemampuan dalam mengembangkan kendaraan listrik produksi dalam negeri sekaligus membangun ekosistem industrinya.

Data penjualan menunjukkan pasar sepeda motor nasional mencapai sekitar 6–7 juta unit setiap tahun. Sementara itu, penjualan motor listrik baru berada di kisaran 60.000–70.000 unit per tahun, atau sekitar 1 persen dari total penjualan sepeda motor.

Untuk mendorong pertumbuhan sektor tersebut, pemerintah meluncurkan Motor Listrik Nasional (Molinas) di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA), Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada 13 Agustus 2026. Peluncuran ini menjadi bagian dari upaya mempercepat pengembangan industri kendaraan listrik nasional.

Pengembangan Molinas diarahkan untuk membangun ekosistem yang lebih menyeluruh, mulai dari manufaktur dan industri komponen, produksi baterai, infrastruktur pengisian serta penukaran baterai, hingga pembiayaan, distribusi dan layanan purnajual.

Dengan pendekatan itu, pemerintah tidak hanya mengejar penjualan motor listrik, tetapi juga membangun kapasitas industri nasional untuk memenuhi pasar.

Pertumbuhan permintaan kendaraan listrik diharapkan dapat berjalan bersamaan dengan peningkatan produksi, penguasaan teknologi, dan penggunaan komponen dalam negeri. 

Indonesia sudah memiliki modal untuk mengembangkan industri motor listrik. Kementerian Perindustrian mencatat terdapat 69 perusahaan industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai untuk roda dua dan roda tiga dengan kapasitas produksi mencapai 2,511 juta unit per tahun. Nilai investasinya sekitar Rp1,2 triliun.

Pemerintah juga mulai memperluas keterlibatan produsen nasional dalam ekosistem Molinas. Sekitar 10 perusahaan disebut telah memenuhi kriteria tingkat komponen dalam negeri (TKDN) Kementerian Perindustrian untuk masuk dalam pengembangan Molinas.

Di sisi produksi, kelompok usaha yang menaungi ALVA telah mencapai produksi sekitar 20.000 unit. Pemerintah mendorong peningkatan kapasitas produksi itu menjadi 200.000 unit, untuk membantu pencapaian target 2 juta unit.

Target tersebut menunjukkan keinginan pemerintah membawa industri motor listrik dari skala produksi terbatas menuju produksi massal. Dengan volume yang lebih besar, industri komponen mendapat pasar yang lebih luas, sementara produsen memiliki ruang untuk menekan biaya produksi. Pelaku usaha pendukung juga berpeluang masuk ke dalam rantai pasok.

Indonesia memiliki sumber daya nikel yang menjadi salah satu bahan penting dalam industri baterai, tetapi hilirisasi kendaraan listrik tidak berhenti pada pengolahan mineral atau produksi bahan baku baterai. Rantai tersebut dapat diteruskan ke pembuatan baterai, komponen kendaraan, perakitan motor, hingga distribusi dan layanan purnajual.

Rantai produksi yang lebih panjang di dalam negeri memberi ruang bagi industri lokal dan pelaku usaha pendukung untuk ikut tumbuh bersama pasar kendaraan listrik.

Untuk membangun rantai tersebut, pemerintah menggunakan pendekatan yang disebut Presiden Prabowo Subianto sebagai Indonesia Incorporated. PT Len Industri ditunjuk sebagai lead integrator untuk mengorkestrasi berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem Molinas.

Danantara, BUMN, perusahaan swasta, akademisi, lembaga riset, perbankan, hingga pelaku usaha kecil dan menengah ditempatkan dalam satu kerangka pengembangan industri.

Pendekatan ini diperlukan karena kendaraan listrik memiliki rantai industri yang berbeda dengan kendaraan berbahan bakar minyak. Produsen membutuhkan baterai dan komponen, sedangkan konsumen membutuhkan pembiayaan, infrastruktur pengisian atau penukaran baterai, serta layanan purnajual. Karena itu, pemerintah berupaya membangun berbagai mata rantai tersebut secara bersamaan.

Persoalan berikutnya adalah menciptakan permintaan. Kapasitas produksi yang besar membutuhkan konsumen yang mampu membeli kendaraan tersebut. Karena itu, pemerintah menyiapkan dukungan pembiayaan melalui bunga kredit yang lebih rendah, tenor lebih panjang, serta pengurangan bahkan penghapusan uang muka.

Danantara menyatakan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) siap mendukung pembiayaan tersebut. Pemerintah juga membuka opsi tukar tambah kendaraan berbahan bakar bensin dengan motor listrik.

Kemudahan pembiayaan dan tukar tambah diharapkan dapat mendorong masyarakat beralih dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik. Bagi industri, peningkatan permintaan akan memberi kepastian bagi produsen untuk memperbesar kapasitas dan memperkuat rantai pasok domestik.

Elektrifikasi kendaraan roda dua juga berkaitan dengan ketahanan energi. Indonesia masih membutuhkan BBM dalam jumlah besar untuk mobilitas masyarakat, sementara sebagian kebutuhan minyak dan BBM dipenuhi melalui impor. Perpindahan sebagian kendaraan roda dua ke tenaga listrik berpotensi mengurangi konsumsi BBM sekaligus meningkatkan pemanfaatan listrik domestik.

Pemerintah memperkirakan, dengan asumsi 11 juta motor listrik beroperasi pada 2037, pengembangan Molinas berpotensi menghemat subsidi BBM sebesar Rp82,2 triliun sepanjang 2027 hingga 2037. Program tersebut juga diproyeksikan memberikan nilai ekonomi hingga Rp150 triliun pada periode 2026-2031 dan menciptakan sekitar 215.000 lapangan kerja.

Pengembangan kendaraan listrik juga mulai diarahkan melampaui sepeda motor. Pada peluncuran Molinas, President Prabowo menyebut pemerintah membangun kompleks mobil listrik di kawasan Purwakarta-Subang, Jawa Barat, dengan target mulai berproduksi secara besar-besaran paling lambat pada 2028. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan kendaraan listrik untuk berbagai kebutuhan, termasuk bus dan kendaraan sektor pertanian.

Kapasitas industri roda dua yang sudah mencapai 2,511 juta unit per tahun memberi ruang bagi peningkatan produksi. Namun, target hingga jutaan unit juga membutuhkan pasar yang lebih luas dan rantai pasok yang lebih kuat.

Di titik itu, tantangan Molinas bukan lagi sekadar meningkatkan kapasitas produksi. Harga yang kompetitif, pembiayaan, komponen lokal, teknologi, infrastruktur, layanan purnajual, dan penyerapan pasar akan menentukan seberapa cepat industri tersebut berkembang.

Dengan demikian, pengembangan motor listrik nasional menjadi bagian dari upaya membangun industri kendaraan listrik Indonesia dari roda dua menuju roda empat. (*/E0)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.