TRIBUN-TIMUR, MAKASSAR - Sekitar 300 warga Nahdlatul Ulama (NU) asal Sulawesi Selatan (Sulsel) bakal memadati arena Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Perhelatan akbar organisasi Islam tersebut dijadwalkan berlangsung selama lima hari, 27–31 Agustus 2026.
Sebagian besar rombongan bertolak menuju lokasi muktamar menggunakan moda transportasi kapal laut.
Kabar mobilisasi massa Nahdliyin dari kawasan timur Indonesia tersebut dibenarkan Pendiri Sultan Hasanuddin Center sekaligus Aktivis NU, Makmur Idrus.
Ia menjelaskan perhelatan lima tahunan ini memicu antusiasme tinggi dari pengurus maupun kader kultural di 24 Pengurus Cabang (PC) NU se-Sulsel.
"Kurang lebih 300 warga NU di Sulsel akan meramaikan muktamar," ujar Makmur Idrus ditemui di Warkop Dg Anas, Jl Faisal, Banta-Bantaeng, Rappocini, Tidung, Makassar, Minggu (23/8/2026) siang.
"Masing-masing PC membawa massanya sendiri karena ini forum tertinggi organisasi," jelasnya.
Sebagian besar rombongan jalur laut mulai berangkat, Senin (24/8/2026) besok.
Sementara sebagian kecil yang menggunakan jalur udara dijadwalkan terbang sehari jelang pembukaan muktamar.
Rombongan kultural yang tergabung dalam Komunitas NU Kultural (Kanuku) Sulsel pimpinan Mustafa Irate turut memboyong sekitar 20 kader untuk meramaikan muktamar.
Keberangkatan puluhan kader tersebut ditempuh melalui dua jalur moda transportasi, yakni kapal laut dan pesawat udara.
Di balik masifnya gelombang pengerahan massa ke Jombang, Makmur Idrus mengingatkan agar keikutsertaan rombongan Sulsel tidak sekadar menjadi pelengkap panggung.
Ia menegaskan agar suara Nahdliyin tidak berakhir sebagai "kayu bakar politik" dalam bursa pemilihan Ketua Umum PBNU.
Menjelang muktamar, peta persaingan kandidat berpotensi mengerucut pada tiga nama besar, Prof Dr KH Nasaruddin Umar, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).
Makmur menegaskan suara dari kawasan Indonesia Timur memiliki posisi tawar yang sangat bernilai.
Sehingga tidak boleh diberikan secara cuma-cuma hanya atas dasar asas kedekatan personal atau sekadar foto bersama.
"Suara dari kawasan Timur itu mahal dan haram hukumnya untuk disetir oleh kepentingan politik praktis jangka pendek, kata Makmur.
"Jangan sampai kita datang jauh-jauh hanya membawa angka suara tanpa ada kejelasan komitmen dan agenda organisasi yang diperjuangkan," tegasnya.
Makmur Idrus mendesak seluruh PWNU dan PCNU di wilayah Indonesia Timur untuk mengunci setiap bakal calon pimpinan PBNU dengan kontrak moral yang konkret.
Dukungan organisasi menurutnya harus ditukar dengan komitmen pembangunan daerah yang nyata.
Beberapa poin krusial yang ditegaskan untuk diperjuangkan dalam Muktamar ke-35 NU mencakup kemandirian organisasi melalui kepastian program penguatan ekonomi bagi PCNU dan PWNU di luar Pulau Jawa.
Selain itu, sektor pendidikan dan pesantren menjadi prioritas melalui dukungan sarana serta pemerataan mutu pendidikan bagi pondok pesantren di kawasan timur.
Poin penting lainnya adalah kaderisasi berkelanjutan dengan pembukaan ruang kepemimpinan dan ruang kontribusi yang proporsional bagi kader-kader daerah di jajaran PBNU.
Makmur mengatakan peta dukungan masih sangat cair sampai Daftar Peserta Tetap (DPT) definitif ditetapkan.
“Tugas kita hanya memastikan siapa pun yang terpilih nanti wajib memasukkan agenda pengembangan Indonesia Timur ke dalam arah kebijakan PBNU lima tahun ke depan," jelasnya. (*)