Regeneratif Estetika Jadi Tren Estetika Medis, Kolagen Stimulator Hasilkan Kulit Lebih Natural
Mochamad Dipa Anggara August 23, 2026 02:34 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Perkembangan estetika medis kini tidak hanya berfokus pada perubahan bentuk wajah, tetapi juga mengarah pada perawatan yang memperhatikan kesehatan dan kualitas jaringan kulit.

Pendekatan tersebut dikenal sebagai regeneratif estetika.

Topik ini dibahas dalam diskusi Regenerative Medical Aesthetic Outlook 2026 di Hotel Langham, Jakarta, Sabtu (22/8/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan dr. Deasy Lius, Sp.DVE, dr. Jeffri Setiawan, Dipl. AAAM, dr. Elfin, M.Biomed (AAM), dr. Lanny Juniarti, Dipl. AAAM, dan dr. I.G.N Probo Suteja Putra.

Dalam diskusi tersebut, dr. Deasy Lius mengatakan tren estetika saat ini menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap hasil perawatan yang terlihat lebih natural.

"Jika sebelumnya perawatan estetika identik dengan perubahan bentuk wajah yang terlihat jelas, kini pendekatan yang lebih halus dan tidak tampak seperti hasil prosedur semakin diminati," ujarnya.

Menurut Deasy, kolagen menjadi salah satu komponen penting dalam menjaga struktur kulit. Ia mengibaratkan kolagen seperti tiang pada sebuah rumah.

Ketika struktur tersebut mengalami penurunan, tanda-tanda penuaan seperti kerutan dan perubahan elastisitas kulit akan semakin terlihat.

Salah satu pendekatan yang digunakan untuk kondisi tersebut adalah kolagen stimulator.

"Kolagen stimulator bekerja dengan memberikan bahan tertentu yang kemudian merangsang tubuh untuk memproduksi kolagennya sendiri," ucapnya.

Meski demikian, Deasy mengingatkan bahwa kolagen stimulator merupakan tindakan medis yang tetap memiliki manfaat dan risiko. Karena itu, keputusan menjalani prosedur tidak seharusnya hanya didasarkan pada tren.

Ia menekankan pentingnya mempertimbangkan kebutuhan pasien dan evidence base sebelum menentukan tindakan.

"Karena sebetulnya yang paling penting dalam setiap tindakan medis, akan ada efek sampingnya. Nah, sering kali tuh pasien kalau membuat keputusan suka lupa akan efek sampingnya," ucapnya.

Regeneratif estetika tidak sekadar stimulasi kolagen

Di sisi lain, dr. Lanny Juniarti menjelaskan penggunaan PLLA-LASYNPRO sebagai kolagen stimulator.

Menurutnya, PLLA bukan merupakan bahan baru dalam dunia kolagen stimulator.

Teknologi LASYNPRO, sebut dr. Lanny, dirancang menghasilkan mikrosfer PLLA dengan bentuk bulat, permukaan halus, dan ukuran yang seragam.

Karakteristik tersebut, ditujukan agar proses stimulasi kolagen berlangsung secara bertahap dan terkontrol.

"Singkatnya kandungannya dan bentuk molekulnya yang bulat sempurna diterima oleh kulit kita dengan sangat baik, tanpa drama. Perlu diperhatikan bahwa kulit kita dan penuaan merupakan tatanan biologis yang mana mereka membaca geometri (bentuk) dan karakteristik suatu produk ketika dimasukan ke dalam tubuh, dengan kata lain merespon secara biologik bukan merespon berdasarkan klaim marketing semata," jelasnya.

Pendekatan regeneratif dan hasil yang Lebih Natural

Dokter I.G.N Probo Suteja Putra menambahkan, penelitian berbasis kultur jaringan dapat membantu mempelajari respons kulit terhadap bahan tertentu, termasuk aktivitas fibroblas, ekspresi gen, dan pembentukan matriks ekstraseluler.

“Penelitian menggunakan kultur jaringan untuk mempelajari bagaimana fibroblas atau pabrik kolagen bekerja, extracellular matrix terbentuk, dan berbagai tanda regeneratif lainnya membuat saya yakin menjalani perawatan dan merasakan manfaatnya sendiri,” ujar Probo yang mengaku telah menjalani serangkaian Julaine luxelift di Miracle Aesthetic Clinic.

Sementara itu, dr. Elfin, M.Biomed (AAM), mengatakan pasien kini mulai mencari hasil perawatan yang lebih natural dan tidak hanya berorientasi pada perubahan volume wajah.

“Semakin banyak pasien mencari kulit yang lebih sehat, lebih kuat, lebih elastis, dan tampak lebih muda secara alami. Pendekatan regeneratif menjadi pilihan karena hasilnya berkembang bertahap dan tetap terlihat harmonis,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan dr. Jeffri Setiawan, Dipl. AAAM. Menurutnya, prosedur yang berfokus pada regenerasi biologis kulit sejalan dengan tren quiet luxury, yang mengedepankan perbaikan kulit secara halus dan proporsional.

“Pendekatan ini berfokus pada regenerasi biologis kulit, bukan sekadar menyamarkan tanda-tanda penuaan,” ujar Jeffri.

Adapun produk injeksi berbasis PLLA-LASYNPRO, menurut keterangan perusahaan, telah memperoleh izin edar Kementerian Kesehatan RI dan digunakan di lebih dari 35 negara.

Meski tren perawatan regeneratif semakin berkembang, masyarakat tetap dianjurkan berkonsultasi dengan dokter sebelum menjalani tindakan. Pemahaman mengenai manfaat dan risiko serta pelaksanaan prosedur oleh tenaga medis yang berwenang menjadi bagian penting dalam menentukan perawatan estetika.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.