Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Kenaikan harga minyak goreng membuat biaya produksi Rambak Anisa di Wonogiri ikut meningkat.
Namun, pemilik usaha, Dwi Prasetyo, memilih menekan keuntungan daripada menaikkan harga rambak secara signifikan kepada pelanggan.
Rumah produksi Rambak Anisa berada di Kedungsono RT 4 RW 6, Desa Bulusulur, Kecamatan Wonogiri, Jawa Tengah.
Dwi mengatakan kenaikan harga sejumlah bahan baku membuat margin keuntungan usahanya semakin tipis.
Selain minyak goreng, harga tepung dan plastik kemasan juga mengalami kenaikan.
Kondisi tersebut membuat Dwi harus menyiasati biaya produksi agar usaha tetap berjalan tanpa membebani pelanggan.
Dwi menyebut harga minyak goreng yang sebelumnya berada di kisaran Rp190 ribu per karton kini mencapai sekitar Rp240 ribu.
Kenaikan tersebut cukup berpengaruh terhadap biaya produksi rambak karena proses penggorengan membutuhkan minyak dalam jumlah besar.
"Margin mepet. Berjalan sekitar tiga bulan ternyata semakin mepet. Tapi niat saya pemberdayaan, jadi disiasati agar semuanya berjalan," katanya, Jumat (21/8/2026).
Meski margin semakin tipis, Dwi tidak langsung menaikkan harga rambak.
Ia memilih mencari cara agar biaya produksi tetap terkendali sehingga pelanggan masih bisa mendapatkan produk dengan harga yang terjangkau.
Saat ini, Rambak Anisa menjual produk dalam dua bentuk, yakni rambak mentah dan rambak matang.
Rambak mentah dibanderol sekitar Rp18 ribu per kilogram, sedangkan rambak matang dijual dengan harga Rp28 ribu per kilogram.
Dwi juga tidak membuang rambak hasil sortiran.
Rambak yang berukuran terlalu kecil atau tidak masuk kategori utama tetap ia jual dengan harga lebih murah.
Langkah tersebut menjadi salah satu cara Dwi menjaga agar seluruh hasil produksi tetap memiliki nilai jual.
Bagi Dwi, usaha rambak tidak hanya bertujuan mengejar keuntungan.
Ia ingin rumah produksinya menjadi tempat warga mendapatkan kesempatan untuk menambah penghasilan dan mengembangkan usaha.
Warga yang ingin berjualan juga bisa mengambil rambak mentah dari tempatnya.
Dwi bahkan mengajari pelanggan cara menggoreng rambak agar bisa mengembang dengan sempurna.
"Rambak ini kan bisa buat sampingan. Orang yang menganggur bisa untuk bekerja, yang punya pekerjaan bisa untuk tambah penghasilan," ujar Dwi.
Pelanggan juga bebas menggunakan merek sendiri saat menjual kembali rambak tersebut.
Dwi hanya meminta mereka mencantumkan keterangan bahwa produk dibuat di rumah produksi Rambak Anisa.
"Kalau ambil tempat saya bebas mau diberi nama apa rambaknya. Tapi saya mewajibkan untuk diberi keterangan kalau diproduksi sini, Rambak Anisa, biar kalau di warung atau pasar tidak bertabrakan," jelasnya.
Saat ini, rumah produksi Dwi memiliki lima pekerja.
Tiga orang bertugas menggoreng rambak, sedangkan dua lainnya menangani pengemasan.
Jumlah tersebut belum termasuk pelanggan yang mengambil rambak mentah untuk digoreng dan dipasarkan sendiri.
Baca juga: Kisah Rambak Anisa Wonogiri Tembus Pasar Jakarta, Berawal dari Usaha Vakum 13 Tahun
Dwi mengatakan permintaan rambak mentah dan matang saat ini relatif seimbang.
Pesanan juga datang dari berbagai wilayah, mulai dari sejumlah kecamatan di Wonogiri hingga Sukoharjo dan Karanganyar.
Produk Rambak Anisa bahkan sudah dikirim ke Jakarta, Bekasi, dan Bogor.
Permintaan biasanya meningkat menjelang bulan puasa dan Lebaran.
Kenaikannya mencapai sekitar 50 hingga 60 persen, bahkan dalam kondisi tertentu permintaan bisa mencapai dua kali lipat.
Di tengah peluang pasar tersebut, Dwi tetap memilih mempertahankan strategi menekan margin keuntungan.
Baginya, keberlangsungan usaha dan kesempatan warga mendapatkan penghasilan memiliki nilai lebih besar daripada sekadar mengejar keuntungan maksimal.
"Saya tidak mencari banyaknya keuntungan, tapi bisa menciptakan lapangan pekerjaan," pungkasnya.
(*)