Si Amad Bheng 
Subur Dani August 23, 2026 04:24 PM

Oleh: Muhammad Yusuf Bombang (Apa Kaoy)

Langit di atas gampong Paya Kruep siang itu agak mendung. Hari ketiga meninggalnya Utoh Raman masih tetap ramai pelayat yang datang. 

Memang sudah menjadi adat kebiasaan di daerah pesisir pantai itu, kalau ada orang meninggal dunia di suatu gampong, rombongan warga gampong lain sekitarnya secara bergantian juga datang melayat dan bertakziah.

Dan Utoh Raman termasuk salah seorang yang sangat dihormati di Gampong Paya Kruep dan sekitarnya. 
Orang-orang memanggilnya Utoh Raman karena keahliannya sebagai tukang kayu dan perancang rumah adat Aceh.

Baca juga: Yang Dikatakan dan Yang Terjadi

Banyak rumoh Aceh di daerah itu lahir dari sentuhan tangannya. Ia dikenal teliti, jujur, dan sangat memahami adat dalam membangun rumah. Karena itu namanya sering disebut dengan hormat oleh masyarakat.

Selain ahli dalam pekerjaannya, Utoh Raman dikenal baik hati dan ringan tangan membantu siapa saja.

Namun kebanggaan itu perlahan berubah menjadi beban ketika Ahmad memasuki usia remaja. Hampir setiap minggu ada saja laporan tentang ulah anaknya yang membuat malu keluarga.

Tak sedikit orang yang diam-diam merasa kasihan kepada pasangan tua itu. Mereka dihormati karena kebaikannya, tetapi pada saat yang sama harus memikul rasa malu yang tak kunjung habis akibat tingkah si Amad.

Menjelang Zuhur, tiba-tiba sebuah sepeda motor RBT berhenti di depan rumah duka. Beberapa lelaki yang sedang duduk di bawah tenda menoleh bersamaan.

Baca juga: 200 Anak-anak Geulanggang Baro Kota Juang Bireuen Ikut Lomba Mewarnai

Seorang penumpang turun perlahan sambil membawa tas kecil dan koper hitam yang dibantu jinjing oleh abang RBT. Debu jalan gampong masih menempel di ujung celananya.

Mula-mula tak banyak yang mengenalinya. Tetapi seorang lelaki tua yang sedang menggelar tikar tambahan tiba-tiba menoleh.

“Ya Allah… Amad!”

Orang-orang ikut menoleh.

“Amad Bheng? Benarkah dia?”

Amad hanya mengangkat tangan memberi salam kepada para pelayat. Wajahnya tenang. Tak ada lagi rambut gondrong yang dulu selalu kusut. Tak ada lagi pakaian kumal yang baunya sering tercium lebih dulu daripada orangnya.

Ia tidak berhenti untuk berbincang, langsung masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah, ibunya duduk bersandar pada dinding, dikelilingi kakak dan adik-adiknya.

Begitu melihat anak lelakinya berdiri di ambang pintu, perempuan tua itu pecah tangisnya.

Amad berlutut di hadapannya. Mencium kedua tangan ibunya. Memeluk ibunya lama sekali, dan tak seorang pun sanggup berkata-kata.

Sulit dipercaya bahwa lelaki yang duduk tenang di samping ibunya itu adalah Amad Bheng yang dulu dikenal di seluruh Gampong Paya Kruep dan sekitarnya.

Dulu hampir tak ada orang yang memanggilnya Ahmad. Semua orang memanggilnya Amad Bheng. Julukan itu melekat sejak remaja karena satu kebiasaan yang membuat orang-orang tua mengelus dada.

Baca juga: Safrizal ZA Dampingi Mendagri Tinjau Penanganan Gempa di NTT

Di warung kopi, di lapangan bola, dan bahkan di meunasah pun Amad Bheng bisa tiba-tiba mengeluarkan kentut panjang yang menggelegar tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Semakin orang marah, semakin ia tertawa. Anak-anak seusianya menganggapnya itu lucu. Orang-orang tua malah menganggapnya itu adalah musibah.

Lama-kelamaan julukan nama Amad Bheng semakin terkenal. Bahkan banyak orang hampir lupa bahwa nama sebenarnya adalah Ahmad.

Anak-anak kecil yang sedang bermain di halaman meunasah atau di pematang sawah sering menjadikan nama itu sebagai nyanyian ejekan.

"Amad Bheng... Amad Bheng... Toh geuntot teukeujot kameng..."

Mereka menyanyikannya berulang-ulang sambil berlari dan tertawa gembira.

Baca juga: Turki Minta Penangkapan Internasional Netanyahu Atas Tuduhan Genosida di Gaza

Suatu sore anak-anak sedang menyanyikan lagu itu di dekat warung kopi. Ketika tiba-tiba mendapati Amad Bheng berdiri di belakang mereka, mereka langsung berlarian tunggang-langgang. Warung kopi pun pecah oleh gelak tawa.

Tetapi kentut bukan satu-satunya masalah. Kalau malam tiba dan para pemuda berkumpul di rangkang dekat rawa, Amad Bheng selalu punya akal.

“Kita anak muda harus banyak akal. Malam ini kita harus makan enak, Kalian di sini siapkan segala sesuatu dan mamasak nasi lemak. Menunya ayam panggang, itu urusanku.” katanya suatu malam.

Menjelang tengah malam Amad Bheng muncul membawa beberapa ekor ayam hasil entah dari mana. Mereka memasak nasi lemak dan makan ayam panggang sampai kenyang.

Esok paginya Gampong Paya Kruep gempar. Ada yang kehilangan ayam. Dan hampir semua orang menduga siapa pelakunya. Tetapi seperti biasa, Amad Bheng selalu punya seribu alasan untuk membela diri.

Baca juga: VIDEO - Presiden Negara ini Siap Bagi Rp5,5 Juta ke Setiap Warga pada 2027

Kisah yang paling terkenal adalah tentang Bang Beunu. Menjelang Ramadhan, Amad Bheng mengundang beberapa pemuda untuk makan bersama di rangkang. Bang Beunu ikut diundang dan hadir.

Malah menjadi orang yang paling lahap. Ia berkali-kali menambah daging kambing bakar.

Besok paginya ia menjerit. Kambing kesayangannya hilang. Barulah orang-orang sadar bahwa kambing yang dimakan ramai-ramai malam sebelumnya ternyata kambing milik Bang Beunu sendiri.

Kenakalan Amad Bheng mencapai puncaknya pada suatu malam Ramadhan. Saat itu ia ikut shalat tarawih di meunasah. Jama’ah merasa gembira. Mungkin mereka menganggap akhirnya Amad Bheng mulai berubah.

Baca juga: Puluhan Unggas Warga di Panton Reu Mati Mendadak, Wabah Aratan Resahkan Peternak

Tetapi harapan itu tidak bertahan lama. Pada rakaat kedua, ketika suasana sedang khusyuk, terdengar suara yang sangat dikenal oleh seluruh warga gampong.

Bheeeng! Lalu sekali lagi, Bheeeng! Dan sekali lagi, Bheeeng! Begitulah suara kentut Amad Bheng tiga kali berturut-turut. 

Jama’ah berusaha menahan tawa. Sebagian membatalkan shalat karena tak sanggup menahan gelak, sementara Amad Bheng berlari keluar meunasah sambil tertawa terbahak-bahak.

“Pue ilee, ija brok jipajoh di si Amad Bheng nyan? Cukop khieng bee geuntot jih.” (Apa kain busukkah  yang dimakan si Amad Bheng? Bau sekali kentutnya).

Setelah selesai shalat tarawih suara tawa beberapa jama’ah meledak. Sebagian lainya merepetin si Amad Bheng yang dianggap jahil itu. Dan  malam itu Teungku Imum pulang dengan wajah merah padam.

Tetapi rupanya Amad Bheng belum kapok. Beberapa malam kemudian ia datang lagi ke meunasah untuk ikut shalat tarawih berjama’ah. Sebagian jama’ah saling berpandangan. Ada yang heran, ada pula yang diam-diam waspada.

Malam itu Amad Bheng mengambil posisi pada saf kedua. Di samping kirinya berdiri Dahlan, seorang pemuda polos yang memiliki sedikit kelainan mental, dan dikenal selalu menjawab apa saja dengan jujur.

Ketika rakaat kedua sedang berlangsung dan jama’ah berdiri tegak mendengarkan bacaan imam, tiba-tiba Amad menoleh sedikit ke arah Dahlan.

Baca juga: Harga Emas Murni dan London di Lhokseumawe Hari Ini Tak Bergerak, Ini Rinciannya

“Dahlan, sapu tadi kau taruh di mana?” tanyanya pelan.
Tanpa berpikir panjang, Dahlan langsung menjawab dengan suara yang cukup jelas. “Ada di situ. Di samping pintu balai!” 

Setelah menjawab itu Dahlan dengan serius melanjutkan lagi shalatnya. Beberapa jama’ah langsung berguncang bahunya menahan tawa. Sebagian menundukkan kepala.

Yang lain menggigit bibir agar tidak sampai membatalkan shalat.

Malam itu Amad Bheng diusir dari meunasah dan diminta tidak lagi ikut shalat berjama’ah sampai benar-benar ia berubah. Tetapi seperti biasa, ia keluar dari meunasah tanpa sedikit pun merasa bersalah.

Bahkan dari kejauhan pun masih terdengar suara tawanya pecah di tengah gelap malam Ramadhan.
Sebulan kemudian, setelah hari raya idul fitri, Amad Bheng akan pergi merantau ke negeri seberang.

Kabar itu justru disambut gembira oleh sebagian warga. Bahkan ada yang berkata diam-diam,

“Alhamdulillah. Akhirnya Gampong Paya Kruep ini bisa aman.”

Tetapi sebelum berangkat, Amad Bheng sempat membuat ulah terakhir. Ia mengadakan kenduri besar untuk mendoakannya keselamatan dan keberhasilannya di rantau kelak. Geuchik, Teungku Imum, para tokoh gampong dan para pemuda diundang ke rumahnya, dan mereka semua datang.

Baca juga: Dua Mahasiswa UIN Ar-Raniry Tuntaskan KKN Nusantara di Leuwidamar Lebak

Kuah beulangong dimasak sejak sore. Sebagian sudah diasingkan khusus untuk tamu undangan. Sebagian khusus untuk anggota keluarganya dan kaum perempuan yang ikut membantu di bagian dapur. 

Kebiasaan di kampung itu, sebelum acara doa bersama para tamu dipersilakan menikmati kenduri terlebih dahulu oleh tuan rumah. Baru setalah acara doa bersama selesai, tuan rumah akan menghidangkan minuman teh dan kopi serta bermacam ragam kue.

Tetapi menjelang pertengahan doa berlangsung, satu demi satu tamu mulai mengantuk. Ada yang tertawa sendiri. Ada yang melamun. Ada yang berbicara tidak karuan.

Belakangan diketahui ternyata Amad Bheng diam-diam mencampurkan biji ganja giling ke dalam kuah beulangong yang disajikan khusus untuk para tamu lelaki, jama’ah doa bersama.

Ketika seluruh undangan sibuk melawan kantuk, malam itu Amad Bheng sudah pergi meninggalkan Gampong Paya Kruep, diantarkan oleh temannya ke kota kecamatan untuk naik bus pergi merantau.

Tidak banyak yang mengetahui kehidupan Amad Bheng selama berada di negeri seberang. Hanya kedua orang tuanya, semasa ayahnya masih hidup, dan saudara-saudaranya yang sesekali menerima kabar tentang dirinya.

Mula-mula ia bekerja serabutan untuk menyambung hidup. Kadang menjadi buruh angkut di pelabuhan, kadang membantu di rumah makan, kadang pula bekerja apa saja yang halal demi mendapatkan rezeki.
Tetapi perantauan mempertemukannya dengan lingkungan yang sama sekali berbeda.

Ia bergaul dengan orang-orang baik, rajin mengikuti pengajian, dan perlahan mulai belajar agama dengan sungguh-sungguh.

Baca juga: Keluarga Korban TPPO Madagaskar Buat Laporan ke Polres Aceh Tamiang

Berkat bantuan seorang saudagar yang dermawan, Amad kemudian masuk ke sebuah pesantren untuk memperdalam ilmu agama yang selama ini nyaris tak pernah dipedulikannya.

Tahun demi tahun berlalu. Sedikit demi sedikit hidupnya berubah. Orang yang pergi meninggalkan Gampong Paya Kruep adalah Amad Bheng yang dikenal karena kenakalannya. Tetapi orang yang kelak kembali bukan lagi pemuda yang sama.

Tujuh tahun kemudian ia pulang. Bukan sebagai Amad Bheng yang dulu. Orang-orang mulai memperhatikannya. Ia rajin ke meunasah. Sering membantu warga. Berbicara sopan kepada siapa pun. Tidak pernah lagi membuat keributan.

Perubahan itu begitu besar sehingga banyak orang tidak percaya. Bukan hanya penampilannya yang berubah. Cara berjalan, cara berbicara, bahkan cara memandang orang lain pun berbeda. Amad Bheng yang dahulu selalu menjadi sumber keributan kini lebih banyak diam dan mendengar. 

Jika dulu orang-orang sering melihatnya tertawa mengejek orang lain, sekarang mereka justru sering melihatnya membantu orang tua mengangkat kayu bakar, mengantar orang sakit ke puskesmas, atau duduk berjam-jam menemani para lelaki tua berbincang di warung kopi tanpa sekali pun membuat keributan.

Kini orang-orang mulai enggan memanggilnya Amad Bheng. Ada yang mulai menyebut namanya Teungku Ahmad. 

Bahkan Teungku Imum pernah berkata, “Kalau tidak melihatnya sendiri, aku takkan percaya itu si Amad yang dulu.”

Baca juga: Tiga Tahun, 5.006 WN China Masuk ke Aceh

Beberapa bulan kemudian, suatu kali, Teungku Ahmad diminta menyampaikan khutbah Jum’at di masjid kemukiman. Kabar itu segera menyebar ke mana-mana. Masjid penuh.

Banyak orang datang bukan semata-mata untuk mendengar khutbah. Mereka ingin melihat sendiri perubahan yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita orang.

Hari itu Teungku Ahmad berdiri di atas mimbar dengan wajah tenang. Khutbahnya sederhana. Tentang dosa. Tentang penyesalan. Tentang kasih sayang Allah yang selalu terbuka bagi hamba-Nya.

Menjelang akhir khutbah, suaranya tiba-tiba berubah pelan. Ia berhenti beberapa saat. Kemudian berkata,
“Pada kesempatan ini saya ingin meminta maaf kepada seluruh jama’ah, seluruh warga Gampong Paya Kruep serta gampong-gampong lain di sekitar kemukiman ini.”

Masjid mendadak sunyi.

“Saya sangat malu mengingat masa lalu saya.”

Suara Teungku Ahmad mulai bergetar.

“Saya pernah menyakiti hati banyak orang. Saya pernah mengambil yang bukan hak saya. Saya pernah membuat orang tua saya menangis. Saya pernah mempermalukan kampung saya sendiri.”
Ia menundukkan kepala. Lama. Sangat lama.

“Sampai hari ini saya masih malu mengingat semua itu. Karena itu saya memohon dengan sungguh-sungguh, maafkanlah saya.”

Ketika mengucapkan kalimat terakhir, matanya mulai berkaca-kaca. Beberapa jama’ah tua terlihat mengusap air mata. Sebagian lainnya menundukkan kepala. Tak sedikit pula yang ikut terharu.

Baca juga: Bea Cukai Perketat Pengawasan Emas di Bandara

Di dalam masjid itu, orang-orang seperti sedang menyaksikan seorang manusia yang benar-benar ingin meninggalkan masa lalunya.

Perubahan itu sebenarnya telah terlihat sejak hari-hari awal kepulangannya. Ia memimpin tahlil untuk ayahnya sejak malam ketiga  sampai malam ke sepuluh.

Ia rajin berjama’ah di meunasah, menjadi imam, membantu warga, dan berulang kali meminta maaf atas kesalahan masa lalunya. Sedikit demi sedikit kepercayaan masyarakat kembali tumbuh, hingga orang-orang mulai meninggalkan julukan lama dan memanggilnya dengan nama baru: Teungku Ahmad.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Beberapa bulan setelah kepulangannya, Teungku Ahmad menyampaikan kepada keluarga dan para tokoh gampong bahwa ia harus kembali ke negeri seberang.

Di sana kini ia bukan lagi buruh serabutan seperti dahulu. Pesantren tempat ia pernah menuntut ilmu telah memintanya menjadi pengajar. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk meneruskan ilmu yang pernah diberikan para gurunya.

Kabar itu membuat banyak warga merasa kehilangan. Mereka baru saja mengenal sosok Amad yang baru. Baru saja menyaksikan perubahan yang nyaris tak masuk akal dalam dirinya.

Tetapi Teungku Ahmad berjanji bahwa kepergiannya bukan untuk selamanya. Ia bahkan telah menyampaikan satu kabar yang membuat mata ibunya berkaca-kaca. Setahun lagi, setelah menyelesaikan beberapa amanah di pesantren, ia akan pulang untuk menikah.

Calon istrinya adalah seorang gadis alumni pesantren ternama yang kini telah menjadi ustazah. Gadis itu bukan orang asing bagi keluarganya. Jauh sebelum meninggal dunia, Utoh Raman dan istrinya ternyata telah menjalin hubungan baik dengan keluarga gadis tersebut.

Bahkan secara tidak resmi mereka telah saling berjanji untuk menjodohkan kedua anak itu apabila tiba waktunya.

Baca juga: Wali Kota Sabang Ingin Cot Ba’u Jadi Destinasi Wisata Berbasis Budaya

Teungku Ahmad memandang ke arah pusara ayahnya yang mulai ditumbuhi rumput-rumput muda. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa sedang menunaikan salah satu harapan terbesar ayah yang dahulu begitu sering dipermalukannya. Dan kali ini, ia bertekad tidak akan mengingkari janji itu.

Suatu malam pernah seorang anak kecil bertanya kepada kakeknya. “Kakek, benarkah Teungku Ahmad dulu sangat nakal?”

Lelaki tua itu tersenyum. Menatap ke arah meunasah yang masih terang oleh lampu.

“Benar, cucuku.”

“Kalau begitu kenapa sekarang semua orang menghormatinya?”

Kakek itu diam sejenak. Lalu menjawab pelan, “Karena Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk berubah.”

"Dan kadang-kadang, orang yang paling jauh tersesat justru pulang dengan langkah yang paling sungguh-sungguh," lanjutnya kemudian.

Di kejauhan terdengar suara azan Isya mulai berkumandang. Lelaki tua itu terdiam beberapa saat, teringat kenangan dengan almarhum Utoh Raman, sahabat karibnya itu. Pandangannya melayang ke arah pusara Utoh Raman yang berada tidak jauh dari meunasah. 

Angin malam berembus perlahan. Dan entah mengapa, ia merasa Utoh Raman pasti telah beristirahat dengan tenang. Lelaki tua itu lalu bangkit perlahan ketika azan Isya memasuki bait terakhirnya.


Banda Aceh, 18 Juni 2026.

DAFTAR ISTILAH
Gampong : Desa atau kampung dalam masyarakat Aceh.
Geuchik : Kepala desa dalam sistem pemerintahan gampong di Aceh.
Kuah Beulangong : Masakan berkuah khas Aceh yang dimasak dalam kuali atau belanga besar untuk kenduri dan acara adat.
Meunasah : Surau atau pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat Aceh.
RBT (Rakyat Banting Tulang) : Sebutan masyarakat Aceh pada masa lalu untuk jasa angkutan sepeda motor berbayar, mirip ojek saat ini.
Rumoh Aceh : Rumah adat tradisional masyarakat Aceh.
Teungku Imum : Pemimpin ibadah atau tokoh agama di tingkat gampong.
Utoh : Sebutan untuk tukang atau ahli pertukangan kayu.

 

Biodata Penulis:

Muhammad Yusuf Bombang (Apa Kaoy) adalah seniman dan budayawan Aceh yang aktif dalam bidang teater, sastra, dan pelestarian seni tradisi Aceh. Ia telah menerbitkan buku Hikayat Cangguek Pong Pajoh Kapai (2022) dan karya-karyanya banyak mengangkat kehidupan masyarakat serta kebudayaan Aceh. Saat ini menetap di Banda Aceh.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.