SERAMBINEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyiapkan tekanan ekonomi yang jauh lebih keras terhadap Iran.
Washington tidak hanya mengandalkan sanksi konvensional, tetapi juga mempertimbangkan berbagai langkah untuk memutus sumber pendapatan Teheran, mulai dari memburu perusahaan penghindar sanksi hingga menekan kilang minyak independen China.
Rencana tersebut muncul setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan Washington akan mengambil tindakan yang disebutnya sebagai langkah ekonomi "belum pernah terjadi sebelumnya" terhadap Iran dalam waktu dekat.
Trump bahkan menjanjikan pukulan telak terhadap perekonomian Iran.
Langkah itu menjadi bagian dari strategi Washington setelah berbulan-bulan konflik antara AS, Israel, dan Iran. Salah satu titik paling krusial dalam tekanan tersebut adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi pintu utama perdagangan minyak dunia.
Iran sebelumnya mengancam akan menyerang kapal tanker minyak yang mencoba melewati jalur tersebut tanpa izin.
Di sisi lain, Amerika Serikat telah memperketat tekanan terhadap sektor maritim, energi, dan keuangan Iran.
Data Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC) Departemen Keuangan AS menunjukkan Washington telah menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari seribu individu, kapal, dan pesawat sejak Trump kembali menjabat.
Baca juga: Iran Hancurkan Pusat Logistik Utama Amerika di Kawasan Teluk, Menteri Perang Bungkam
Sasaran terbaru termasuk armada bayangan Iran, perusahaan asuransi pelayaran, individu dan entitas yang membantu Teheran memperoleh senjata, serta jaringan keuangan yang digunakan untuk menghindari sanksi.
Namun, Washington kini disebut tengah menyiapkan sejumlah opsi tambahan.
Salah satu sasaran utama adalah kilang minyak independen China yang dikenal dengan istilah "teapot refinery" atau kilang "teko".
Kilang-kilang tersebut menyumbang sekitar seperempat kapasitas penyulingan minyak China. Sebagian besar beroperasi dengan margin keuntungan tipis, tetapi tetap menjadi pemain penting dalam perdagangan minyak Iran.
Data Kepler Analytics menunjukkan China membeli lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran pada 2025. Kilang independen menjadi salah satu pembeli utama minyak tersebut.
Karena itu, menjatuhkan sanksi sekunder terhadap kilang-kilang tersebut berpotensi mengganggu salah satu jalur utama yang digunakan Iran untuk menjual minyaknya.
Sanksi AS sebelumnya memang membuat sebagian kilang independen China enggan membeli minyak Iran. Namun, sejumlah analis menilai perusahaan-perusahaan tersebut relatif lebih kebal karena tidak terlalu bergantung pada sistem keuangan Amerika Serikat.
Jika Washington benar-benar memperluas sanksi terhadap mereka, risiko benturan dengan Beijing pun semakin besar.
Selain kilang minyak, bank-bank China juga berpotensi menjadi sasaran berikutnya.
OFAC sebelumnya telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah entitas kecil di China dan Hong Kong yang dituduh terlibat dalam transaksi bernilai miliaran dolar terkait minyak Iran dan pembelian senjata.
Departemen Keuangan AS bahkan telah memperingatkan dua bank besar China mengenai kemungkinan sanksi sekunder jika dana Iran ditemukan mengalir melalui sistem mereka.
Nama kedua bank tersebut belum diumumkan.
Menargetkan bank besar China, menurut para ahli sanksi, dapat memberikan dampak jauh lebih besar terhadap Iran. Namun langkah itu juga berisiko memicu pembalasan Beijing.
Washington sendiri tengah berusaha menjaga hubungan dengan China menjelang rencana pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping akhir tahun ini.
Salah satu kekhawatiran Amerika adalah kemungkinan China membatasi ekspor mineral penting yang dibutuhkan industri teknologi tinggi AS dan negara-negara Barat.
Tekanan terhadap Iran juga dapat dilakukan dengan pendekatan yang oleh para ahli disebut sebagai strategi "mole striking" atau "pukul tahi lalat".
Istilah itu merujuk pada upaya Amerika memburu satu per satu individu dan perusahaan yang membantu Iran menghindari sanksi.
Begitu sebuah perusahaan dijatuhi sanksi, Iran disebut dapat membuat perusahaan baru untuk menggantikannya.
Brett Erickson, direktur Obsidian Risk Advisors, menilai pendekatan tersebut seperti permainan "pukul tahi lalat". Amerika memukul satu entitas, tetapi entitas baru kemudian muncul di tempat lain.
Dengan kata lain, sanksi tidak serta-merta mengubah perilaku Iran.
Pemerintah Trump diperkirakan dapat memperluas daftar sasaran ke perusahaan pelayaran, pembeli minyak, operator penukaran mata uang, hingga perusahaan penerbangan yang membantu Iran mempertahankan jalur perdagangan dan pembayaran internasional.
Washington dan Israel juga disebut mempertimbangkan opsi yang jauh lebih sulit: blokade darat terhadap Iran.
Langkah tersebut secara teori akan melibatkan negara-negara yang berbatasan dengan Iran, yakni Irak, Turki, Pakistan, Afghanistan, Turkmenistan, Azerbaijan, dan Armenia.
Tujuannya adalah mempersempit akses Iran terhadap impor makanan, energi, tekstil, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Namun, penerapannya sangat rumit.
Sebagian besar perbatasan Iran berada di kawasan pegunungan dan memiliki medan yang sulit dipantau. Selain itu, keberhasilan blokade darat sangat bergantung pada kesediaan negara-negara tetangga Iran untuk bekerja sama.
Para ahli juga memperingatkan bahwa tekanan semacam itu belum tentu menghasilkan pemberontakan atau perubahan politik di dalam negeri Iran.
Sebaliknya, dampak terbesarnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat sipil.
Trump juga memiliki opsi lain berupa tarif atau bea masuk terhadap negara-negara yang tetap melakukan perdagangan dengan Iran.
Presiden AS sebelumnya berulang kali mengancam akan mengenakan tarif terhadap barang dari negara-negara yang membantu Iran.
Beberapa hari lalu, Senat AS menyetujui rancangan undang-undang yang antara lain membuka ruang bagi pemberlakuan sanksi baru terhadap Iran dan Rusia.
Jika aturan tersebut akhirnya disahkan, Trump dapat memperoleh instrumen tambahan untuk menekan negara-negara yang membantu Iran dalam perdagangan maupun pembelian senjata.
Namun, rancangan itu masih harus melewati Dewan Perwakilan Rakyat AS dan menghadapi perdebatan politik mengenai penggunaan tarif sebagai alat tekanan ekonomi.
Dengan berbagai opsi tersebut, strategi Washington terhadap Iran tampaknya tidak lagi hanya berfokus pada satu sektor.
Minyak menjadi sasaran utama karena merupakan sumber pendapatan penting bagi Teheran. Jalur pelayaran dibatasi melalui tekanan terhadap Selat Hormuz. Perusahaan dan individu yang membantu Iran menghindari sanksi diburu satu per satu.
Kini, jaringan kilang minyak dan lembaga keuangan China juga mulai masuk dalam radar Washington.
Bagi Iran, persoalannya bukan sekadar menghadapi satu paket sanksi baru. Teheran menghadapi tekanan berlapis yang menyasar jalur minyak, perbankan, pelayaran, perdagangan, hingga akses impor.
Namun strategi itu juga membawa risiko bagi Amerika Serikat.
Semakin jauh Washington menekan China, semakin besar kemungkinan konflik ekonomi dengan Beijing ikut melebar.
Pada akhirnya, pertarungan ekonomi AS-Iran tidak hanya menentukan seberapa lama Teheran mampu mempertahankan ekonominya di bawah tekanan, tetapi juga seberapa jauh Washington berani memperluas perang sanksi tanpa memicu konflik baru dengan negara-negara yang masih menjadi mitra dagang Iran.(*)