Gelombang Tinggi di Padang, Tangkapan Nelayan Merosot hingga 60 Persen
Arif Ramanda Kurnia August 23, 2026 06:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG- Sejumlah nelayan mengaku hasil tangkapan berkurang hingga 60 persen saat terjadi gelombang tinggi di lautan.

Dampak dari gelombang tinggi, tak hanya membuat nelayan mengurangi waktu melaut untuk menangkap ikan, namun juga mengurangi hasil tangkapan.

Salah satu nelayan, Jumadi Awalludin, menyebut hasil tangkapannya saat melaut berkurang hampir 60 persen dari pada hari biasa.

"Hasil tangkapan jauh berkurang saat gelombang tinggi ini, bisa mencapai 60 persen," kata dia, Minggu (23/8/2026).

Baca juga: Nilmaizar Didesak Mundur Usai Hasil Uji Coba, Manajemen Minta Suporter Bersabar

Kata dia, berkurangnya tangkapan saat gelombang tinggi lantaran ikan banyak berkeliaran ke bagian dasar laut.

Sedangkan jaring yang digunakan nelayan jangkauannya terbatas, sehingga menyulitkan mendapatkan hasil maksimal.

"Berbeda dengan cuaca bagus, ikan kan biasanya memang suka di air yang tenang, kalau gelombang tinggi banyak lari ke dasar," pungkasnya.

Sama halnya, Irvan, juga mengaku hasil tangkapan nelayan berkurang sangat signifikan saat gelombang tinggi di lautan.

Meski begitu, ia tetap bersyukur masih bisa membawa pulang hasil tangkapan dari pada tidak sama sekali.

"Memang jauh berkurangnya, tapi masih untung dapat ikan, kalau tidak dapat tentu rugi, sudah habis bahan bakar dan tenaga ke sana," jelasnya.

Baca juga: Jadwal Perdana Semen Padang FC di Liga 2: Tantang Persiraja Banda Aceh 13 September 2026

Ia berharap, gelombang tinggi akibat cuaca buruk dapat berlalu, sehingga nelayan kembali melaut dengan tenang.

"Harapan saya sebagai nelayan tentu bisa cepat selesai gelombang tinggi ini, karena kalau tidak melaut, dari mana dapat uang," tambahnya.

Waktu Melaut Berkurang

Dampak gelombang tinggi, nelayan di Kampung Nelayan, Pantai Purus, Kota Padang harus mengurangi waktu penangkapan ikan di lautan.

Hal ini disampaikan oleh sejumlah nelayan yang TribunPadang.com temui di Kampung Nelayan, mereka tak bisa berada lama di tengah lautan saat terjadi gelombang tinggi.

Salah satu nelayan, Irvan Fendi mengatakan hanya bisa melaut sekitar dua jam dalam sehari, lalu kembali lagi ke daratan.

"Tadi tetap ke laut, dimulai pukul 07.00 sampai 09.00 WIB," kata dia saat bersantai menunggu masyarakat membeli ikannya, Minggu (23/8/2026).

Kata dia, saat berada di tengah lautan sekira pukul 08.00 WIB, badai kencang mulai terlihat, sehingga ia harus memutar arah kemudi ke tepi lautan.

Meski melaut dalam waktu singkat, bagi Irvan keselamatan lebih penting dari pada tangkapan ikan di lautan.

"Kita sebagai nelayan kan tahu tanda-tanda kalau gelombang mau tinggi, dimulai dari badai kencang, kalau sudah terjadi, langsung balik ke tepi," ujarnya.

Sama halnya, nelayan lainnya bernama Jumadi mengaku juga hanya bisa melaut tidak lebih dari tiga jam.

Meski potensi gelombang tinggi diperingatkan oleh BMKG, ia tetap melaut lantaran hanya itu mata pencaharian satu-satunya.

Akan tetapi, kehati-hatian saat bekerja tentu juga ia perhatikan, sebab masih ada keluarga yang menunggunya di rumah.

"Kalau kita tidak ke laut, bagaimana bisa mencari uang, ini usaha kita satu-satunya, tapi kita tetap waspada, kalau sudah badai di tengah laut, lebih baik balik saja. Apalagi keluarga sudah menunggu kita, berharap tangkapan banyak," sebutnya.

Menurutnya, waktu melaut memang lebih singkat dari pada cuaca normal. Pada biasanya, ia dapat melaut sekira empat jam.

Sedangkan saat cuaca buruk yang berpotensi gelombang tinggi, waktu maksimal melaut hanya sekira dua jam.

"Mau bagaimana lagi, kalau tetap dipaksakan nyawa kan melayang, lebih baik sebentar, tapi tetap ke laut kita selamat," tambahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.