Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
MALUKU TENGAH, TRIBUNAMBON.COM - Seminggu lebih warga Desa Wailulu, dan UPT SP2 (Unit Pelaksana Teknis Satuan Pemukiman 2) Waitihisa yang masuk wilayah administrasi Desa Horale, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Maluku, masih berjibaku dengan kebakaran hutan dan lahan.
Api dipadamkan, muncul lagi.
Dipadamkan lagi, kemudian kembali membakar kawasan kebun warga.
Sampai Minggu (23/8/2026), warga masih melakukan penjagaan secara mandiri.
Kepala Pemerintah Desa Wailulu, Muslim Tounussa, melalui sambungan telepon WhatsApp dengan Reporter TribunAmbon.com sekitar pukul 17.40 WIT pada Minggu (23/8/2026), mengungkapkan kebakaran telah terjadi sejak sebelum 17 Agustus 2026.
Namun, sampai kini penanganan di lapangan masih sangat bergantung pada tenaga warga.
Bahkan saat mengonfirmasi Kepala Pemerintah Desa, dirinya mengaku masih berada di kebun untuk memadamkan api.
"Beta masih di kebun untuk jaga jangan kebakaran ini," kata Muslim.
Menurut dia, masyarakat terbagi di sejumlah titik rawan untuk mengantisipasi api kembali menjalar.
Di antaranya kawasan Bukit Cinta dan Kali Sala.
Warga harus melakukan pemadaman dengan kemampuan seadanya.
Salah satu persoalan terbesar adalah ketersediaan air.
Lokasi sumber air disebut berjarak sekitar satu kilometer dari titik kebakaran.
Baca juga: Warga Desa Wailulu dan UPT SP2-Malteng Seminggu Padamkan Kebakaran, Harus Jalan 1 Kilo Ambil Air
Baca juga: Jadwal KM Sangiang 24 Agustus - 15 September 2026: Berlayar ke Ambon, Banda, Geser, Fak Fak
Warga harus mengambil air sendiri, bahkan ada yang membawa jeriken berisi sekitar 20 liter dengan cara dipikul.
"Tadi beta sama dari Polsek Pasane datang. Dong bilang kendala karena air yang jauh," ujarnya.
Kondisi itu membuat proses pemadaman tidak mudah.
Api yang telah berhasil dipadamkan kembali muncul di titik lainnya.
Muslim mengatakan kondisi kebakaran juga terjadi di kawasan UPT SP2 Negeri Horale.
Dengan demikian, dua wilayah ikut terdampak.
Walaupun tidak ada korban jiwa, kebun masyarakat sebagai penopang ekonomi mereka, hangus terbakar.
Ribuan tanaman produktif seperti cengkeh, kelapa dan cokelat terbakar.
Namun diakui, hingga kini ia belum dapat merampung data pasti mengenai jumlah tanaman yang rusak.
"Kalau mau hitung seluruhnya ribu karena ini hitung dua negeri," katanya.
Namun hingga kini, masih menjadi tanda tanya adalah penyebab kebakaran.
Muslim mengaku belum mengetahui dari mana api pertama kali muncul.