Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
MALUKU TENGAH, TRIBUNAMBON.COM - Melawan api dengan tangan kosong bukan perkara mudah.
Itulah yang dilakukan warga Desa Wailulu dan UPT SP2 (Unit Pelaksana Teknis Satuan Pemukiman 2) Waitihisa yang masuk wilayah administrasi Desa Horale, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Maluku, selama sepekan lebih terakhir.
Kebakaran hutan dan lahan yang melanda wilayah tersebut membuat warga harus turun langsung memadamkan api yang berulang kali muncul.
Masalahnya, bukan hanya kobaran api yang menjadi tantangan.
Sumber air juga berada jauh dari lokasi kebakaran menjadi tantangan terbesar.
Kepala Pemerintah Desa Wailulu, Muslim Tounussa, melalui sambungan telepon WhatsApp dengan Reporter TribunAmbon.com pada Minggu (23/8/2026), mengatakan warga harus menempuh jarak sekitar satu kilometer hanya untuk mengambil air.
Karena jarak begitu jauh, warga harus memikul beban air di jerigen menuju lokasi kebakaran hingga hingga 20 liter.
"Kendala memang dari air terlalu jauh, bisa sampai satu kilo. Padamkan ada yang bawa sampai 20 liter, dong pikul, jadi susah," kata Muslim.
Baca juga: BPS Maluku Catat 65 Persen Pekerja Maluku Masih Bergantung pada Sektor Informal
Baca juga: Seminggu Kebakaran di Desa Wailulu dan UPT SP2- Malteng, Api Belum Benar-benar Padam
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman berjalan berat.
Api yang sudah berhasil dipadamkan beberapa kali kembali muncul dan menjalar ke bagian lain.
Muslim menjelaskan, bahwa kobaran api itu telah ada sejak sebelum 17 Agustus 2026 kemarin, atau sebelum merayakan momentum hari kemerdekaan republik Indonesia.
Hingga Minggu saat ini sekitar pukul 17.40 WIT, warga masih melakukan penjagaan di sejumlah titik dan memadamkan api yang masih menyala.
"Beberapa kali sudah diatasi. Beta dengan masyarakat padamkan. Kita padamkan beberapa kali, habis itu terbakar lai (lagi), kita padamkan lai," ujarnya.
Saat ditelepon bahkan sore ini, diakui Kepala Pemerintah Desa Wailulu itu, dirinya masih berada di kawasan kebun untuk memastikan api tidak kembali membesar.
Warga dibagi ke beberapa lokasi, termasuk kawasan Bukit Cinta dan Kali Sala.
Walaupun tidak ada korban jiwa, tanaman produktif warga ikut menjadi korban.
Mulai dari kelapa, cokelat hingga cengkeh terbakar.
Jumlah kerugian secara keseluruhan belum dapat dihitung.
Namun, Muslim memperkirakan jika kerusakan di dua wilayah dihitung bersama, jumlah tanaman yang terbakar mencapai ribuan.
"Kalau mau hitung seluruhnya ribu karena ini hitung dua negeri," katanya.
Hingga kini, belum diketahui penyebab kebakaran itu. (*)