Ketua PCNU Kulon Progo Buka-bukaan Jelang Muktamar ke-35 NU, Bicara Soal Sosok yang Layak Pimpin NU
Muhammad Fatoni August 23, 2026 10:03 PM

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) akan berlangsung pada akhir Agustus 2026 nanti di Jombang, Jawa Timur.

Tahun ini menjadi penanda 100 tahun alias 1 abad kiprah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini.

Agenda utama dari Muktamar nanti adalah pemilihan Ketua Umum atau Tanfidziyah yang baru.

Kader NU dari seluruh Indonesia akan berkumpul di Jombang untuk menentukan pemimpin baru mereka.

Ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kulon Progo, Luqman Arifin Fathul Huda, pun membeberkan proses pemilihan ketua baru hingga persiapan menuju Muktamar.

Ia mengungkapkan Pengurus Besar NU (PBNU) telah melayangkan SK (Surat Keputusan) terkait daftar peserta Muktamar yang akan jadi pemilih.

"Jadi setiap PCNU, PCINU (Pengurus Cabang Istimewa NU), dan PWNU (Pengurus Wilayah NU) masingmasing memiliki 1 suara, sehingga total akan ada 536 suara di Muktamar," kata Gus Luqman, panggilan akrabnya saat ditemui di Kantor PCNU Kulon Progo, Sabtu (22/08/2026).

Ia mengungkapkan bahwa sempat ada kendala dalam pemberian SK dari PBNU, yang menyebabkan pemberian ke PCNU, PCINU dan PWNU di daerah menjadi tersendat. Namun kendala itu kini sudah terurai.

Gus Luqman memaparkan bahwa proses pemilihan Ketua Umum PBNU mengacu pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

Setelah menentukan jumlah suara dari NU di daerah, proses penjaringan calon lalu dilakukan.

12 Kandidat

Mengacu pada informasi di media massa, ia menyebut ada lebih dari 12 kandidat untuk menjadi Ketua Umum PBNU yang baru.

Jumlah ini termasuk luar biasa banyak.

"Bisa dikatakan dalam Muktamar kali ini paling banyak kandidatnya," ujar Gus Luqman.

Ia mengungkapkan bahwa sekitar 6 hingga 7 kandidat sudah melakukan pendekatan ke daerah, termasuk DIY.

Para kandidat ini ada yang merupakan orang internal NU, namun ada juga nama baru yang muncul di bursa calon.

Meski begitu, Gus Luqman mengatakan tidak ada mobilisasi massa NU untuk mendukung kandidat tertentu.

Sebab sesuai aturan, tiap PCNU hanya punya 1 suara untuk memilih kandidat terkuat.

"Makanya dari beberapa kandidat yang muncul ke PWNU DIY, kami sampaikan dalam rapat pengurus di PCNU, lalu membuat sistem scoring terhadap 6 kandidat yang sudah datang," jelasnya.

Baca juga: PCNU Sleman Berharap Muktamar ke-35 NU di Jombang Bebas Intervensi 

Menurut Gus Luqman, dari sistem scoring ini akan dijabarkan secara detail seperti apa rekam jejak, visi, serta sepak terjang masing-masing kandidat di NU.

Lewat sistem inilah pihaknya bisa memiliki gambaran kandidat yang tepat untuk memimpin PBNU disertai alternatifnya.

Secara administratif, untuk menjadi Ketua Umum PBNU harus merupakan kader NU dan pernah menduduki jabatan.

Selain itu kandidat harus telah menjalani pendidikan kader menengah NU, dibuktikan dengan sertifikat.

Sosok Pemimpin 

Meski demikian, PCNU Kulon Progo memiliki pandangan sendiri terkait kandidat yang layak untuk memimpin NU ke depan.

Sosoknya harus mampu menghadapi tantangan ke depan dengan adanya regenerasi, namun tetap mempertahankan nilai-nilai dan prinsip NU.

"Rentang atau spektrum yang harus ditangani NU sangat lebar sekali, sehingga rumusannya harus jelas, dan sosok yang ideal adalah sosok yang benar-benar paham dengan NU," kata Gus Luqman.

Ia pun mengaku sudah mendapatkan undangan untuk menghadiri Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur pada 27—31 Agustus nanti.

Setiap pengurus mengirimkan 4 orang, yang mana persiapan dari PCNU Kulon Progo dipastikan sudah matang.

Gus Luqman berharap pemilihan Ketua Umum yang baru dalam Muktamar ke-35 ini berjalan sejuk, damai, penuh akhlak, dan tetap mempertahankan prinsip bahwa marwah NU harus tetap dijaga.

"Kami tidak berpikir masalah kontestasi yang keras karena itu menjadi hak tiap calon, tapi harapan kami bahwa suksesi yang baru bisa meneruskan keteladanan para ulama pendiri NU," jelasnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.