TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Demi menyelamatkan lembaran dokumen masa depannya, Muhammad Ali (20) nekat bertaruh nyawa menerobos kobaran api yang membakar rumahnya di RT 5 Kelurahan Karang Balik, Tarakan Barat, Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) Sabtu (22/8/2026).
Aksi nekat tersebut hampir merenggut nyawanya saat ia terjebak di dalam kamar yang dipenuhi asap tebal.
Musibah itu terjadi sekitar pukul 15.00 WITA. Ali, yang baru saja pulang dari Polres Tarakan usai mengurus laporan kasus pencurian yang menyalroni rumahnya sehari sebelumnya, tengah beristirahat.
Saat hendak terlelap, ia mendengar keributan dari rumah tetangganya yang berdempetan.
"Nggak lama saya istirahat, saya ada dengar orang kayak ada buang barang atau pokoknya ribut di rumah yang ini. Kayak lompat atau apa gitu, saya kurang tahu juga," ujar Ali kepada TribunKaltara.com, Minggu (23/8/2026).
Begitu keluar, Ali melihat kobaran api sudah membesar dan menyambar cepat akibat hembusan angin kencang serta material bangunan yang mayoritas terbuat dari kayu.
"Nggak sampai 2 menit terbakar semua di situ karena tadi pas angin-angin juga," katanya.
Baca juga: 2 Rumah Hangus di Karang Balik Tarakan, 35 Petugas Berjibaku Padamkan Kebakaran
Melihat rumahnya ikut dilalap si jago merah, pikiran Ali langsung tertuju pada dokumen paling krusial, ijazah.
Tanpa memikirkan keselamatan diri, ia berlari naik ke kamar lantai atas yang saat itu sudah mulai dikepung asap dan api.
Di tengah kepanikan hebat, pintu kamar tempatnya mencari ijazah mendadak tertutup rapat, mengurungnya di dalam ruangan yang kian membara.
"Tadi mau ambil ijazah, bodohnya saya, sudah terbakar kamar, tertutup pintu. Pintu kamarku tuh kubuka, kubanting karena panik, masuk cari-cari ijazah, eh tertutup tuh pintu," tuturnya menceritakan detik-detik mencekam tersebut.
Ali mengaku berjibaku dengan waktu agar tidak terhirup asap pekat yang dapat membuatnya pingsan di dalam kamar.
"Saya hampir tewas terbakar di dalam. Memang asap belum tebal, kalau nggak, bisa tewas terbakar saya di dalam kamar itu," ungkapnya penuh haru.
Beruntung, Ali berhasil membanting kembali pintu tersebut dan keluar membawa ijazahnya dengan selamat, meski sertifikat penting lainnya tak sempat diselamatkan.
Perjuangan Ali menyelamatkan ijazah menjadi salah satu cerita haru di tengah duka mendalam yang menimpa keluarganya.
Sang ayah, Doni Hafiana, harus merelakan rumah hasil jerih payah menabung selama puluhan tahun ludes tak bersisa.
Apesnya lagi, musibah kebakaran ini terjadi hanya beberapa jam setelah rumah mereka kemalingan.
"Kemarin malam kami kemalingan. Kemarin rumah dimasuki maling, kebobolan maling. Tadi saya posisinya dari Polres karena ngelapor itu. Ngelapor itu, saya dari Polres pulang, istirahat sebentar, eh ini bencana datang," keluh Doni.
Saat kebakaran terjadi, Doni sedang keluar mengisi bahan bakar. Ia hanya bisa terperangah ketika kembali dan menyaksikan tempat tinggalnya sudah berubah menjadi puing-puing.
"Saya pulang dari isi bensin, sampai di simpang saya lihat rumah ini sudah menyala. Barang-barang di dalam nggak ada yang keluar. Pokoknya nggak ada pakaian yang kita pakai. Hanya pakaian di badan, pakaian ini aja," kata Doni.
Kebakaran yang diduga dipicu korsleting listrik dari rumah warga, turut menghanguskan seluruh isi rumah.
Kerugian material yang dialami keluarga Doni diperkirakan mencapai Rp400 juta.
(*)
Penulis: Andi Pausiah