Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Aris Ninu
TRIBUNFLORES.COM,MAUMERE-Di tenda darurat RSUD Dr.TC.Hillers Maumere di Jalan Wairklau Maumere, Sikka, NTT ada deretan pasien yang sedang menjalani perawatan karena sakit dan jadi korban gempa Flores, Sabtu, 15 Agustus 2026 pagi.
Di antara pasien yang ada di tenda itu ada seorang pria berkulit hitam sedang terbaring lemah dengan mengenakan baju yuken hitam.
Pria itu bernama Libertus Moy asal Desa Nitung Lea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka.Libertus adalah salah satu korban gempa Flores yang sedang menjalani perawatan di RSUD Maumere.
Ia mengalami luka pada bagian mulutnya. Sore itu, Minggu, 23 Agustus 2026, Libertus dijaga ayahnya, Rudolfus Rugi.
Baca juga: Posko Darurat Unika Ruteng Dampingi Mahasiswa Korban Gempa, Bantuan Alat Bantu Perkuat Pemulihan
Kepada TRIBUNFLORES.COM di tenda darurat persis di ruangan IGD RSUD Maumere, Libertus yang baru mendapat kunjungan dari Uskup Maumere, Mgr.Ewaldus Martinus Sedu berkisah tentang apa yang ia rasakan dan alami saat gempa Flores.
“Pagi itu saat goyang saya masih tidur. Saya baru terlambat. Saya bangun karena panik dan takut saya tidak lihat ada material rumah yang sudah roboh. Begitu saya keluar pintu material itu langsung kena di wajah saya. Saya lalu bangun dan lari keluar rumah. Saya lalu berdiri di rumah. Saya lalu jatuh ke tanah karena wajah saya berdarah,” kata Libertus yang saat gempa Flores sedang berada di rumahnya di Mususaki, Kecamatan Wewaria Ende.
Begitu jatuh ke tanah dan tidak sadar diri, keluarga dan warga lalu mengevakuasinya ke Puskesmas Mususaki di Ende.
“Saya sempat dirawat setelah gempa di puskesmas di Wewaria lalu pada Sabtu, 22 Agustus 2026 saya dibawah ke RSUD Maumere. Sekarang saya sudah agak pulih dan masih perlu perawatan biar lukanya kering,” ujar Libertus.
Ia mengungkapkan,kepanikan dan rasa takut masih terus membayangi dirinya.
“Kejadiannya sangat cepat, rumah paman saya rusak untuk saya cepat bangun saat rasa ada guncangan keras,” ujarnya.
Ia menuturkan, sebelum gempa ia pergi ke Wewaria untuk berlibur di rumah pamannya.
“Saya ke Wewaria karena mau lihat paman, adik kandung dari bapak saya. Saat di Wewaria itu baru saya terkena musibah karena gempa,” paparnya.
Sore itu, Libertus sudah berbicara. Bagian mulutnya luka karena terkena material rumah.
Sehabis diberkati Uskup Maumere yang datang memberkati semua pasien korban gempa Flores, Libertus dipindah ke ruangan untuk menjalani perawatan.
Pantauan TRIBUNFLORES.COM di RSUD Maumere, sore itu, ada pasien korban gempa dan pasien yang sakit menjalani perawatan di tenda.
Tenda itu dibangun karena saat gempa pasien dan keluarga serta nakes taku tertimpah bangunan rumah sakit.
Apalagi pascagempa, RSUD Maumere mengalami kerusakan sehingga pelayanan kesehatan bagi pasien dilayani menggunakan tenda.
Ketika gempa, semua pasien pun diungsikan keluar ruangan pelayanan dan dibangun tenda agar para pasien tetap dirawat.
Pascagempa pun korban luka berat dan ringan pun dilarikan ke RSUD Maumere guna mendapatkan pelayanan.