Derita Korban Banjir di Sukabumi: Terpaksa Cicil Tanah Relokasi, Janji Bantuan KDM Tak Kunjung Tiba
Kemal Setia Permana August 24, 2026 08:47 AM

Laporan Kontributor Tribunjabar.id M RIzal Jalaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Belasan keluarga korban bencana banjir bandang di Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memilih untuk mengambil langkah mandiri.

Sebanyak 37 Kepala Keluarga (KK) sepakat menyisihkan uang pribadi untuk membeli lahan relokasi secara swadaya.

Hal ini dilakukan karena mereka tak kunjung mendapatkan perhatian dan bantuan dari pemerintah.

Padahal sebelumnya, mereka sempat mendapatkan janji dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, setelah bencana banjir yang melanda wilayah Kampung Babakan Cisarua, Cipanas, Cikadaka, hingga Ciseupan pada Desember 2025.

Setelah proses verifikasi dan validasi oleh DPMD Provinsi Jawa Barat terhadap 46 KK korban terdampak, dana bantuan sewa rumah atau biaya kontrakan sebesar Rp10 juta yang sempat dijanjikan saat itu oleh KDM tak kunjung ada kabar kejelasannya.

Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) Desa Cidadap, Ruyatman, menceritakan ketidakpastian bantuan tersebut yang memaksa warga bertindak cepat.

"Setelah diverifikasi dan divalidasi oleh DPMD Provinsi yang jumlahnya 46 KK itu, kabar itu hilang. Maksudnya hilangnya itu bantuannya belum kunjung tiba juga,"  

"Jadi masyarakat yang kena musibah ini nggk mungkin tinggal atau diam terus di rumah saudara atau di saung kebun. Mereka merasa tidak nyaman, hingga akhirnya secara mandiri inisiatif beli tanah di sini," kata Ruyatman kepada Tribunjabar.id ditemui di lokasi tanah yang dicicil warga, Minggu (23/8/2026).

​Menabung Empat Bulan demi Lahan Relokasi

​Ketua RT 02/RW 15 Kampung Babakan Cisarua, Heri, mengungkapkan bahwa proses negosiasi hingga pembayaran tanah berjalan secara transparan dan penuh perjuangan.

"Warga karena lama nunggu-nunggu pemberian dari pemerintah, ya alhamdulillah saya sama Pak Yatman (Puskesos) ngumpulin warga di sini. Saya nanya ke yang punya tanah, 'Pak ini ada bencana, tolong tempatnya dijual enggak?' Dijual per meternya Rp35 ribu," ucap Heri.

Alhasil, masyarakat pun memilih membeli tanah tersebut. Namun, mereka tidak langsung melunasi pembayaran, melainkan dengan cara mencicil berbulan-bulan sampai mereka melunasi pembayaran pembelian tanah untuk relokasi tersebut, tanpa bantuan sepeser pun dari pemerintah.

"Tapi buat pembayarannya nyicil aja yang penting lunas nyampe ke Lebaran Haji kemarin. Alhamdulillah ada yang setor Rp500 ribu, Rp200 ribu, ada yang Rp1 juta. Ujung-ujungnya nyampe lunas," kata Heri.

Sekitar 4 bulan, masyarakat mencicil pembayaran tanah tersebut. Satu keluarga ada yang membeli dengan luas 50 meter persegi hingga 100 meter persegi.

Terkendala Alat Berat untuk Buka Lahan

Meski kini seluruh pembayaran tanah telah lunas dan bebas dari sengketa, perjuangan warga Babakan Cisarua beserta kampung sekitarnya seperti Cikadaka dan Sawah Tengah belum sepenuhnya usai. 

Warga kini membentur dinding kendala baru dalam proses pematangan lahan. Bantuan alat berat dari pemerintah pun tak kunjung tiba untuk proses pembebasan lahan.

Pantauan Tribunjabar.id, tanah yang dibeli warga tersebut ditumbuhin sejumlah jenis pohon, mulai dari pohon pisang hingga karet, dengan kondisi tanah tebing.

"Sekarang alhamdulillah tanahnya sudah dibeli, cuman ada kendala. Kendalanya masyarakat ingin dibantu untuk pembukaan lahan buat pemukiman itu," tambah Puskesos, Ruyatman.

​Saat ini, lokasi pemukiman baru tersebut masih berupa lahan mentah. Korban bencana sangat mengharapkan ulur tangan pemerintah maupun dermawan untuk membantu penyediaan alat berat guna pembukaan dan pemerataan lahan.

Langkah ini mendesak dilakukan agar warga dapat segera membangun fondasi rumah sebelum musim penghujan kembali datang. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.