TRIBUN-TIMUR.COM - Isu pernikahan anak menjadi perhatian dalam pertunjukan monolog dan diskusi bertajuk Lika-Liku Menjadi Ibu dan Anak yang digelar di Gedung Serbaguna, Pulau Lae-Lae, Senin (24/8/2026).
Kegiatan ini menggunakan seni pertunjukan sebagai ruang untuk membicarakan pengalaman perempuan, terutama terkait pernikahan usia anak, tekanan sosial, serta persoalan yang dapat membatasi hak dan pilihan anak perempuan.
Fenomena pernikahan anak bukan sekadar cerita, ia adalah persoalan struktural yang luas di Indonesia.
Berdasarkan laman resmi The Child Marriage Data Portal, sekitar 16 persen perempuan Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun, angka ini menunjukkan bahwa praktik pernikahan anak masih menjadi persoalan nasional meskipun telah menurun dalam beberapa dekade terakhir.
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik, hampir 30 persen perempuan menikah sebelum usia 19 tahun di Sulawesi Selatan. Angka-angka tersebut bukan cuma statistik di atas kertas.
Di Pulau Lae-Lae, tekanan ekonomi, rendahnya akses pendidikan, dan budaya patriarki membuat angka pernikahan usia muda ini jadi realitas nyata yang menjebak masa depan anak perempuan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu latar yang mendorong hadirnya proyek Lika-Liku Menjadi Ibu dan Anak. Karya ini mencoba melihat persoalan pernikahan anak tidak hanya sebagai persoalan individu, tetapi juga berkaitan dengan kondisi sosial, ekonomi, akses pendidikan, serta budaya yang memengaruhi kehidupan perempuan.
Inisiator sekaligus aktor, Fatmawati Hamzading, mengatakan Lika-Liku Menjadi Ibu dan Anak merupakan pertunjukan teater monolog yang menghadirkan suara perempuan muda melalui tubuh seorang aktor.
Monolog tersebut disusun dalam fragmen-fragmen kesaksian yang berbasis pada pengalaman perempuan di Pulau Lae-Lae. Pendekatan itu digunakan untuk menghadirkan pengalaman perempuan dalam bentuk narasi artistik yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Melalui pendekatan artistik dan partisipatif, Sukarno Hatta selaku manajer produksi mengatakan proyek Lika-Liku Menjadi Ibu dan Anak berupaya memperkuat suara dan narasi perempuan melalui seni pertunjukan, sebagai upaya melawan dominasi narasi arus utama yang sering mengabaikan pengalaman ketubuhan mereka.
Melalui proyek ini, Lika-Liku Menjadi Ibu dan Anak mengajak masyarakat melihat kembali persoalan pernikahan anak serta pentingnya hak, pendidikan, dan otonomi anak perempuan dalam menentukan masa depannya.
Proyek Lika-Liku Menjadi Ibu dan Anak merupakan co-production Kala Teater dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan LPDP.(*)